Tips Perencanaan Keuangan Agar Tak Berantakan untuk Pekerja Lepas


Ahad, 22 November 2020 - 19:02:12 WIB
Tips Perencanaan Keuangan Agar Tak Berantakan untuk Pekerja Lepas Ilustrasi

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Menjadi pekerja lepas atau freelancer tentu memiliki banyak keuntungan. Seperti, soal waktu maupun tempat kerja yang lebih fleksibel, selama mereka bisa memenuhi kewajiban pekerjaan dari klien sesuai tenggat waktu yang ditentukan. Namun, ada beberapa tantangan finansial yang tentu harus dihadapi para pekerja freelance.

Tantangan-tantangan tersebut, apalagi kalau bukan masalah perencanaan keuangan, karena penghasilan para pekerja freelance tidak tetap dan risiko kehilangan pendapatan juga cukup tinggi. Seperti yang tercantum di situs Financial Planning Standards Boards Indonesia perencanaan keuangan bisa diartikan sebagai proses untuk mencapai tujuan hidup seseorang melalui pengelolaan keuangan secara terintegrasi dan terencana.

Tujuan finansial yang dimaksud tentu saja meliputi banyak hal. Bisa berupa persiapan dana pendidikan bagi anak, dana hari tua bagi freelancer dan pasangan hidupnya, dana untuk membeli rumah, warisan bagi keluarga, dana untuk beribadah haji dan persiapan dana lain-lainya. Pada intinya, mereka yang digolongkan sebagai freelancer bisa jadi memiliki profesi yang beragam. Seniman, dokter, konsultan, atlet, hingga influencer di media sosial bisa dikatakan sebagai pekerja lepas.

Seperti apa perencanaan keuangan yang ideal bagi para pekerja freelance? Berikut tips nya:

    ⁃    Usahakan pengeluaran selalu tetap

Pendapatan para freelancer mungkin tidak tetap, namun usahakanlah dengan baik agar Anda memiliki rata-rata pengeluaran yang bersifat tetap. Lakukan pencatatan pengeluaran dengan rincian, baik secara bulanan atau tahunan. Dalam melakukan pencatatan pengeluaran, semakin detail pencatatan maka semakin baik pula kita dalam mengetahui posisi keuangan saat ini. Dengan mengetahui pengeluaran rutin per bulan, maka kita bisa memproyeksikan target penghasilan minimal kita untuk setiap bulan dan tahun.

    ⁃    Lakukan perencanaan pajak dengan baik

Pekerja freelance bukanlah pegawai,!oleh karena itu mereka sendirilah yang harus mencatat seluruh pendapatan yang diterima selama setahun. Ada beberapa cara yang bisa dimanfaatkan para pekerja freelance untuk menghitung pajaknya.

    ⁃    Untuk perorangan

Anggap saja seorang konsultan hukum berstatus lajang memiliki penghasilan rata-rata Rp 16 juta per bulan atau Rp 200 juta jika disetahunkan. Bila Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN) adalah 50%, dan PTKP TK/0 sebesar Rp 54 juta, maka penghasilan kena pajaknya adalah:

Penghasilan Neto: Penghasilan setahun x 50%
(Rp 200 juta x 50% = Rp 100 juta)

Penghasilan Kena Pajak = Penghasilan Netto - PTKP
(Rp 100 juta - Rp 54 juta = Rp 46 juta)  

PPh 21 yang harus dibayar setahun adalah Rp 46 juta x 5% = Rp 2,3 juta

    ⁃    Untuk badan usaha

Di masa yang akan datang, apabila orang yang bersangkutan ingin melakukan penghematan dalam pembayaran pajak, maka mereka pun bisa menggunakan sistem perpajakan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Syaratnya, mereka harus mendirikan sebuah badan usaha berbentuk Persekutuan Komanditer (CV) atau Perseroan Terbatas (PT).

Perhitungan pajak dari badan usaha ini tidak menggunakan NPPN, melainkan lewat pembukuan. UMKM yang memiliki peredaran omzet di bawah Rp 4,8 miliar dalam satu tahun pajak akan dikenai pajak final 0,5% saja. Akan tetapi untuk CV, masa berlaku pembayaran pajak ini adalah selama empat tahun, sementara itu untuk PT adalah tiga tahun. Setelah masa PPh Final, maka Anda wajib membuat pembukuan kembali dan menjadi wajib pajak normal.

Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi pajak Anda adalah, dengan meningkatkan tabungan dana pensiun Anda, membayar zakat, dan berinvestasi di instrumen keuangan dengan pajak final.

    ⁃    Walau lajang dan tak ada tanggungan, miliki dana darurat minimal 6x pengeluaran per bulan

Meski penghasilan seorang pekerja freelance tergolong besar, namun sebagai pekerja freelance, potensi risiko hilangnya pendapatan yang dialami tentu lebih besar ketimbang para karyawan kantoran. Oleh karena itu, ada baiknya bagi Anda untuk menyediakan dana darurat yang lebih besar ketimbang karyawan yang mendapat penghasilan tetap per bulan.

Bagi pekerja lajang, menyediakan enam kali pengeluaran bulanan tidaklah salah. Namun bila sudah berumah tangga dan memiliki tanggungan, tak ada salahnya menyediakan dana darurat lebih dari setahun (12 kali pengeluaran bulanan).

    ⁃    Jaminan kesehatan harus ada

Riset dari Willis Tower Watson menyebutkan bahwa kenaikan biaya kesehatan di Indonesia mencapai 10% per tahun. Sementara itu, melihat data Inflasi Indonesia Menurut Kelompok Pengeluaran yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), sejak Juli hingga Agustus 2020, Indonesia mengalami deflasi. Namun pengeluaran untuk kesehatan justru naik 0,29% di Juli, 0,06% di Agustus, dan 0,16% di September 2020. Kenaikan biaya inipun menyebabkan inflasi tahun kalender untuk kategori pengeluaran kesehatan naik 2,13% di 2020 ini.

Melihat biaya kesehatan yang terus naik, maka sangat berisiko bila kita semua tidak memiliki jaminan kesehatan. Kita bisa saja kehilangan uang yang besar saat harus menjalani proses rawat jalan, rawat inap, atau operasi. Ada baiknya untuk memiliki BPJS Kesehatan dan asuransi kesehatan swasta. Kedua jaminan kesehatan ini memiliki fungsi yang saling mengisi.

    ⁃    Gunakan pendekatan pengeluaran untuk memilih asuransi jiwa

Jika Anda memiliki tanggungan atau utang, maka pastikan Anda terlindungi dengan asuransi jiwa. Saat Anda meninggal dunia, maka uang pertanggungan (UP) dari asuransi jiwa akan cair dan bisa digunakan untuk biaya hidup keluarga yang kita tinggal. Manfaatkan perhitungan expense based value (EBV) untuk menghitung besaran UP yang kita butuhkan. Setelah itu, cari dan pilihlah asuransi jiwa yang bisa memberikan polis dengan uang pertanggungan dengan nominal tersebut.

    ⁃    Investasikan dana ke instrumen pendapatan tetap dan instrumen pertumbuhan

Jika dilihat dari imbal hasilnya, investasi dibedakan menjadi dua yaitu yang bisa memberikan pendapatan tetap berupa pembayaran imbal hasil pasti yaitu bunga rutin per bulan, dan instrumen pertumbuhan yang tak memberikan bunga tapi memberikan capital gain ketika dijual lagi.

Instrumen pendapatan tetap seperti deposito atau surat berharga negara maupun korporasi, sangat berguna untuk menjaga kesehatan arus kas bulanan pekerja freelance. Karena, bunga yang dibayarkan dari instrumen itu akan menjadi pendapatan pasif yang tentunya menambah jumlah pemasukan per bulan.

Sementara itu, instrumen pertumbuhan seperti reksa dana, saham, atau logam mulia, sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan finansial pekerja freelance dalam jangka pendek, menengah, atau panjang, seperti untuk membeli rumah, menyelenggarakan pesta pernikahan, mempersiapkan kebutuhan anak yang akan lahir, atau biaya pendidikan anak, hingga menyediakan dana pensiun. Para pekerja freelance sebaiknya menulis tujuan-tujuan keuangan dalam jangka pendek hingga panjang dengan rinci. Kemudian, mereka dapat menentukan instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko mereka.(*)

Reporter : Merinda Faradianti | Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]