Cerita Latief Penyintas Covid-19: Kena Corona Itu Sakit Sekali, Dirundung Ketakutan, dan Hilang Produktifitas


Ahad, 01 November 2020 - 12:24:40 WIB
Cerita Latief Penyintas Covid-19: Kena Corona Itu Sakit Sekali, Dirundung Ketakutan, dan Hilang Produktifitas Latief, penyintas Covid-19 sekaligus jurnalis senior.

FEATURE UBAHLAKU: "Kena covid itu sakit sekali. Maka satu-satunya yang kita punya adalah harapan," inilah ucapan yang dilontarkan seorang jurnalis senior sekaligus penyintas Covid-19 bernama Latief Siregar.

Latief berbagi cerita tentang beratnya melawan corona. Dia mengaku sangat berat melawan infeksi virus mematikan tersebut yang pernah menimpa dirinya.

--- Milna Miana ---

Saat ini, Latief merupakan Wakil Pimpinan Redaksi MNC News. Bagi Latief, dirinya adalah salah satu orang yang telah menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Namun sayang masih terpapar juga. Dia pun tak ingin meributkan di mana pertama kali terinfeksi virus tersebut.

Faktanya kata Latief, Covid-19 bisa menimpa saja. Bahkan orang yang telah melakukan protokol kesehatan dengan baik akan kena juga.

"Ada yang bencada, ah ternyata menjalankan protokol kesehatan dengan baik juga sudah kena. Lalu saya jawab ke orang tersebut, saya saja kena apalagi kamu yang tidak mau menjalankan protokol kesehatan," tutur Latief dalam vicon terkait vaknisasi bersama jurnalis ubah laku, kemarin.

Makanya Latief mengajak masyarakat agar tetap menjalankan protokol kesehatan. Meskipun nantinya vaksin sudah ada. Tepatnya 17 Agustus, dirinya dinyatakan positif Covid-19 dan sempat menjalani perawatan di rumah secara isolasi mandiri selama seminggu.

"Namun saya menjadi parah. Saya masuk rumah sakit dua Minggu, keluar dari RS pun hasilnya belum negatif. Saya harus tes dua kali. Hingga akhirnya saya bisa bekerja kembali, saya membutuhkan waktu dua bulan setengah untuk pulih," papar Latief.

Latief mengaku selama terpapar Covid-19 aktivitasnya sangat terganggu. Tak hanya itu, juga menjadi korban perasaan, seperti perasaan terpenjara atau takut menular ke orang lain. Belum lagi usai Covid-19 dia merasa masih ada tersisa dari penyakit tersebut yang menggerogotinya.

"Padahal saya ini sehat, biasanya lari dan joging. Jadi, saat kena covid, saya jalan saja 8 meter ke kamar mandi sakit sekali rasanya. Sakit sekali, dan pahit sekali kehidupan kalau kita sudah pernah terkena Covid-19," kata Latief mengenang.

Oleh karena itu sebagai jurnalis Latief mengajak rekan-rekan wartawan memberikan contoh kepada publik bahwa terkena Covid-19 bukan kutukan dan jika sudah terpapar bahayanya tidak bisa diperdebatkan.

Latief juga melihat sampai saat ini masih ada kelonggaran di masyarakat, bahwa ternyata akan ada vaksin yang bisa menyembuhkan covid. Tapi jangan sampai justru akan ada vaksin, maka melonggarkan pada kedisplinan protokol kesehatan.

"Yang jelas, kena covid, kita sangat kesakitan, kena ketakutan dan hilang produktifitas. Vaksin akan menjadi penangkal dan berkativitas seperti biasa. Jadi, kedepan harus optimis vaksin jadi penangkal," sebut Latief mengingatkan.

Tak henti-henti Latief berpesan para kawan jurnalis kedepan harus bisa menjadi media komunikasi yang baik. Mari beritakan hal yang positif bahwa vaksin ini bisa menjadi jalan penyembuh atas wabah covid. Pihak pemerintah dan medua harus konstruktif, media harus bagus dalam hal ini sebagai upaya bisa mencegah covid.

"Mari para ahli memberikan informasi yang baik lewat konstruksi pemberitaan yang positif dalam upaya pencegahan dan penyembhan dari wabah covid," tukasnya. (*)

Reporter : Milna Miana /  Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]