WAWANCARA EKSKLUSIF: Irman Gusman Buka-bukaan Soal Rp100 Juta Hingga Skenario OTT oleh KPK


Kamis, 26 November 2020 - 19:57:44 WIB
WAWANCARA EKSKLUSIF: Irman Gusman Buka-bukaan Soal Rp100 Juta Hingga Skenario OTT oleh KPK Irman Gusman Buka-bukaan Soal OTT KPK

HARIANHALUAN.COM - Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo saat ini sedang menjadi perbincangan publik. Pasalnya, ia beserta istri dan juga beberapa pejabat KKP lainnya ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK mengenai kasus ekspor benih lobster. Hal yang sama juga pernah dialami oleh mantan Ketua DPD RI, Irman Gusman dalam kasus korupsi kuota impor gula. Ia dijatuhi hukuman oleh MA menjadi 3,5 tahun yang semula diputuskan 4,5 tahun di pengadilan tingkat pertama.

Hakim menyatakan bahwa Irman Gusman terbukti secara sah dan meyakinkan  bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Irman juga didenda Rp50 juta subsider satu bulan kurungan. terbukti menerima suap sebesar Rp100 juta dari Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto dan istrinya, Memi. Irman terbukti menggunakan pengaruhnya sebagai Ketua DPD untuk mengatur pemberian kuota gula impor dari Perum Bulog kepada perusahaan milik Xaveriandy.

Baca Juga : Vaksinasi Covid Prioritas untuk Wartawan, Ketua IJTI Sumbar: Perlu Diapresiasi

Berikut petikan wawancara ekslusif Irman Gusman bersama Co-founder chanel YouTube Total Politik, Arie Putra, Kamis (26/11).

    ⁃     Bagaimana kejadian penangkapan Anda pada saat itu di kasus korupsi kuota impor gula ?

Baca Juga : Sepekan Usai Divaksin Sinovac, Bupati Ini Positif Covid-19

Itu merupakan sebuah perjalanan hukum di negara kita. Bagaimana orang seperti saya yang menduduki jabatan yang strategis saja bisa terkena, apapun namanya. Kalau bicara mengenai bagaimana saat itu, orang sudah tahu semuanya. Apakah saya punya niat jahat ? Kalau kita lihat kan bagaimana cara kita mengatasi kelangkaan gula. Sehingga saya berinisiatif melakukan telepon dan segala macam supaya rakyat Sumbar mendapatkan harga gula yang wajar dari Rp 16 ribu jadi Rp 12 ribu. 

Sesungguhnya gula menjadi permainan yang luar biasa. Rantai pemainnya banyak, saya sebelumnya sudah mengatakan jangan pakai kuota pakai tarif saja. Jadi dia (Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto) menyampaikan rasa terimakasih dengan membawa oleh-oleh. Dengan itu saya dianggap negara menerima sesuatu. Pada saat itu uangnya masih dalam bungkusan, saat mereka ingin membawa saya ke kantor KPK saya tanya mana surat tugasnya dan tidak ada.

Baca Juga : Waduh! Menkes Sebut Testing Corona di RI Salah, Maksudnya Gimana?

    ⁃    Saat menjalani persidangan, pertanyaan seperti apa saja yang ditanyakan pada waktu itu ?

Ada pertanyaan apa saya memiliki keinginan untuk menjadi calon presiden. Memang ada pertanyaan seperti itu dari Jaksa KPK, mungkin mereka melihat perjalanan karir bagaimana selama ini. Saya menjawab pada saat itu normatif saja memang pernah. Tentu saja itu menjadi pertanyaan publik. Kemudian ada juga yang mengatakan ini menjadi langkah pertama untuk menangkap mafia gula lainnya. Sampai sekarang mana, kalau memang iya harusnya ketemu. Jadi itu hanya untuk membenarkan sikap dia saja.

Baca Juga : PPATK: Penerapan UU Pencucian Uang Butuh Dukungan Hakim

Saya termasuk orang yang komit mengenai pemberantasan korupsi ini. Belakangan saya lihat terpengaruh dengan opini publik, sehingga apapun yang dilakukan KPK tidak pernah salah. Mereka melakukan OTT banyak yang pas kasus saya yang hanya Rp 100 juta tapi untuk biaya penyidik lebih besar bahkan milyaran. Sampai sekarang tidak tertangkap mafia gulanya, ini kan nampak betul skenario di belakangnya.

    ⁃    Jika dakwaan digugurkan, bagaimana tanggapan Anda dan tanggungjawab negara ?

Saya seolah-olah waktu itu dikenakan kasus gratifikasi. Ya kita kembalikan saja biar masyarakat yang menilai. Hukum yang diterapkan di negara kita ya hukum formal, mudah-mudahn itu menjadi hikmah untuk saya. Buat kita ya menjadi pembelajaran dan seharusnya KPK itu menjadi leading sector dalam pemberantasan korupsi dengan memberikan dampak penurunan tingkat tindakan korupsi jangan hanya euforia.

    ⁃    Menurut Anda KPK menjadi alat penegak hukum atau alat politik ?

Ya harapan saya di awal kan KPK sebagai alat penegak hukum ketika aparat hukum kita tidak berfungsi. Tapi pada perjalanannya terdapat oknum-oknum, jika dibuka semuanya maka terbuka saja. Sudah menjadi rahasia umum, Fahri Hamzah tahu semuanya itu kan. Untuk membuat dia super power maka dia mengatakan lembaga lain tidak bersih. Harapan kita ya pemberantasan korupsi yang lebih sistematis yang berujung untuk kesejahteraan rakyat. 

Seharusnya ada cara dan metode yang lebih baik untuk bagaimana memberantas korupsi. Harusnya KPK disamping pemberantasan juga harus ada tindakan pencegahan lebih diutamakan. Istilahnya kalau ditangkap untuk memberikan shock therapy tetapi setelah itu pembenahan terus dilakukan. 

       ⁃    Pada saat ditangkap dan menjalani waktu di penjara, banyak pejabat yang mengunjungi Anda. Wapres JK saat itu ikut hadir, apa yang dibicarakan ?

Saat kejadian saya beliau sedang di luar negeri. Setelah kembali besoknya beliau langsung mengunjungi saya, ya itu kan menunjukan keyakinan pada saya. Saat itu beberapa teman lainnya KPK melarang untuk mengunjungi saya, Fadli Zon, Fahri mengirim surat sebagai Pimpinan DPR tidak dijawab-jawab. Kehadiran beliau sebetulnya memberikan dukungan moral. Minimal secara fisik baik-baik saja. Pak JK juga memberikan salam dari Pak Joko Widodo. (*)

Reporter : Merinda Faradianti | Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]