November Tiba, Waspada Lagi 'Teror' Kobra!


Sabtu, 14 November 2020 - 08:06:07 WIB
November Tiba, Waspada Lagi 'Teror' Kobra! Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Musim penghujan seperti yang saat ini terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, menjadi siklus kelahiran bayi-bayi ular. Bulan November hingga Desember adalah bulan menetasnya telur-telur ular karena proses siklus biologi alami hewan jenis reptil itu.

Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia Aji Rachmat mengkhawatirkan akan banyak bayi-bayi kobra yang lahir di tengah permukiman warga, seperti yang terjadi di tahun kemarin. Menurut Aji, hal itu terjadi karena induk kobra menaruh telur di sekitar hunian manusia sekitar Agustus hingga September setelah musim kawin.

"Ular adalah satwa liar yang habitatnya dekat dengan manusia. Mereka mendapatkan makanan di sekitar tinggal kita. Induk ular secara insting akan menaruh telurnya di lokasi yang banyak makanan ular untuk mencukupi kebutuhan anak anaknya nanti," kata Aji dikutip dari media sosial Sioux Indonesia, Kamis (12/11).

Aji menuturkan ular adalah satwa yang mampu beradaptasi cepat dengan lingkungan baru termasuk pembangunan kawasan yang awalnya adalah habitat mereka. Meskipun tergusur, ular dapat bertahan hidup di sela sela pondasi dan rumah warga.

Sifat ular yang soliter alias hidup sendiri, bukan berkelompok sehingga sulit mengetahui keberadaan saat yang satu ini. Namun demikian, kata dia, jika ada temuan satu ekor ular, tidak berarti ada kawanannya di sekitar mereka. Ular sangat pintar bersembunyi.

"Ular juga tidak membuat sarang. Sarang adalah tempat tinggal satwa, jika keluar cari makan dia akan balik lagi ke tempat yang sama," tutur Aji.

Ular juga bersifat nomaden atau berpindah pindah. Jikalau ditemukan lubang tetasan telur ular, itu adalah tempat induk ular menaruh telurnya dan ditinggal. Induk ular tidak mengerami telur ular.

Adapun makanan ular yang menjadi mangsa mereka banyak ditemukan di sekitar hunian. Mulai dari cacing, jangkrik, kadal, kodok, tikus hingga burung merupakan makanan alami ular yang mudah ditemukan.

"Mangsa-mangsa ini akan mengundang ular hadir di sekitar tempat tinggal warga dan jika ada area yang nyaman, ular akan berkembang biak," jelas Aji.

Aji menyatakan bahwa predator alami ular semakin menipis jumlahnya sehingga tidak ada kontrol populasi ular secara alami di alam. Sehingga, warga perlu menjaga keberadaan musang, garangan dan biawak yang menjadi satwa pemangsa telur serta bayi ular.

Begitu pula burung karnivora yang merupakan pemangsa ular yang efektif di alam. Untuk itu, Aji menyarankan agar di masa telur-telur ular menetas sekarang ini, masyarakat untuk membersihkan pekarangan rumah.

Jika terdapat area yang tidak pernah dibersihkan akan memberikan lokasi nyaman bagi ular untuk berkembang biak dan ketersediaan makanan melimpah.

"Sudut-sudut gelap dan liar ini adalah tempat yang dicari oleh induk ular meletakkan telurnya dan ditinggal. Oleh karena itu bersihkan rutin area yang rimbun dan tidak tersentuh," ujarnya.

Selain itu, lakukan potong rumput dengan menggelar kerja bakti warga agar ular bergeser keluar kawasan. Jika beruntung ditemukan telur ular untuk dipindahkan, jangan dimusnahkan.

"Pasang jebakan tikus, kurangi dan hilangkan tikus di dalam rumah dan di area yang tak terawat. Bau tikus mengundang ular datang," ucap Aji menambahkan.(*)

 Sumber : cnnindonesia /  Editor : Nova Anggraini

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]