Viral Setelah Diunggah Anies Baswedan, Begini Intisari Buku How Democtacies Die 


Selasa, 24 November 2020 - 09:58:13 WIB
Viral  Setelah Diunggah Anies Baswedan, Begini Intisari Buku How Democtacies Die  Anies Baswedan (Foto [email protected]@aniesbaswedan)

FEATURE,HARIANHALUAN.COM–Pasca dibaca dan diunggah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, tetiba buku ‘How Democtacies Die’ jadi trending topik di media sosial seperti facebook dan twitter.

Berawal dari Anies Baswedan membagikan aktivitasnya di Minggu pagi, pada akun Twitternya @aniesbaswedan, Anies  mengunggah fotonya saat sedang membaca buku berjudul How Democtacies Die.

Baca Juga : Museum Raja Ali Haji, Sumber Ilmu Generasi Milenial

Tak pelak  unggahan itu menyedot  perhatian. Belakangan ini  Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memang sedang jadi perhatian netizen.Terlebih lagi, namanya menyedot perhatian publik karena dipanggil Polda Metro Jaya untuk memberikan keterangan terkait kerumunan di acara Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab.

 

Baca Juga : Para Ulama Besar Terdahulu juga Pernah Ditangkap Penguasa Zalim, Begini Kisahnya

Unggahan Anies tak ayal membuat judul buku itu pun mendadak masuk daftar trending topic di Twitter.

 

Baca Juga : Irwandi Dt. Batujuah Letakkan Standar Baru Etika Politik di Bukittinggi

Lalu, apa sesungguhnya isi buku yang dibaca Anies tersebut?

Buku How Democtacies Die ditulis oleh pakar politik dari Universitas Harvard Amerika, Prof Steven Levitsky dan Prof Daniel Ziblatt yang  diterbitkan kali pertama dalam versi bahasa Inggris pada 16 Januari 2018 oleh penerbit Crown Publishing Group.

Baca Juga : Tak Menyerah pada Pandemi Covid-19, Penghasilan Jutaan Rupiah Diraup Penjual Tanaman

Dalam bahasa Indonesia buku How Democtacies Die  itu diterjemahkan: Bagaimana Demokrasi Mati.

Buku ini berlatar belakang pemilu di AS pada 2016 dan diantaranya mengulas tentang masa pemerintahan Presiden Donald Trump.

Di buku ini Levitsky dan Ziblatt memaparkan bahwa demokrasi tidak lagi berakhir dengan cara-cara spektakuler, seperti revolusi ataupun kudeta militer. Namun, demokrasi akan mati secara perlahan dan pasti dengan matinya institusi-institusi kritis, seperti peradilan dan pers, serta pengeroposan norma-norma politik yang telah lama ada.

Berpijak pada penelitian selama puluhan tahun, dan berbagai contoh sejarah global, mulai dari Eropa tahun 1930-an, hingga era kontemporer Hongaria, Turki, dan Venezuela, kedua profesor itu menunjukkan bagaimana demokrasi mati dan bagaimana ia dapat diselamatkan.

 

Pada resensi buku  How Democtacies Die disebutkan di laman Googlebooks, bahwa demokrasi bisa mati cepat atau mati pelan-pelan.

Kematian itu bisa tak disadari ketika terjadi selangkah demi selangkah, dengan;

1. Terpilihnya pemimpin otoriter.

2. Disalahgunakannya kekuasaan pemerintah.

3. Dan, penindasan total atas oposisi.

Berdasarkan ulasan yang ditulis oleh David Runciman, buku How Democracies Die merangkum perjalanan politik otoriter di berbagai penjuru dunia, dan menemukan pola serupa yang akan terus berulang.

Apakah seperti sekarang? (*)

Editor : Dodi

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]