Deputi FREI: Vaksin Bukan Segalanya, Pencegahan Lebih Baik daripada Pengobatan


Ahad, 22 November 2020 - 14:30:36 WIB
Deputi FREI: Vaksin Bukan Segalanya, Pencegahan Lebih Baik daripada Pengobatan Deputi Fundamental Research Eijkman Institute (FREI), Prof. Herawati Sudoyo Supolo. Dok Republika

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Deputi Fundamental Research Eijkman Institute (FREI), Prof. Herawati Sudoyo Supolo mengatakan, vaksin itu bukan segalanya, dalam dunia kedokteran pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Walaupun sudah memiliki vaksin nantinya, protokol kesehatan harus tetap kita jalankan.

Tanpa kesehatan segalanya tidak ada artinya, jadi harus jaga kesehatan dan paling tidak dengan 3M (Memakai masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga Jarak) juga 3T (Tracing, Tracking, dan Treatment).

"Kita harus mampu berinovasi tidak hanya untuk mengatasi Covid-19 tapi juga memberikan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan terhadap impor," ujar Prof. Herawati dalam acara Dialog Produktif dengan tema "Vaksin dan Pembangunan Kesehatan Indonesia", yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) melibatkan Jurnalis Ubah Laku, baru-baru ini.

Prof. Herawati meyakini, vaksin Merah Putih akan memberikan kedaulatan nasional. Oleh karena itu percepatan penemuan kandidat vaksin Merah Putih ini dilakukan secara paralel. Itu kuncinya kenapa bisa cepat. Sudah terbiasa menggunakan platform ini sehingga bisa lebih cepat.

"Peneliti saat ini tidak bekerja lagi dalam senyap. Kita diminta untuk bisa menjadi komunikator termasuk memperbaiki komunikasi publik kita. Gunanya untuk memberikan informasi tentang kegunaan vaksin kepada pemangku kepentingan dan publik," kata Prof. Herawati.

Lembaga Eijkman selalu memberikan laporan kemajuan penelitian di laboratorium mereka. Kemungkinan akan memberikan laporan vaksin merah putih di awal 2021. Menurut di, vaksin Merah Putih itu jangka panjang.

"Kita tidak ingin memberikan vaksin Merah Putih yang tidak aman dan tidak manjur. Jadi kita akan melalui semua prosesnya. Tapi tetap ada percepatan tadi," kata Prof. Herawati.

Vaksin Merah Putih berbasis virus Covid-19 yang beredar di Indonesia dan dikembangkan anak bangsa. Kemandirian ini sangat penting, karena menyangkut kedaulatan dan kemampuan sebuah negara dalam penguasaan teknologi dan inovasi. Tentu dengan kemajuan ini kita tidak akan menjadi negara trader atau sebatas pengimpor.

"Kita harus mampu memiliki terobosan, dan untuk diketahui kita sudah mampu mengekspor vaksin ke 140 negara. Indonesia jadi negara rujukan di OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) untuk vaksin," terang Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek BRIN, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti.

Prof. Ghufron menegaskan, masyarakat tidak perlu takut terhadap vaksin dan program vaksinasi yang nantinya akan dijalankan pemerintah. Kendati begitu masyarakat harus tetap menjaga kesehatan karena vaksin bukan satu-satunya cara untuk terbebas dari virus Covid-19. (*)

Reporter : Milna Miana /  Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]