Syatria: Adat Istiadat dan Agama Lahirkan Kearifan Lokal


Jumat, 30 Oktober 2020 - 20:33:58 WIB
Syatria: Adat Istiadat dan Agama Lahirkan Kearifan Lokal PNP gelar kegiatan Semiloka “Implementasi Kurikulum Berkarakter Kearifan Lokal Berbasis Industri” di Hotel Grand Zuri Padang.

HARIANHALUAN.COM - Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Agam, Syatria mengatakan, kearifan lokal adalah seperangkat pengetahuan dan praktik-praktik baik yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalaman berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat lainnya milik suatu komunitas di suatu tempat, yang digunakan untuk menyelesaikan baik dan benar berbagai persoalan dan atau kesulitan yang dihadapi.

"Kearifan lokal berasal dari nilai-nilai adat istiadat, nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal yang secara alami terbentuk dalam suatu kelompok masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar," kata Syatria dalam Semiloka “Implementasi Kurikulum Berkarakter Kearifan Lokal Berbasis Industri” di Hotel Grand Zuri Padang, dilansir dari website PNP, Jumat (30/10/2020).

Syatria menyebutkan, Kabupaten Agam mempunyai potensi kepariwisataan yang cukup besar untuk dikembangkan, tidak hanya berupa objek wisata alam tapi juga wisata sejarah atau cagar budaya, seni budaya, wisata religi, dan wisata kuliner yang terjaga dari generasi ke generasi.

"Agam dinilai memiliki tradisi budaya yang masih kental, perpaduan antara adat dan agama yang banyak melahirkan tradisi bertajuk kearifan lokal masyarakat," jelas Syatria.

Menurut Syatria, hingga saat ini Kabupaten Agam tercatat memiliki 55 jenis wisata budaya. Sepuluh (10) Top Potensi Wisata Budaya di Kabupaten Agam adalah “Batagak Panghulu”, “Pulang Basamo”, “Makan Bajamba”, “Silek Sitaralak”, “Alat Musik Tambua Tasya dan Rabano”, “Kawasan Pusako Koto Gadang”, “Tradisi Barakik-rakik”, “Maelo Pukek”, “Masjid Bingkudu”, dan “Makam Tuanku Aluma”.

Syatria mencontohkan, “Batagak Pangulu” merupakan upacara adat Minangkabau dalam rangka meresmikan seseorang menjadi penghulu. Dalam hal ini pengangkatan atau peresmian penghulu tidak dapat dilakukan oleh keluarga yang bersangkutan saja. Peresmian haruslah berpedoman kepada petitih adat “maangkek rajo, sakato alam, maangkek penghulu sakato kaum”.

"Tata tertib meresmikan penghulu dimulai dari rapat atau mufakat kaum, kemudian dibawa kehalaman yang artinya dibawa masalahnya ke dalam kampung lalu diangkat ke tingkat suku dan akhirnya di bawa dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN). Orang yang berhak memasangkan “deta panghulu” (tutup kepala kebesaran penghulu) bagi penghulu yang baru diangkat ialah pucuk adat," terang Syatria. (*)

Reporter : Milna Miana /  Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]