Siapkah Kota Padang Hadapi Gempa Berpotensi Tsunami? Ini Tanggapan Ketua DPRD Kota Padang


Selasa, 17 November 2020 - 20:31:37 WIB
Siapkah Kota Padang Hadapi Gempa Berpotensi Tsunami? Ini Tanggapan Ketua DPRD Kota Padang Ketua DPRD Kota Padang, Syahrial Kani

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Ketua DPRD Kota Padang, Syahrial Kani menjelaskan Kota Padang tidak siap dalam menghadapi bencana alam yang paling parah seperti tsunami. Menurutnya, informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar yang menjelaskan gempa besar dengan kekuatan 8.9 mangitudo yang memicu gelombang tsunami setinggi 10 meter dengan panjang 5 kilometer belum diantisipasi oleh Pemko Padang sendiri.

“Walau pemerintah telah menjadikan beberapa bangunan sebagai shelter evakuasi tsunami, tetapi bisa kita lihat sendiri apakah jalan menuju zona hijau telah terbangun dengan baik. Selain itu, sirine peringatan dini tsunami apakah berfungsi dengan baik,” ucapnya, Selasa (17/11).

Lebih lanjut, Syahrial Kani juga memaparkan hal tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak korban jiwa jika hal yang ditakutkan terjadi. Walau dimasa pademi ini, pemerintah harus mensosialisasikan kembali ke masyarakat bagaimana cara menghadapi gempa bumi dan tsunami.

“Kita semua tidak mengharapkan gempa berskala besar yang mengakibatkan tsunami terjadi di negeri ini. Tetapi, bagaimanapun kita harus waspada. Pemerintah melalui instansi terkait harus memberikan pelatihan kepada masyarakat bagaimana menghadapi bencana alam,” tambahnya.

Secara terpisah, Kepala Center of Disaster Monitoring and Earth Observation, Universitas Negeri Padang (DMEO UNP) Pakhrur Razi Ph.D. menjelaskan gempa bumi dengan skala besar yang berpotensi tsunami berpeluang terjadi di Sumatra Barat. Hal ini diungkapkannya berdasarkan kajian dari penelitian para pakar gempa Belle Philibosian dari California Institute of Technology.

“Peluang kekuatan gempa dengan M 8,9 di dapat karena mereka mempelajari pergeseran coral (karang) di dasar laut, kemudian melakukan perhitungan sehingga dapatlah angka M8.9,” ucapnya.

Pakhrur Razi Ph.D. melanjutkan peluang gempa besar itu berpeluang berpusat di sekitar kepulauan Siberut. Kata dia, sejak 2006 pihaknya telah melakukan observasi dengan memanfaatkan satelit dan menemukan adanya pergeseran dan terjadi deformasi di daerah kepulauan Mentawai.

Lebih lanjut, dirinya menyatakan bahwa gempa dengan kekuatan M9,8 tersebut tinggal menunggu waktu karena sudah masuk kedalam siklus 200 tahun kegempaan di Kepulauan Mentawai.

“Dari catatan sejarah, gempa bumi terbesar dengan kekuatan magnetudo M 8.6-8.8 di Kepulauan Mentawai terjadi pada tahun 1797, sedangkan gempa dengan kekuatan M 8.8-8.9 terjadi di tahun 1833. Pada saat ini kita telah memasuki siklusnya,” ucapnya.

Pakhrur Razi Ph.D. menyarankan, karena Sumbar berada di daerah rawan gempa, pemerintah dan masyarakat harus selalu waspada dan siap siaga terhadap potensi gempa dan tsunami jika suatu saat terjadi. Ia mengimbau masyarakan untuk memastikan tidak ada benda-benda yang menghalangi rubuh ketika gempa terjadi. 

"Kemudian latihlah anak-anak untuk siap siaga dalam langkah menyelamatkan diri saat terjadi gempa dan setelah terjadi gempa,” tambahnya.(*)

Reporter : Merinda Faradianti /  Editor : Rahma Nurjana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]