Hari Jomlo Sedunia: Status Lajang Lekat dengan Stereotip Negatif, Padahal Tidak


Rabu, 11 November 2020 - 23:57:24 WIB
Hari Jomlo Sedunia: Status Lajang Lekat dengan Stereotip Negatif, Padahal Tidak Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Tak melulu memanjakan diri dengan berbelanja, Hari Jomlo Sedunia atau Single's Day juga seyogianya dirayakan dengan menghargai status lajang yang dimiliki. Para lajang seharusnya bahagia, karena menjadi jomlo tak selalu menyedihkan.

Di tengah masyarakat, menjadi jomlo kerap dilekatkan dengan stereotip negatif. Belum lagi pertanyaan 'kapan kawin' yang sangat mengakar di tengah masyarakat Indonesia, membuat para jomlo semakin tersudutkan dan terburu-buru mencari pasangan.

Baca Juga : Ini Dia 8 Anime Terbaik yang Mirip dengan Attack on Titan

Sosiolog Dwi Winarno, dalam sebuah wawancara dengan CNNIndonesia.com, pernah mengatakan bahwa hidup berpasangan masih dianggap sebagai bentuk kesuksesan seseorang.

"Kalau belum kawin, dianggap [oleh kebanyakan masyarakat Indonesia] belum sukses," kata dia.

Baca Juga : Chef Renatta Sebut Bukan Lemak yang Bikin Gemuk tapi Gula, Ini Penjelasannya

Berbagai alasan di atas membuat jomlo jadi status menyedihkan yang dimiliki seseorang. Menjadi jomlo ibarat aib yang harus dihancurkan. Padahal, jomlo tak cuma sebatas status. Jomlo juga seyogianya bisa dijadikan waktu bagi seseorang untuk merumuskan apa saja yang diinginkan dan mempersiapkan diri untuk hidup berpasangan kelak di kemudian hari.

Tak cuma itu, kelompok jomlo juga kerap dilekatkan dengan rasa kesepian. Rasa kesepian di antara para lajang konon muncul akibat belum berhasilnya mereka untuk menemukan seseorang yang spesial.

Baca Juga : Ini Dia Orang Terkaya Indonesia versi Sri Mulyani

Jika Anda termasuk dalam kelompok jomlo yang merasa kesepian, Anda perlu mengidentifikasi penyebab kesepian yang muncul. Pasalnya, ada beberapa jenis kesepian, di antaranya kesepian kronis, isolasi sosial, dan perasaan kesepian.

Kesepian kronis didefinisikan sebagai kesepian atau isolasi sosial yang terjadi dalam jangka panjang dan memengaruhi kesehatan mental juga fisik. Hal ini jelas berbeda dengan 'perasaan kesepian' yang kerap dialami kaum jomlo.

Baca Juga : Ini 2 Cara Tepat Minum Jus Biar Tubuh Tetap Prima

Para ahli mendefinisikan rasa kesepian sebagai perasaan pengabaian subjektif yang dirasakan oleh diri sendiri atau adanya ketidaksesuaian pada konsep hubungan sosial yang diinginkan.

"Sendirian tidak membuat seseorang menjadi kesepian. Tapi, persepsi menyendiri itu-lah yang membuat seseorang menjadi kesepian," ujar ahli kejiwaan Indra Cidambi, mengutip CNN. Jomlo tak jadi satu-satunya kelompok identik dengan kesepian.

Penelitian menemukan, orang yang telah hidup berpasangan juga bisa mengalami kesepian yang sama. Mereka juga bisa tak sebahagia kelompok lajang.

"Telah terbukti berkali-kali bahwa orang yang menikah bisa sangat kesepian dan kehilangan emosi dalam pernikahan mereka. Terkadang, justru karena mereka berkomitmen pada satu orang ini, lalu mereka menyerah untuk memelihara hubungan lain," ujar ahli kejiwaan Elyakim Kislev.

Jomlo Seharusnya Bahagia Kislev melakukan penelitian mengenai tren hubungan di lebih 30 negara di antara partisipan yang berusia 30-78 tahun. Dia menemukan perbedaan utama antara jomlo yang bahagia dan jomlo yang tidak bahagia.

Perbedaan tersebut bergantung pada apakah mereka menginternalisasi stereotip tentang menjadi lajang atau justru mengabaikannya. Orang yang tidak bahagia menjadi lajang merasa gagal karena tak pernah menemukan orang yang tepat. Mereka juga merasa akan selalu hidup sendiri hingga tua hingga kehilangan kehidupan.

Sebaliknya, lajang yang bahagia justru menikmati kesendirian mereka. Mereka begitu mengambil tanggung jawab atas hidup dan puas dengan ikatan sosial yang dimiliki sebagai alternatif hubungan romantis. Kesenangan dalam kesendirian itu diperkuat dengan banyaknya pengalaman menarik yang didapatkan, seperti pergi bervakansi dan menemukan hobi baru.

"Mereka menggunakan waktu sendiri untuk mengisi kembali diri mereka sendiri," kata Kislev. Beberapa lain yang diwawancarai Kislev juga mengaku bahagia karena ikatan lingkaran sosial yang kuat, sebagai alternatif dari hubungan romantis. Temuan menunjukkan, seseorang yang hidup melajang 45 persen lebih sering menghabiskan waktu bersama teman.

"Rata-rata para lajang memiliki lebih banyak teman daripada yang hidup berpasangan," kata Kislev. Keinginan untuk memperkuat hubungan pertemanan ini, lanjut Kislev, dilakukan para lajang untuk mengatasi kesepian yang dirasa.

Sementara beberapa yang lain melakukannya karena ingin menghargai waktu dan kebebasan yang bisa didapat dengan hidup sendiri. Penelitian menemukan, membangun lingkungan sosial yang kuat dapat memberi rasa percaya diri. Selain itu, kelompok jomlo juga umumnya memiliki kepuasan dalam bekerja dan mengejar karier.

Hal itu-lah yang bisa membangun harga diri mereka. Memenuhi potensi, merasa lebih puas, dan menghabiskan waktu bersama teman dapat membantu mereka meningkatkan harga diri.

Faktanya, menjadi jomlo tak harus membuat Anda merasa kesepian. Alih-alih kesepian, menjadi jomlo justru memberikan banyak kesempatan untuk menemukan apa yang Anda sukai, menjalin pertemanan baru, dan lain-lain. "Para lajang seharusnya bisa 'berinvestasi' dalam masa jomlo mereka," kata Kislev.(*)

Editor : Nova Anggraini | Sumber : cnnindonesia
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]