Antropolog Sarankan Promosi Pariwisata di Padang Pakai Jasa Influencer


Selasa, 10 November 2020 - 18:01:06 WIB
Antropolog Sarankan Promosi Pariwisata di Padang Pakai Jasa Influencer Kegiatan Co-Working Pengembangan Inovasi Akademik Berbasis Industri (Teaching Factory) yang digelar secara online dan offline di Ruang Pertemuan Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Padang (PNP).

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Salah satu Antropolog, Husen Hutagalung melihat, Padang memiliki potensi besar di sektor pariwisata, dengan demikian program studi usaha perjalanan wisata optimis dikembangkan di wilayah ini. Sehubungan dengan itu, dia menyarankan pola implementasi yang efektif dalam mengimplementasikan Model Teaching Factory -6M.

"Yakni menerima pemberi order, menganalisis order, menyatakan kesiapan mengerjakan order, mengerjakan order, melakukan quality control, dan menyerahkan order untuk Generasi Milenial dan Gen Z yang menjadi peserta didik," kata Husen dalam Co-Working Pengembangan Inovasi Akademik Berbasis Industri (Teaching Factory) yang digelar secara online dan offline di Ruang Pertemuan Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Padang (PNP), dilansir dari website PNP, Selasa (10/11/2020).

Baca Juga : Asyiknya Wisata di Moosa Edufarm: Mengenal Sapi Wagyu Penghasil Daging Termahal di Dunia

Menurut Husen, mereka cenderung memilih pekerjaan yang lebih fleksibel secara kondisi dan jam kerja, sehingga mereka bisa memiliki lebih banyak waktu luang bersama teman, keluarga, atau untuk mengembangkan hobi.

"Salah satu karakteristik generasi milenial yaitu mempunyai kecenderungan bersikap kritis dan banyak bertanya dan sebagai dosen kita harus sedia dengan apapun jawabannya," terang Husen.

Baca Juga : Lari Pagi Bersama Sandi Uno, Audy Joinaldy Bahas Strategi Pengembangan Pariwisata Sumbar

Menurut Husen lagi, dalam memperkuat pemasaran dan promosi yang menggunakan media digital diperlukan jasa seorang influencer. Pada dasarnya influencer adalah seseorang yang memiliki followers atau pengikut yang banyak di media sosial. Selebriti, selebgram, blogger dan lainnya memiliki pengaruh bagi para pengikutnya untuk melakukan sesuatu.

Husen menjelaskan, inkubator Bisnis merupakan proses dukungan bisnis yang dapat mempercepat keberhasilan pengembangan startup dan perusahaan pemula dengan menyediakan berbagai sumber daya dan layanan yang diperlukan kepada para pengusaha.

Baca Juga : Khusus Januari-Februari, Emersia Hotel Batusangkar Beri Paket Khusus Spesial Deal Rindu

Mengutip riset Harvard University, Husen menilai bisnis inkubator berada di tengah teaching factory dan millenial generation dan soft skill dan hard skill. Kapasitas produktifnya tergantung 80% pada kapasitas soft skill dan 20% kapasitas hard skill.

Kapasitas produktif hard skill adalah keterampilan teknis yang diapatkan secara khusus dari lembaga atau institusi secara formal/ informal. Keterampilan ini bersifat pemenuhan atas kebutuhan suatu kompetensi atau pekerjaan tertentu.

Baca Juga : Tiket Masuk Wisata Pantai Gandoriah Bakal Mulai Gunakan Sistem Elektronik

Di sisi lain, kapasitas soft skill adalah suatu keterampilan yang mengacu pada kecerdasan emosional seseorang dalam kecakapannya dalam melakukan suatu relasi atau hubungan produktif. Keterampilan ini memungkinkan seseorang beradabtasi, bertahan, bekerjasama dengan dunia sosialnya.

Husen memaparkan 5 komponen soft skill, yakni distinctive (passion), adversity (ketahanan), creative (kreatif), persuassion (persuasif), dan engagement (keterkaitan). Distinctive adalah sebuah makna identitas dari kesederhanaan dan kekhasan seseorang untuk maju menjadi dirinya sendiri, fokus pada passion dan kekuatan diri dengan tidak harus meniru atau ikut-ikutan orang lain.

Creative adalah kemampuan untuk melihat hal-hal yang mungkin tidak disadari oleh orang lain. Persuasion adalah kemampuan psikologis dalam mempengaruhi atau meyakinkan orang akan keunggulan intrinsic tertentu. Engagement adalah kemampuan bekerjasama dan membina solidaritas dengan orang atau kelompok lain secara berkesinambungan, dan harmonis dalam berbagai situasi.

Kembali pada teaching factory, model pembelajaran ini bertujuan meningkatkan kompetensi dan mentalitas peserta didik, meningkatkan jiwa entepreneurship peserta didik, meningkatkan inovasi peserta didik dengan menghasilkan produk berupa barang atau jasa yang memiliki nilai tambah, meningkatkan sumber pendapatan institui pendidikan, dan meningkatkan kerjasama dengan industri atau entitas bisnis yang relevan, demikian Husen menyimpulkan. (*)

Reporter : Milna Miana | Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]