Industri Pengolahan Non Migas Alami Kontraksi -4,02 Persen


Senin, 30 November 2020 - 10:54:32 WIB
Industri Pengolahan Non Migas Alami Kontraksi -4,02 Persen Inpektur Jenderal Kementerian Perindustruan (Kemenperin) RI, Arus Gunawan. Foto/Milna

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Inpektur Jenderal Kementerian Perindustruan (Kemenperin) RI, Arus Gunawan mengatakan, pada saat ini negara menghadapi pandemi virus Corona atau Covid-19 yang telah hampir satu tahun mengalami tekanan yang luar biasa, bahkan terjadi resesi ekonomi.

Menurut Arus, pemulihan ekonomi merupakan agenda utama yang sedang dilakukan oleh negara-negara seluruh dunia baik bersifat pencegahan, pengobatan, maupun penguatan imunitas melalui penyediaan vaksin Covid-19.

Baca Juga : Kenapa Ya? Ribuan Pedagang Daging Sapi Gulung Tikar

"Di Indonesia sendiri pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja industri pengolahan non migas pada kuartal 3 tahun 2020. Industri pengolahan non migas mengalami kontraksi dengan tumbuh -4,02 persen," kata Arus dalam acara pelaksanaan Wisuda Politeknik ATI Padang ke-40, dilansir dari Youtube Politeknik ATI Padang, Senin (30/11/2020).

Agus menyebutkan, pertumbuhan ini mengalami perbaikan dari semester II yang mana lebih dalam yaitu -5,74 persen. Minus pengolahan non migas masih menjadi kontribusi yang cukup signifikan yaitu sebesar 17,9 persen, nilai ekspor Januari-Oktober 2020 100,614 miliar dolar dan menghasilkan neraca surplus sebesar 11,76 persen miliar dolar.

Baca Juga : Jarang Dilirik, Saham Raja Lakban Ini Punya Kas Berlimpah, Seperti Apa Profitabilitasnya?

Adapun nilai investasi disektor industri pada periode Januari-September 2020 sebesar Rp201,9 triliun atau naik sebesar 37 persen dibanding pada tahun 2019 sebesar Rp147,3 triliun.

"Di masa pandemi sektor industri turun rata-ratanya hingga 40 persen. Saat ini sudah mengalami perbaikan sehingga menjadi 50,5 persen pada April-Oktober 2020," ujar Arus.

Baca Juga : Harga Cabai Rawit di Pasar Raya Padang Makin Pedas, Tembus Rp72.000 Per Kg

Arus menuturkan, sejalan dengan kebijakan pemerintah Kementerian Perindustrian juga berupaya memulihakan perekonomian dan meningkatkan daya saing industri nasional. Pertama, menjaga produktifitas industri selama pandemi melalui kebijakan pemberian izin operasional dan mobilitas indusri.

"Dimana hingga 16 November 2020 telah memberikan izin tersebut sebanyak 18.323 perusahaan yang mampu melindungi pekerja pada masa pandemi sekitar 5 juta orang," ulas Arus.

Baca Juga : Dukung Pelaku UMKM, Dua Perusahaan Raksasa Ini Integrasikan Layanan Iklan Digital

Kedua, peningkatan kemampuan industri dalam penanganan Covid-19 khususnya industri farmasi, obat-obatan yang dimasa pandemi ini dibutuhkan. Kemudian alat kesehatan berupa fasilitas pengembangan ventilator dan peralatan medis seperti masker dan alat pelindung diri.

Ketiga, program peningkatan penggunaan produk dalam negeri dimana potensi belanja pemerintah untuk belanja modal di pusat tahun 2020 mencapai Rp546,5 triliun dan pembelian dari BUMN (Pertamina dan PLN) mencapai 60,5 miliar dolar untuk periode 10 tahun yang akan datang.

"Kami harapkan potensi pembelian ini dapat dimanfaatkan oleh industri-indusri dalam negeri," harap Arus.

Keempat, pengembangkan kawasan industri yang didalam RPJM 2020-2024 sebanyak 27 kawasan industri, 14 kawasan diantaranya industri di Sumatera, 6 kawasan industri di Kalimantan, 1 kawasan industri di Madura, 1 kawasan industri di Jawa, 3 kawasan industri di Sulawesi dan Maluku, 1 kawasan industri di Papua, dan 1 kawasan industri di Nusa Tenggara.

"Kami harapkan dengan adanya kawasan industri program percepatan industri dapat berjalan dengan baik," harap Arus lagi.

Kelima, pengembangan kawasan industri halal dengan telah diterbitan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 17 Tahun 2020 tentang Tata Cara Memperoleh Surat Keterangan Dalam Rangka Pembentukan Kawasan Industri Halal.

Keenam, implementasi match industri 4.0 dengan 7 sektor prioritas yaitu industri makanan dan minuman, industri kimia, industri tekstil dan busana, industri otomotif, industri elektronika, industri farmasi, dan industri alat kesehatan. Melalui proses 10 strategi prioritas yang untuk mendukung industri 4.0.

Ketujuh, inovasi digital dan pengembangkan SDM industri 4.0 yang diharapkan akan menjadi solusi baru satu atap penerapan industri 4.0 di Indonesia dan jendela 4.0 untuk dunia.

"Ini kami harapkan dengan pembangunan dan program ini industri-industri dapat memanfaatkan fasiliitas ini untuk pengembangan digital," ucap Arus.

Kedelapan, kebijakan UMKM sebagai upaya mitigasi dampak Covid-19 pemerintah melaksanakan program bangga buatan Indonesia merupakan gerakan nasional gotong royong baik pemerintah, swasta, masyarakat belanja produk UMKM dengan target sampai Desember 2020 sebanyak 2 juta UMKM.

Kesembilan, program substitusi impor dengan target 35 persen pada akhir tahun 2020 melalui penurunan impor dengan nilai terbesar secara stimultan dengan cara peningkatan produksi mendorong pendalam industri dan peningkatan investasi.

"Sembilan kebijakan strategi ini kami harapkan bisa terlaksanakan dengan baik," tukasnya. (*)

Reporter : Milna Miana | Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]