Karakter Antikorupsi Ditentukan oleh Keluarga, Terapkan Prinsip 5K Ini


Ahad, 06 Desember 2020 - 17:47:24 WIB
Karakter Antikorupsi Ditentukan oleh Keluarga, Terapkan Prinsip 5K Ini Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Psikolog klinis Ratih Ibrahim mengatakan, keluarga memiliki peranan penting dalam menentukan karakter antikorupsi pada anak.

“Keluarga adalah nukleus (inti) bangsa, sumber dari ketahanan bangsa,” ujar Ratih dalam webinar “Anti Korupsi Membangun Negeri” yang diselenggarakan Puspeka Kemendikbud di Jakarta, Sabtu (5/12).

Baca Juga : Ini Dia 8 Anime Terbaik yang Mirip dengan Attack on Titan

Dia menambahkan, dalam mencegah perilaku korupsi, yang perlu diperhatikan yakni pengasuhan dan penerapan nilai antikorupsi, orang tua teladan, dan pola asuh dengan prinsip 5K.

Prinsip 5K tersebut, yakni kasih, konsekuen, konsisten, kompak, dan kompromi.

Baca Juga : Chef Renatta Sebut Bukan Lemak yang Bikin Gemuk tapi Gula, Ini Penjelasannya

“Jika kita mengasihi anak kita, mengasihi keluarga kita, kita akan fokus 100 persen untuk keluarga. Tidak ada memberikan makan anak kita dengan uang haram,” tambah dia.

Konsekuen memiliki artian tidak mengajarkan anak korupsi, orang tuanya juga tidak memiliki perilaku korupsi. Semuanya harus berasal dari hasil kerja keras yang jujur.

Baca Juga : Ini Dia Orang Terkaya Indonesia versi Sri Mulyani

“Sikap konsekuen ini harus dilakukan secara konsisten kepada seluruh anggota keluarga. Keluarga juga harus kompak, maka menjadi teladan dan antikorupsi,” terang dia.

Terakhir, adalah kompromi, yakni melakukan penyesuaian dengan kebutuhan. Misalnya, jika besar pasak daripada tiang kita mengkompromikan dan menurunkan ego kita.

Baca Juga : Ini 2 Cara Tepat Minum Jus Biar Tubuh Tetap Prima

Selain keluarga, perilaku antikorupsi juga harus berasal dari individu. Lingkungan keluarga dan sekolah turut membentuk karakter tersebut.

Inspektur Jenderal Kemendikbud Chatarina M Girsang mengatakan, perilaku korupsi terjadi karena tiga hal yakni pembenaran, adanya kesempatan, dan tekanan.

“Pembenaran yang dimaksud, misalnya korupsi adalah budaya. Padahal, budaya kita tidak ada yang namanya korupsi, itu hanya pembenaran,” kata Chatarina.

Untuk memberantas korupsi, kata Chatarina, tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga masyarakat dan juga siswa.(*)
 

Editor : Nova Anggraini | Sumber : republika
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]