Peneliti Sebut Planet Uranus 'Kentut' Setiap 17 Jam Sekali


Rabu, 18 November 2020 - 13:02:49 WIB
Peneliti Sebut Planet Uranus 'Kentut' Setiap 17 Jam Sekali Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Planet Uranus dilaporkan melepaskan gas alias 'kentut' ke ruang angkasa setiap 17 jam sekali. Kondisi itu diduga akibat planet tersebut berputar pada sumbu yang tidak konvensional, yang menyebabkan medan magnetnya terbuka dan tertutup.

Uranus diketahui berputar pada sudut hampir 98 derajat dari bidang orbitnya. Kondisi itu berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan planet yang berputar relatif dekat dengan bidang orbitnya.

Melansir Unilad, medan magnet planet Uranus juga menyimpang dari umumnya dan berada pada sudut 59 derajat dari sumbu rotasi. Kombinasi dari semua faktor itu membuat magnetosfer Uranus sangat aneh.

Karena magnetosfer yang tidak biasa, planet itu memungkinkan angin matahari bertiup masuk pada sudut tertentu. Ilmuwan menyebut sudut seperti itu akan terjadi setiap 17 jam sekali.

Menariknya, lewatnya gas juga bisa menimbulkan aurora di planet tersebut. Aliran gas itu ditemukan setelah Xin Cao dan Carol Paty dari Institut Teknologi Georgia yang membuat model magnetosfer Uranus. Pemodelan juga selaras dengan bukti sebelumnya yang ditemukan oleh Voyager 2 NASA.

Melansir BGR, peneliti masih kesulitan mengkonfirmasi lebih lanjut temuannya karena jarak Uranus sangat jauh dari Bumi. Uranus diketahui memiliki jarak yang lebih jauh dari Bumi dengan Matahari.

Namun, kesimpulan awal penelitian menyebut magnetosfer seperti sakelar. Sebab, magnetosfer terbuka dan tertutup setiap hari Uranus. Studi tentang magnetosfer Uranus telah dimulai dalam beberapa dekade lalu, tepatnya sejak pesawat ruang angkasa Voyager 2 diterbangkan pada tahun 1986.

Sebelumnya, Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) melaporkan Planet Uranus mengalami kebocoran gas. Kebocoran ini ditemui oleh pesawat ruang angkasa Voyager 2 yang melewati gumpalan gas saat berada di dekat Uranus.

Voyager 2 melewati gumpalan gas yang bernama plasmoid ini selama 1 menit. Pesawat yang telah tiba di Uranus sejak 34 tahun lalu kemudian mengirimkan data ke Bumi untuk melaporkan anomali tersebut. Wahana antariksa ini menjelajahi Uranus dengan jarak sekitar 80 ribu kilometer dari Uranus.

Sementara itu, seperti dijelaskan, perjalanan pesawat ruang angkasa melalui plasmoid hanya berlangsung sekitar satu menit, tetapi itu cukup lama bagi para ilmuwan untuk menentukan bahwa ada anomali tersebut.

NASA menduga plasmoid ini dibuang oleh Uranus melalui atmosfer. Uranus diprediksi telah kehilangan kandungan gas dalam atmosfer sebanyak 55 persen.

"Pengamatan pertama plasmoid dalam magnetosfer planet ini menjelaskan proses yang terjadi di magnetosfer Uranus dan menunjukkan bahwa plasmoid dapat memainkan peran besar dalam mengangkut plasma," ujar NASA.(*)

 Sumber : cnnindonesia /  Editor : Nova Anggraini

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]