Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam


Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB
Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam Bustami Narda

TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. 

Oleh: Bustami Narda - Wartawan 

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Selama tahun 2020, rakyat Indonesia seperti nyaris tak putus dirundung malang. Hari demi hari harus dilaluinya dengan penuh kegetiran hidup yang bukan kepalang, bagaikan beban berat senggulung batu. 

Bayangkan! Belum lagi hilang riuh rendah yang mewarnai tahapan Pemilihan Presiden (Pilpres)  2019 yang berujung pada kematian sekitar 700 orang anggota KPPS di seluruh Indonesia dan kematian sejumlah pendemo ketika menyambut pengumuman hasil Pilpres oleh KPU saat mendekati akhir tahun 2019, pada bulan Maret 2020 kita ditimpa lagi oleh wabah Virus Corona mematikan. 

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Ekonomi yang sudah terasa makin melambat di bulan-bulan terakhir tahun 2019 hingga ke awal-awal tahun 2020, begitu Corona datang, langsung anjlok. 

Ketika masyarakat tidak boleh keluar rumah guna menghentikan penyebaran virus Corona,  di saat kantor, sekolah, kampus, mall, toko, rumah makan, restoran, tempat hiburan malam, hotel, pasar, pabrik dan sejenisnya terpaksa ditutup demi menghentikan penyebaran virus yang belum ada obatnya itu, saat itulah penghidupan masyarakat semakin tertekan. 

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Ketika Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tak terkendali lagi karena perusahaan sudah tak mampu lagi menggaji karyawannya, kehidupan masyarakat tambah semakin parah. 

Dalam kondisi seperti ini, pekerja dan masyarakat pun dihebohkan pula oleh munculnya UU Cipta Kerja yang banyak menuai pro kontra. Suasana kebatinan masyarakat yang telah demikian mencekam, lantas diperparah lagi oleh pro kontra UU Omni Bus Law ini. Masyarakat turun ke jalan dalam ancaman pandemi yang siap membunuh setiap saat. 

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Tak lama kemudian, datanglah Bantuan Sosial (Bansos) yang nyaris sebanyak biji beras bantuan itu pula persoalannya.  Mulai dari pembagian yang nyaris tak merata, adanya beras palsu, sampai pada pemotongan bantuan yang berujung pada ditangkapnya Menteri Sosial dan sejumlah koleganya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Hingga kini, di tengah-tengah ancaman virus Corona yang masih menakutkan ini, ekonomi semakin terpuruk. Daya beli masyarakat benar-benar tak berdaya. Pasar-pasar seperti telah mati suri. Pengangguran sudah lebih dari menggunung. 

Namun semenjak beberapa waktu belakangan ini, khususnya sejak kepulangan Imam Besar Habib Rizieq Sihab (HRS) ke tanah air setelah 3,5 tahun tinggal di Mekkah, Arab Saudi, kegetiran hidup rakyat yang sudah mencapai ubun-ubun ini tampaknya harus pula ditimpuk lagi oleh kegaduhan sosial dan politik yang menyita banyak perhatian.  

Bermula dari datangnya jutaan pengikut HRS menyambut kepulangannya di Bandara Soekarno Hatta, berlanjut ke Pondok Pesantrennya di Mega Mendung, Jawa Barat, berturut-turut  pada penyambutannya di Markas Front Pembela Islam(FPI) Petamburan, serta acara pernikahan putrinya dan acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang juga di Petamburan, Jakarta Pusat.  Fenomena ini berujung pada meninggalnya 6 Laskar FPI pengawal HRS di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek. Belum cukup itu, peristiwa ini berlanjut pada penahanan HRS dan terakhir sampailah pada pembubaran dan dinyatakannya FPI sebagai organisasi terlarang  oleh Pemerintah, (30/12-2020).  

Dari semua perjalanan hidup yang dialami rakyat Indonesia selama tahun 2020 ini, sudah barang tentu kita harapkan berakhir di tahun 2020 ini, seiring dengan berakhirnya tahun kelam ini.

