Jahe Merah jadi Komoditas Seksi di Kala Pandemi bagi Warga di Sawahlunto


Jumat, 30 Oktober 2020 - 23:03:22 WIB
Jahe Merah jadi Komoditas Seksi di Kala Pandemi bagi Warga di Sawahlunto Salah satu pengembangan jahe merah di Kota Sawahlunto

HARIANHALUAN.COM – Jika tidak dijadikan untuk budidaya dalam skala besar, setidaknya komoditas yang satu ini ditanam untuk berjaga-jaga bagi keluarga. Khasiatnya dipercaya bisa mengusir demam virus corona.

Itulah jahe merah, komoditas pertanian yang mulai seksi di kala Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi. Alhasil, masyarakat mulai berlomba menanam sendiri, mulai dari polybag, pot, karung, hingga kebun dan ladang.

Tidak luput masyarakat di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat sendiri. Ada yang menanamnya di sudut rumah, di pinggir dapur, hingga halaman yang biasanya ditanami bunga.

Deri Metra (38) warga Kecamatan Barangin ini berinovasi dengan karung bekas beras, yang dimanfaatkannya menjadi sarana tanam untuk jahe merahnya. Setidaknya dalam 20 karung beras berukuran 10 kilogram kini mula tampak muncul tunas jahe merah.

Pria yang seharinya berprofesi sebagai pegawai negeri ini mengaku, menanam jahe merah hanya untuk konsumsi pribadi. “Untuk keluarga, jika butuh kita bisa ambil di halaman samping rumah,” ujarnya.

Sedikit berbeda dengan Deri Metra, masih di Kecamatan Barangin Sawahlunto, pria yang menyebut namanya Yal Malin Pandeka ini justru memanfaatkan sawahnya sebagai media tanam jahe merah.

Bahkan, dalam penanaman perdananya, Yal Malin Pandeka menghadirkan Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta. Hadir dengan memboyong Dinas Pertanian ‘Kota Arang’ Wali Kota Deri Asta memberikan semangat bagi Yal Malin Pandeka untuk terus bersemangat mengembangkan jahe merah di sela-sela kesibukannya sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’.

Lain Deri Metra dan Yal Malin Pandeka, lain pula dengan Masril, warga Desa Lumindai Kota Sawahlunto, yang fokus mengembangkan usaha budidaya jahe merah. Pria 50 tahun itu sudah tujuh bulan mengembangkan komoditas penghangat tubuh tersebut.

Setidaknya ada seribu rumpun jahe merah yang mulai menghijau di lahan perkebunannya di Guguak, Dusun Pasar Hilir, Desa Lumindai, yang beriklim sejuk karena berada di kawasan ketinggian.

Masril mengaku dengan hasil dari seribu rumpun jahe merah nantinya dapat memberikan peningkatan terhadap ekonominya. “Insha Allah dalam waktu dekat jahe merahnya akan panen,” ungkap Masril.

Minuman jahe merah memiliki kandungan vitamin C, magnesium, dan mineral tinggi. Banyaknya khasiat jahe merah, membuat harga jahe merah di musim pandemi Covid-19 melambung tinggi.

Setidaknya satu kilogram jahe merah belum diolah harga mencapai angka Rp100 ribu. Agaknya hal itu yang membuat banyak masyarakat yang berlomba untuk menanam jahe merah dengan memanfaatkan lahan yang ada.

Salah satu usaha kecil menengah di Kota Sawahlunto, yang melabeli produk jahe merahnya dengan brand ‘Sero’ menjual secara online, mampu mematok Rp30 ribu untuk satu saset jahe merah bubuk seberat 150 kilogram.

“Alhamdulillah, musim pandemi Covid-19 saat ini memberikan nilai ekonomi tersendiri bagi kami,” ungkap pengusaha yang merahasiakan identitasnya tersebut.(*)

Reporter : Fadilla Jusman /  Editor : Nova Anggraini

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]