Model Problem And Project Based Learning Sebagai Solusi Pembelajaran Era Informasi


Rabu, 18 November 2020 - 12:47:32 WIB
Model Problem And Project Based Learning Sebagai Solusi Pembelajaran Era Informasi Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Era masyarakat informasi yang lahir akibat pesatnya globalisasi memiliki tuntutan skill belajar yang dibutuhkan terhadap dunia kerja. Keterampilan belajar era informasi tumbuh selaras dengan berkembangnya kompetensi berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, penyelesaian masalah, evaluasi dan manajemen diri.

Kesenjangan antara kualitas input di perguruan tinggi dengan tuntutan skill belajar era informasi menjadi tantangan untuk melakukan restorasi sistem pembelajaran khususnya perguruan tinggi swasta. Perguruan tinggi harus dapat melakukan transformasi secara efektif agar menghasilkan outcome yang mupuni dan siap bersaing di industri kerja. Metode pembelajaran yang efektif meningkatkan keterampilan yang diharapkan dan mampu mengatasi masalah pembelajaran adalah model pembelajaran yang memberikan peluang sebesar-besarnya kepada pebelajar untuk mengakses dan mengolah informasi, sehingga dapat memperkaya pengetahuan dan mencapai keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Skill belajar era informasi tersebut selaras dengan tujuan pendidikan Technical and Vocational Education and Training (TVET) abad XXI.

Model Problem and Project Based Learning (PPJBL) merupakan inovasi pembelajaran yang memiliki komponen sistem pembelajaran berupa produk belajar, syntax (instruksional pembelajaran, sistem pendukung, dan sistem sosial, prinsip reaksi, instruksional dan sistem pengiring. Model ini beserta produk pendukungnya telah dinyatakan valid, praktis, dan efektif secara empiris sehingga layak diterapkan di perguruan tinggi sebagai alat transformasi pembelajaran untuk menghasilkan lulusan yang berkompeten di bidangnya. Filosofi pragmatis sebagai dasar filosofis PPJBL menjadikan model pembelajaran ini memberikan pengalaman belajar bermakna kepada mahasiswa di perguruan tinggi.

Perubahan kualitas pebelajar baik dari segi hasil belajar dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor, kepribadian, dan kualifikasi kerja juga didukung dengan adanya pemanfaatan media teknologi informasi dan komunikasi, dan multimedia sebagai suplemen pembelajaran. Proses instruksional pembelajaran yang sistematis selama satu semester diterapkan dengan konsep belajar Learning by Doing sesuai dengan pola belajar TVET abad XXI. Syntax pembelajaran dibagi dalam tiga fase utama, dimana setiap fasenya terdiri atas dua tahapan sehingga secara keseluruhan syntax pembelajaran memiliki enam tahap pembelajaran.

Tabel 1. Instruksional pembelajaran Model PPJBL

Fase

Aktivitas Belajar

Fase 1:

Motivasi, Review dan pertanyaan Esensial

Motivation and Mindset building class dilkukan untuk memotivasi para mahasiswa untuk aktif dalam konsep learning by doing untuk pemecahan masalah dan konsisten mengikuti setiap fase pembelajaran hingga diakhir fase pembelajaran.

Dosen menjelaskan secara umum format model PPjBL yang wajib dipahami dan dipatuhi oleh para pebelajar.

 

Knowledge Review (mereview pengetahuan pebelajar). Pengajar mereview pengetahuan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dan menyajikan contoh masalah spesifik dan otentik dalam organisasi.

 Essensial Question.Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. Dilanjutkan dengan penyajian video multimedia

Fase 2:

Merencanakan Proyek dan Strategi Pemecahan masalah

Perencanaan proyek secara kolaboratif antara pengajar dan pebelajar. Perencanaan berisi aturan dan pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan pendekatan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek

Fase 3: Membuat Jadwal proyek dan menerapkan strategi pemecahan masalah

Pengajar dan pebelajar secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas penyelesaian proyek.

Pembelajar menerapkan strategi pemecahan masalah dan pengajar memonitor dan memberi umpan balik terhadap upaya mereka

Fase 4: Membahas dan Memantau pebelajar dan kemajuan proyek

Pengajar membimbing diskusi, memonitor aktivitas tentang upaya dan progress yang telah dicapai.

Pengajar membimbing penyusunan laporan proyek dilanjutkan dengan penyajian video penyusunan laporan

Fase 5: Pelaporan proyek

Setiap kelompok kerja proyek mempresentasikan hasil kerja proyeknya 

Fase 6: Penilaian dan Evaluasi Pengalaman Proyek

Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran

Kegiatan refleksi hasil kerja proyek secara individu dan kelompok oleh pengajar

 

Model PPJBL ini diterapkan dalam suasana pembelajaran layaknya di lingkungan kerja industri. Suasana kelas dirubah menjadi suasana kerja. Mahasiswa bekerja dalam team work secara real time dan real world. Pada akhir semester setiap tim mendemonstrasikan produk hasil desainnya untuk dievaluasi secara multi arah (pengajar dan peserta ajar lainnya).

Secara skematis, aktivitas pebelajaran ditunjukkan pada gambar 1 berikut:

Aktivitas pembelajaran efektif pada model PPJBL ini dapat diterapkan di perguruan tinggi khususnya yang menyelenggarakan pendidikan bidang ilmu informatika dan engineering. Adopsi lingkungan kerja industri ke dalam kelas dan laboratorium pembelajaran dapat melatih mahasiswa berada dalam dunia kerja sesungguhnya. Sasaran pencapaian konpetensi era informasi telah disesuaikan dengan level kompetensi Kerangka Kualifkasi Nasional Indonesia (KKNI). Hal tersebut dan berbagai pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa model PPJBL dapat mentransformasi pebelajar menjadi lulusan yang berkualifikasi di industri kerja. (*)

 Sumber : Penulis: Nuraeni Dahri, S.Kom.M.Kom /  Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]