Sebab jika kondisi tahun kegelapan ini tetap berlanjut ke tahun 2021, tidak dapat dibayangkan seberat apa beban yang harus dipikul rakyat negeri ini nanti. 

Kita tentu berharap, khusus untuk kasus-kasus yang sifatnya politis, terutama yang berkaitan dengan pertentangan rakyat dengan Pemerintah, harusnya kedua belah pihak bisa menahan diri, berjiwa besar dan saling memaklumi kondisi kehidupan yang sangat sulit saat ini. 

Di satu pihak, rakyat yang memiliki persoalan dengan Pemerintah kiranya bisa memaklumi kondisi yang sedang susah saat ini. Setidaknya, patuhilah ketentuan yang berlaku dengan penuh disiplin. Di sisi lain, pihak Pemerintah sungguh sangat diharapkan pula bisa menahan diri agar persoalan-persoalan yang muncul bisa diperkecil. Pemerintah adalah ibarat orang tua bagi rakyat yang dipimpinnya. Bukan lawannya.  

Tak selevel Pemerintah jika merasa berlawanan dengan rakyatnya sendiri. Terlepas dari mendukung atau tidak di saat pesta demokrasi berlangsung tempo hari, setelah pesta usai, Pemerintah adalah memimpin seluruh rakyatnya tanpa kecuali. Rakyat pun demikian pula. Baik yang dia pilih atau yang tidak dia pilih yang jadi pemimpin, rakyat harus turut menggaji pemimpinnya melalui pajak yang dibayarnya. Rakyat tak bisa mengatakan tak mau membayar pajak untuk menggaji pemimpin karena bukan yang dipilihnya yang menjadi pemimpin. Tidak bisa begitu. Karena itu, jika seorang calon di saat pemilihan dia adalah seorang politisi, setelah memimpin dia haruslah bisa jadi seorang negarawan. 

Jika diibaratkan orang tua yang punya anak banyak, tentu tidak mungkin sama saja perangai anaknya semua. Ada anak yang penurut dan patuh,  ada pula yang kritis dan suka memprotes orang tuanya. Namun semuanya adalah anak bagi orang tua. Sayang kepada anak yang kritis dengan sayang kepada anak yang penurut  harusnya janganlah berbeda. Kalau anak yang patuh  disayangi dengan memberinya senyuman, anak yang kritis dan suka protes disayangi dengan cara memberinya nasehat, dengan cara merangkulnya dengan jiwa besar, dengan dialog, dengan diskusi, dengan tujuan sama-sama disayangi. Bukan dengan sikap belah bambu. Jangan sampai kesalahan anak yang suka protes dicari-cari, kesalahan anak penurut ditutup-tutupi.  

Anak yang  penurut sangat berguna untuk memberitahu kelebihan orang tuanya, sedangkan anak yang suka protes sangat berguna untuk  memberitahu kekurangan orang tuanya. Jadi keduanya sama-sama memiliki sisi baik jika dilihat dari sisi baiknya. Sedangkan jika dilihat dari sisi buruknya, anak penurut bisa membuat orang tuanya terjerumus karena dia selalu bilang yang baik-baiknya saja pada orang tuanya. Sedangkan anak yang suka protes bisa mempermalukan orang tuanya karena dia selalu mengemukakan sisi kekurangan orang tuanya saja. Namun sebaiknya anak yang patuh janganlah dimanjakan agar mereka tidak cengeng karena merasa di atas angin,  sedangkan anak yang suka protes janganlah dipukuli agar mereka tidak dendam karena merasa diperlakukan tidak adil.

Nah, sekali lagi, marilah kita sama-sama bertekad agar tahun 2021 menjadi tahun yang lebih menggembirakan bagi rakyat Indonesia. Semoga...!*

Editor : Rahma Nurjana
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]