Sepenggal Kisah Saat Bencana Air Bah di Solsel, Ada Dentuman Keras Saat Kejadian!


Sabtu, 31 Oktober 2020 - 11:49:36 WIB
Sepenggal Kisah Saat Bencana Air Bah di Solsel, Ada Dentuman Keras Saat Kejadian! Kondisi warung depan rumah milik Maasril diterjang air bah di Jorong Mudiak Lawe Timur, Nagari Sako Utara Pasir Talang. Jefli

HARIANHALUAN.COM - Matahari mulai tenggelam di ufuk barat diiringi suara adzan Maghrib berkumandang di langit Mudiak Lawe, Kecamatan Sungai Pagu kabupaten Solok Selatan (Solsel) senja Jumat (30/10/2020).

Cuaca saat itu berawan tidak ada hujan. Namun malang bagi pasangan suami istri Maasril (62) dan Febriyanti (49) warga Jorong Mudiak Lawe Timur, Nagari Sako Utara Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu. Warung miliknya yang menjual barang harian beserta gerobak yang berada di teras rumah dihondoh air bah Batang Mudiak Lawe yang datang secara mendadak.

Febriyanti mengatakan, rumahnya memang berada di pinggir Sungai Mudiak Lawe, saat kejadian terdengar dentuman keras sekitar pukul 18.20 WIB akibat terjangan arus air bah yang datang mendadak.

"Saya saat kejadian, tengah melaksanakan salat Maghrib di rumah yang baru dua rakaat sedangkan suami berada di Masjid. Lalu terdengar suara dentuman keras didepan rumah namun tetap menyelesaikan salat dengan perasaan sangat cemas," kata Febriyanti ditemui Harianhaluan.com, Sabtu (31/10/2020).

Selesai menunaikan ibadah Maghrib, Febriyanti bergegas melihat ke arah sumber bunyi dentuman. "Perasaan bercampur aduk seketika melihat warung dan gerobak serta teras rumah sudah runtuh dihanyutkan air bah. Beruntung sepeda motor yang terparkir disamping rumah berhasil diselamatkan anak dibantu warga," ucapnya.

Menurutnya, teras rumah yang terban dan dihanyutkan arus air bah berukuran panjang sekitar 4 meter serta lebar sekitar 10 meter. "Masih beruntung juga, rumah masih bisa dihuni akan tetapi bencana sewaktu-waktu bisa terulang kembali. Untuk itu, Kami berharap tebing sungai yang abrasi didepan pintu masuk untuk segera diperbaiki supaya tidak ads perasaan was-was dalam rumah," katanya.

Maasril menyebutkan, ia sehari-hari berprofesi sebagai tukang serabutan dan bertani. Dengan satu anak perempuan yang masih berkuliah. "Warung ini dibuat untuk menopang ekonomi juga, supaya istri bisa juga menghasilkan uang dirumah sambil berjualan. Warung ada sejak 2018," tuturnya.

Ia menaksir jumlah kerugian akibat bencana alam itu menelan angka kisaran Rp35 juta, dari Isi warung beserta teras rumah. "Kami berharap rumah bisa dibangun kembali dan bisa dipasang pengaman tebing sungai segera," harapnya.

Berbeda dengan rumah milik pasangan Rita Juwita (41) dan Nofrizal Putra (39) di Jorong Batang Lawe Timur Nagari Pasir Talang Barat. Dimana, rumahnya tidak lagi bisa dihuni karena dinding rumah nyaris runtuh diterjang material air bah sehingga air dan lumpur menggenangi isi rumah. 

"Semalam setelah diterjang air bah, kami sekeluarga mengungsi ke rumah orangtua akibat rumah dipenuhi air dan lumpur. Barang elektronik dan peralatan rumah tangga terendam air," ucapnya lirih.

Dia mengaku, rumah itu dihuninya bersama kedua anaknya dengan kondisi lantai papan dan berada di pinggir sungai.

"Kebetulan saat kejadian, saya dan suami sedang memasukkan ternak ayam ke kandang dan mendadak datang air bah. Air tergenang sekitar pinggan saya senja itu," kenangnya.

Nofrizal dan istri berharap supaya rumahnya yang berukuran 8x12 meter persegi bisa direhabilitasi atau diperbaiki oleh pemerintah sehingga kembali bisa layak dihuni. "Jika diperbaiki dengan biaya pribadi tentunya akan sulit, apalagi saya hanya bekerja swasta dan istri sebagai ibu rumah tangga," terangnya.

Selain itu, bahkan satu unit Polindes di Jorong Batang Lawe ikut digenangi air bah. Dihuni oleh Bidan Desa, Elya Nofia bersama anaknya yang masih berusia tiga tahun.

"Saya sedang solat Maghrib, air bah tiba-tiba menggenangi Polindes dan kamar tidur saya. Semua peralatan dan perabotan ikut digenangi air dan lumpur. Sehingga, malam itu ia bersama bayinya mengungsi tidur ke tempat  keluarganya," katanya.

Dia mengaku tidak berani lagi menghuni Polindes itu saat malam hari sebelum tebing diperbaiki dan normalisasi sungai akibat pendangkalan. "Sementara, biar saya saat berdinas saja dahulu di Polindes untuk tinggal biarlah dahulu dirunah keluarga," bebernya.

Wali Nagari Sako Utara Pasir Talang, Aris Novel mengatakan selain kerusakan sejumlah titik tebing pengaman  sungai juga ada irigasi pertanian masyarakat di dua Nagari yang mengalami kerusakan. 

"Sekitar 40 hektar sawah warga terancam tidak bisa dialiri air. Irigasi pertanian ini dimanfaatkan oleh masyarakat di Nagari Pasir Talang Selatan dan Nagari Sako Utara Pasir Talang," katanya.

Pihaknya, berharap kerusakan satu unit rumah warga di nagarinya dan perbaikan tebing sungai serta normalisasi segera dilakukan. "Sungai mengalami pendangkalan, Sabodam dihulu juga perlu diperbaiki beserta irigasi pertanian," katanya. 

Terpisah, Kalaksa BPBD Solsel Richi Amran melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik  Inroni Muharamsyah saat dilokasi mengatakan pihaknya masih melakukan validasi data terhadap sarana infrastruktur dan rumah warga yang terdampak.

"Dari data sementara yang masih berjalan. Untuk kerusakan rumah dalam kategori sedang ada dua unit. Dan kerusakan beberapa titik tebing pengaman sungai dan lainnya," katanya. (*)

Reporter : Jefli /  Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]