Kabar Duka! Dirut RSI Surabaya Meninggal karena COVID-19, Berikut Gejala yang Picu Kondisi Fatal


Sabtu, 14 November 2020 - 15:59:44 WIB
Kabar Duka! Dirut RSI Surabaya Meninggal karena COVID-19, Berikut Gejala yang Picu Kondisi Fatal Dirut RSI Ahmad Yani dr Samsul Arifin.

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Virus COVID-19 memang benar-benar tidak pandang bulu, siapa saja bisa terkena selama ketahanan tubuh lemah. Dan kabar duka itu kali ini datang dari Dirut Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya Ahmad Yani, dr Samsul Arifin, MARS dinyatakan meninggal karena COVID-19. 

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua perhimpunan rumah sakit seluruh Indonesia (PERSI) Jatim itu dilaporkan meninggal hari ini pukul 06.45 WIB.

"Iya, benar," ujar Marketing dan Humas RSI A Yani M Budhi saat dikonfirmasi, Sabtu (14/11/2020).

Budhi menuturkan almarhum diketahui terpapar COVID-19 sejak 25 Oktober lalu. Dan sempat dirawat selama 20 hari di ruang isolasi RSU Soetomo.

Saat terinfeksi COVID-19, ada beberapa faktor yang bisa memperparah gejala bahkan memicu kondisi fatal. Seperti usia lanjut, respons kekebalan tubuh dan penyakit penyerta.

Selain itu, adapula kondisi fatal yang disebabkan karena happy hypoxia saat terpapar COVID-19. Kondisi ini terjadi saat pasien COVID-19 memiliki saturasi oksigen yang rendah tapi tak bergejala sesak napas.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) menyebut ada beberapa tanda atau gejala COVID-19 yang perlu diwaspadai karena memicu kondisi fatal hingga kematian.

Berikut tandanya

  • Kesulitan bernapas
  • Nyeri atau tekanan yang terus-menerus di dada
  • Kebingungan
  • Ketidakmampuan untuk bangun atau tetap terjaga
  • Bibir, wajah atau kuku kebiruan (kondisi ini bisa menunjukkan happy hypoxia).

Meski begitu, hingga saat ini, banyak pasien COVID-19 yang meninggal karena memiliki penyakit penyerta. Penyakit penyerta yang diidap pasien COVID-19 membuat seseorang memiliki sistem imun lebih lemah sehingga tak mampu melawan COVID-19.

"Jika sistem kekebalan tubuh tidak kuat, kemungkinan besar virus itu dapat berkembang biak di dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan parut. Sistem kekebalan akan melawannya dan menghancurkan jaringan paru yang sehat dalam prosesnya," kata Dr Sarah Jarvis GP, Direktur Klinis Patient Access, dikutip dari The Sun. (*)

Editor : Rahma Nurjana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]