Soal Kampanye Pilkada Sepi, Pengamat: Aktor Politik Kurang Pandai Melihat Peluang


Jumat, 30 Oktober 2020 - 12:02:09 WIB
Soal Kampanye Pilkada Sepi, Pengamat: Aktor Politik Kurang Pandai Melihat Peluang Pengamat Komunikasi dan Politik Universitas Andalas (Unand), Najmuddin M Rasul

HARIANHALUAN.COM - Proses pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumbar 2020 hingga saat ini masih adem ayem dan belum terasa gaungnya. Terkait anggapan masih sepinya pelaksanaan tahapan alek demokrasi itu, Pengamat Komunikasi dan Politik dari Universitas Andalas (Unand), Najmuddin M Rasul angkat bicara.

Najmuddin melihat setelah 1 (satu) bulan kampanye Pilkada ini berlangsung sepertinya masih biasa-bisanya. Belum menggambarkan kampanye Pilkada. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, apa yang membuat suasana kampanye pesta demokrasi itu kurang greget?.

"Saya mencoba melihat, pertama dulu apa penyebabnya. Saya ingin melihat, penyebab utama itu adalah aktor politik. Siapa aktor politik, ada dua kotak besar aktor politik, kotak sebelah kiri aktor pemerintah, KPU, Bawaslu, partai politik," sebut Najmuddin pada acara dialog detak Sumbar "Sepinya Kampanye dan Money Politics", dilansir dari Youtube Channel Padangtv, Jumat (30/10/2020).

Menurut Doktor Komunikasi Politik jebolan Universitas Kebangsaan ini, aktor-aktor politik memegang peranan penting dalam pelaksanaan kampanye. Jika dilihat dari sosialisasi KPU, masyarakat tampaknya kurang tertarik. Kemudian pengawasan Bawaslu.

"Terkait kampanye Pilkada tadi menyangkut balon, partai politik yang mengusungnya. Saya melihat mereka belum maksimal memanfaatkan waktu kampanye. Sehingga itu bukan seperti kampanye Pilkada, tetapi seperti sosialisasi biasa-biasa saja," ucap Najmuddin.

Penyebab kedua, kata Najmuddin, mesti ada aktor politik yang ikut meramaikan kampanye Pilkada ini. Berasal dari kotak sebelah kanan yang disebut dengan NJO, pressure group, termasuk media.

"Sekarang bagaimana aktor politik yang sebelah kiri bisa bersinergi dengan aktor sebelah kanan untuk bersama-sama mengkampanyekan bagaimana Pilkada ini pentingnya," ujar Najmuddin.

Kemudian, tambah Najmuddin, calon-calon terus bisa memanfaatkan hal tersebut untuk membuat strategi dengan mensosialisasikan terkait yang mereka inginkan sebagai seorang kepala daerah.

Lebih lanjut, kata Najmuddin, faktor ketiga dipengaruhi oleh Covid-19. Bagaimana aktor Pilkada bisa memanfaatkan Covid-19. Pada momentun Covid-19 tidak boleh mengadakan pertemuan rapat umum, jika pun ada harus dibatasi.

"Disini yang saya melihat kepiawaian tim politik, baik itu konsultan politik, termasuk aktor politik itu sendiri belum maksimal manfaatkan potensi yang ada ini. Artinya saat Covid-19 bisa kita manfaatkan media sosial, media mainstream, media online. Inilah yang kurang sehingga gregetnya kurang terasa di masyarakat," imbuh Najmuddin.

Najmuddin menlanjutkan, jika pun para calon ada kunjungan keluar daerah itu hanya sekedar sosialisasi. Tidak menampakan kampanye politik. Jika dilihat di media sosial, segmen konten-kontennya juga tidak beragam. Mereka harus bisa membedakan konten untuk pemilih anak muda milenial dan senior.

"Ini yang belum saya lihat sehingga memontum ini tidak dimanfaatkan oleh tim sukses termasuk aktor politik itu sendiri," tukasnya. (*)

Reporter : Milna Miana /  Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]