Di Balik Penyiapan Naskah Khotbah Jumat oleh Kemenag, Ada Dugaan Upaya Menag Selamatkan Diri dari Reshufle


Kamis, 26 November 2020 - 08:33:38 WIB
Di Balik Penyiapan Naskah Khotbah Jumat oleh Kemenag, Ada Dugaan Upaya Menag Selamatkan Diri dari Reshufle Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Dewan Masjid Indonesia (DMI) menilai Kementerian Agama (Kemenag) tidak perlu menyiapkan naskah khotbah Jumat untuk penceramah. DMI pun membandingkan dengan Presiden ke-2 RI Soeharto yang disebut menyukai berbagai macam khotbah Jumat.

"Kalau menurut saya sebenarnya tidak perlu, apalagi di alam demokratis sekarang. Pak Harto saja justru suka berkenan menyimak hidangan khotbah berbagai macam, baik sipil maupun militer," kata Sekjen DMI Imam Addarquthni kepada wartawan, Rabu (25/11/2020).

Baca Juga : Kabar Gembira Bagi PNS, THR Dipercepat & Bisa Lebih Besar dari Gaji Pokok

Menurut Imam, naskah khotbah yang disiapkan biasanya dilakukan oleh negara-negara kerajaan, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, untuk menghindari kritik kepada raja. Jika Kemenag menyiapkan naskah khotbah Jumat, menurut Imam, akan menimbulkan sejumlah penafsiran.

"Di Indonesia, kalau khotbah juga harus baca teks yang disiapkan pemerintah c.q. Kemenag, sebenarnya akan mengundang berbagai penafsiran, di samping hal itu tidak lazim," ujarnya.

Baca Juga : 9 Provinsi Diminta Waspada, Siklon Surigae Meningkat 24 Jam ke Depan

Imam lalu merinci sejumlah penafsiran yang bisa saja timbul jika Kemenag menyiapkan naskah khotbah Jumat. Di antaranya Kemenag kurang percaya pada khotib atau dai, mendorong totalitarisme pemerintahan agama, hingga menyebut Menteri Agama (Menag) Fachrul Raziterjangkit islamophobia atau fobia terhadap Islam.

"Menteri Agama sedang kejangkitan semacam islamophobia entah ringan atau berat. Tren campur tangan negara dalam detail urusan agama untuk arti lain bahwa Menteri Agama sedang mengeksperimentasi terwujudnya Indonesia sebagai Negara Agama," ujarnya.

Baca Juga : Bukan karena Vaksin Sinovac, Jemaah Indonesia Dilarang Masuk Arab Saudi Ternyata Gara-gara Ini

Tak hanya itu, penafsiran yang bisa muncul menurut Imam adalah Menag Fachrul kurang kerjaan dan tengah bereksperimen untuk mendapatkan pujian dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kaitan Kemenag dengan kepentingan politik juga disebut Imam bisa menjadi bagian dari penafsiran yang muncul.

"Pemerintah, c.q. Kemenag ingin mengendalikan masjid secara politik. Kemenag/Menteri Agama sedang di bawah kendali kepentingan politik tertentu atas nama negara. Pemerintah c.q. Kemenag/Menteri Agama ingin mengukur loyalitas umat Islam pada pemimpin nasional," ungkap Imam.

Baca Juga : Jason Penganiaya Perawat Siloam Dijerat Pasal Berlapis, Ini Ancaman Hukumannya

"Mungkin ada agenda besar politik nasional di balik kreativitas Kemenag/Menteri Agama terkait rencana penyiapan teks khotbah untuk masjid. Secara posisional, kreativitas rejimentasi (penyeragamaan) khotbah ini karena Kemenag/Menteri Agama masih merasa sebagai militer dan bukan sipil (civilian) meski sudah pensiun," lanjut dia.

Penafsiran selanjutnya menurut Imam adalah Menag Fachrul tengah berusaha menyelamatkan diri dari ancaman reshuffle kabinet. Namun, di sisi lain, Imam mengatakan bisa saja niat Kemenag ini ditafsirkan baik untuk umat.

"Mungkin ini bisa menyelamatkan dari kemungkinan di-reshuffle dari kabinet. (Selanjutnya) niatnya baik untuk konsolodidasi umat dan bangsa," kata Imam. Sebelumnya diberitakan, Kemenag akan menyiapkan naskah khotbah Jumat.

Pembuatan naskah khotbah akan melibatkan ulama hingga akademisi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan naskah bersifat alternatif. Jadi tidak ada kewajiban bagi penceramah untuk dibacakan.

"Naskah yang disusun bisa dijadikan alternatif. Tidak ada kewajiban setiap masjid dan penceramah untuk menggunakan naskah khotbah Jumat yang diterbitkan Kemenag," ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenag, Rabu (25/11).(*)

Editor : Nova Anggraini | Sumber : detik.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]