Tanggapi Isu Gempa 8,9 Magnitudo, Pakar: Bukan Berita Baru, Itu Hanya Sebagai Pengingat


Jumat, 13 November 2020 - 19:51:04 WIB
Tanggapi Isu Gempa 8,9 Magnitudo, Pakar: Bukan Berita Baru, Itu Hanya Sebagai Pengingat Pakar gempa Universitas Andalas (Unand) Padang, Badrul Mustafa

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Pakar gempa Universitas Andalas (Unand) Padang, Badrul Mustafa mengatakan, penelitian mengenai adanya potensi gempa besar yang disertai tsunami bukanlah hal baru. Penegasan itu terkait ungkapkan BPBD Sumbar yang menyebutkan ancaman gempa 8,9 magnitudo dan tsunami akibat patahan Megathrust Mentawai.

"Potensi itu tidak sekarang saja disebutkan, jadi bukan berita baru sebetulnya. Itu diulang untuk mengingatkan masyarakat. Potensi itu ada dari Segmen Siberut," kata Badrul saat dihubungi Harianhaluan.com, Jumat (13/11/2020).

Badrul menjelaskan, Megatrust titiknya mulai dari Aceh gempa Simeuleu pada 26 Desember 2004 lalu, Pesisir Barat Sumatera, Nias, Mentawai, Enggano, Selatan Jawa sampai Nusa Tenggara lalu masuk ke Laut Banda di Kepulauan Maluku.

"Daerah-daerah tersebut termasuk dalam Megatrust. Jadi Megatrust itu bukan hanya Mentawai. Nah, Megatrust tersebut ada dua segmen. Pertama segmen Siberut dan segmen Sipora Pagai, kedua-duanya memiliki periode ulang gempa 200-300 tahun sekali," ujar Badrul.

Khusus segmen Sipora Pagai, kata Badrul, energi gempanya sudah keluar, terakhir terjadi pada 25 Oktober 2010. Episetrumnya terletak di Barat Daya Selatan dan menimbulkan tsunami. Dulu energi gempanya juga pernah keluar pada tahun 1833.

"Jadi segmen Sipora Pagai terulang tahun 2007. Tahun 1833 dengan gempa 8,3 SR atau 8,9 SR dengan 4X gempa yang besar tapi tidak semua gempa besar. Terjadi pada 12 September 2007 1X menjelang maghrib, hari pertama puasa 2X. Satu sisanya 25 Oktober 2010 yang menimbulkan tsunami," rinci Badrul.

Lebih lanjut, kata Badrul, tahun 1833 dengan kekuatan gempa mencapai 8,9 SR disertai tsunami. Dia menegaskan, untuk segmen Sipora sudah selesai secara scientificnya. Namun, akan terulang kembali pada 200 tahun kemudian.

"Nah, untuk segmen Siberut tahun 1997, masih belum keluar energi yang besarnya. Kalau dianggap gempa 30 September 2009 dulu bagian dari segmen Siberut maka masih ada 2/3 lagi energinya, kalau keluar 2/3 ini gempanya bisa 8,5 SR dan 8,9 SR," ciletuk Badrul.

Hanya saja, kata Badrul, tidak ada yang bisa memprediksi kapan akan terjadinya gempa dengan kekuatan 8,9 SR tersebut. Bisa saja terjadi 10 tahun lagi bahkan bisa mencapai 50 sampai 70 tahun kedepan jikalau gempa besar tersebut tidak terjadi sekarang.

"Ya mungkin terjadi 70 tahun lagi kalau pun tidak terjadi sekarang, besok, ataupun 10 tahun lagi," ulas Badrul.

Dengan begitu, Badrul menekankan, maka yang disebutkan oleh BPBD tersebut hal yang sudah sering disampaikan. Bahkan sudah sejak 2009, hal itu untuk mengingatkan masyarakat agar tidak terlena. Apalagi dengan adanya pandemi Covid-19.

"Kita harus waspada dengan pandemi Covid-19 dan tetap menerapkan protokol kesehatan tapi jangan lupakan kalau terjadi gempa maka akan rumit mitigasinya, tentu harus menyelamatkan diri dari gempa dan tsunami dengan protokol kesehatan," tukasnya. (*)

Reporter : Milna Miana /  Editor : Rahma Nurjana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]