Oase Saat Daring Mulai Garing


Kamis, 29 Oktober 2020 - 13:24:30 WIB
Oase Saat Daring Mulai Garing Dede Erlina

Begitu banyak dilema dan problem yang muncul selama kita dipaksa untuk melakukan pembelajaran secara daring. Lebih kurang sudah tujuh bulan lamanya para guru, siswa, dan orang tua berkolaborasi agar Corona ini tidak mengganggu keberlangsungan pendidikan para anak bangsa. Pastinya bukan hal yang mudah memindahkan proses pembelajaran dari ruang kelas ke kamar para siswa di rumah

Oleh. Dede Erlina, S.Pd (Guru SMPN 3 Kota Solok)

HARIANHALUAN.COM -  Ada begitu banyak kendala yang harus dihadapi seperti akses internet, ketidakmampuan orang tua untuk menyediakan sarana belajar daring seperti android dan paket data, ketersediaan waktu para orang tua untuk mendampingi siswanya saat belajar, dan juga ketidakmampuan guru untuk membuat pembelajaran daring yang efektif.

Sekolah pun sebagai sebuah penyelenggara pendidikan harus jeli dan cermat menyusun program belajar daring dan harus sering melakukan evaluasi terhadap proses yang sudah berjalan. Intinya sekolah memastikan semua peserta didik mendapatkan hak yang sama untuk belajar dan memberikan solusi untuk peserta didik yang mengalami kendala saat PBM selama masa pandemik covid 19 ini. Untuk peserta didik yang tidak mempunyai akses internet atau sarana belajar daring, maka sekolah memberikan alternatif pembelajaran secara luring. Sementara itu untuk tetap menjaga agar para peserta didik tetap bermotivasi dalam mengikuti PBM daring, maka guru harus menyiasati dengan mencari teknik dan metode pembelajaran yang bervariasi, menarik, dan yang paling penting tidak memberatkan peserta didik.

Akan tetapi, pada kenyataannya semakin ke sini minat peserta didik untuk mengikuti PBM semakin menurun. Ada peserta didik yang hanya hadir untuk mengambil absen saja lalu melanjutkan tidurnya. Ada peserta didik yang bahkan tidak membuka atau melihat file materi yang diberikan oleh gurunya di classroom atau WAG. Ada guru yang merasa frustasi saat memulai PBM tepat waktu ternyata yang hadir hanya satu atau dua orang. Bagaimana guru akan menagih tugas kepada peserta didik sedangkan untuk bangun di pagi hari saja mereka enggan.

Masih banyak cerita pilu lainnya yang mungkin dirasakan atau dialami oleh para guru saat melaksanakan PBM secara daring. Bahkan yang paling menyedihkan saat guru sudah capek-capek mempersiapkan bahan ajar semenarik mungkin, bahkan ada yang sukarela mengikuti Diklat online untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola pembelajaran daring, ternyata respon peserta didik mengecewakan.

Tapi, ada dua peristiwa mengharukan yang kami alami di sekolah beberapa waktu belakangan. Di tengah keputusasaan menghadapi rendahnya minat belajar peserta didik kami merasa mendapatkan oase ketika ada beberapa peserta didik yang ternyata dibalik kesulitan yang mereka hadapi untuk tetap bisa ikut belajar daring mereka tetap mengumpulkan tugas atau tagihan yang diminta oleh guru mereka .

Salah seorang peserta didik kami yang tinggal di salah satu desa di kabupaten Sijunjung harus rela berpanas-panas di area persawahan hanya demi bisa mendapatkan sinyal agar bisa tetap ikut proses belajar dari kampung halamannya. Peserta didik yang lain, yang berasal dari Jambi, karena PBM daring dan tidak mungkin tetap tinggal di tempat kost, maka yang bersangkutan mengikuti proses pembelajaran dari Jambi saja. Yang membuat kami terharu, semua hardcopy tugas-tugas sekolahnya , tetap dikirimkan dengan cara dipaketkan ke sekolah.

Ini baru dua contoh peristiwa yang menunjukkan betapa masih ada anak-anak yang tetap semangat belajar ditengah segala keterbatasan yang mereka punya. Dan salut serta bangga untuk orang tua dari anak-anak yang punya semangat juang yang tinggi untuk tetap belajar. Semoga dua kisah ini bisa menginspirasi anak-lainnya yang masih banyak malas-malasan saat mengikuti proses belajar. Semoga juga kisah ini bisa memperkuat para orang tua untuk tetap semangat mendampingi, memotivasi,dan membimbing anak-anak mereka di rumah. Dan untuk kami para guru, semoga cerita ini bisa membuka mata hati kami untuk tetap ikhlas dan amanah dalam menjalankan profesi mulia ini. Tidak menutup kemungkinan anak-anak inilah nantinya yang akan merubah dunia ini, karena mereka sudah melalui proses yang tidak mudah untuk tetap belajar demi masa depan yang mereka impikan.

Terakhir, mari tetap berdoa agar wabah covid 19 ini segera pergi jauh dari negeri indah ini. Sebagus apapun rancangan pembelajaran daring yang kita buat, tetap tidak bisa menggantikan proses interaksi yang terjadi di dalam kelas nyata. Betapa tatapan mata penuh arti dan sentuhan seorang guru langsung kepada anak didiknya sangat menentukan kualitas sebuah proses pembelajaran. (*)

 Editor : Rahma Nurjana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]