Kata Antropolog Unand Soal Langkah Pemerintah Menindak FPI


Ahad, 10 Januari 2021 - 19:29:25 WIB
Kata Antropolog Unand Soal Langkah Pemerintah Menindak FPI Antropolog Universitas Andalas (Unand) Padang, Dr Sri Setiawati.

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Antropolog Universitas Andalas (Unand) Padang, Dr Sri Setiawati memaparkan, Front Pembela Islam (FPI) berdiri tahun 1998 di Jakarta. Sentralnya berdiri dalam pergerakan kultur Betawi maka figur yang muncul dalam Habib Rizieq Shibab adalah karakter Betawi.

"Jadi ketika FPI hadir dalam pergerakan yang ada karakteristik dalam ormas ini. Pertama adalah berani dan tegas. Kedua, mandiri dan independen. Ketiga, militan. Keempat, dialogi dan kompromistis. Kelima, tradisional moderat, serta ada struktural dan formalitas," ujar Sri Setiawati dalam kegiatan Advokat Sumbar Bicara seperti ditayangkan PadangTV dengan Tema FPI Reborn, Bagaimana di Sumbar?, dilansir Harianhaluan.com, Minggu (10/1/2021).

Baca Juga : Pasca Oknum Pegawai Lapas Terlibat Narkoba, Kalapas Bukittinggi Gelar Razia dan Bentuk Tim Khusus

Menurut Sri Setiawati, dari sekian karakter tersebut mencerminkan pergerakan FPI yang diamatinya dalam kajian pada tahun 2010 sampai kini. Selain itu sebagai antopolog, Sri juga mencoba hadir dalam sejumlah pergerakan ormas Islam yang ada di Sumatera Barat.

"Saya berangkat dari kajian pergerakan FPI karena ada bagian dalam disertasinya terkait FPI mulai mengeluarkan amal makruf nahi muhkar. Itu menjadi sentral azas dalam pergerakan FPI terutama memberantas maksiat dan sebagainya," ujar Sri Setiawati.

Baca Juga : Aksi Pencurian Kotak Amal di Dharmasraya Ini Terekam CCTV

Terkait disertasinya itu, Sri Setiawatì menyebutkan juga sempat berdialog dengan Habib Rizieq Shibab pada tahun 2012. Saat itu FPI masih bagaimana image orang, stigamrisasi yang terjadi, sweeping, radikalisme yang terjadi brutal dan sebagainya.

"Saya rasa ada yang tidak feer dalam publikasi di sini. Selama ini masyarakat dicekokin dengan media-media yang hanya melihat dari satu sisi. Ketika kita melihat sisi lain bagaimana FPI membantu kemanusiaan, kasus di Aceh, dan di sini dulunya. Itu semua tidak pernah diekspos," ucap Sri Setiawati.

Baca Juga : Pemerintahan Kecamatan IV Jurai Lakukan Vaksinasi Covid-19

Menurut Sri Setiawati, dalam setiap pergerakan pasti ada dinamika seperti konflik internal dan sebagainya, tidak hanya terjadi pada FPI bahjan setiap ormas Islam. Dia juga mempelajari pergerakan sosial ďalam organisasi yang terjadi di Sumatera Barat.

"Terutama dalam pergerakan organisasi Islam. Itu karena ada spirit yang luar biasa. Kita ingat gerakan Padri ada istilah wahabi dan sebagainya. Ada spirit yang luar biasa sesuai karakter orang-orang Minang yang ada di dalam ormas tersebut. Ķultur itu membentuk," ulas Sri Setiawati.

Baca Juga : Lakukan Safari Khusus, Pemkab Pessel Bagi-bagi Bantuan untuk Masjid Rp7,5 Juta 

Sri Setiawati menilai momen itu tepat saat Habib Rizieq Shibab mendirikan FPI yang menjadi tokoh sentral dalam ormas tersebut, ada kultur Betawi yang berbicara secara ngablak, dan tegas.

"Jadi karakter FPI itu tercermin dari pendirinya melihatlan sisi-sisi perjuangannya. Jadi masing-masung orang punya cara untuk mencapai satu tujuan organisasi pergerakannya. Termasuk Muhammadiyah, dulu juga ada pergerakan aktivis perempuan Islam," imbuh Sri Setiawati.

Lebih lanjut, kata Sri Setiawati, maka sebetulnya pendiri organisasi itu lah yang memberikan suatu norma, ide yang melekat kepada anggota-anggotanya. Terkait dengan FPI di Sumatera Barat, dia mengikuti dari awal pergerakannya.

"Pergerakan FPI Sumatera Barat masih militansi yang bersifat sporalis. Itu paling dominan ada di Bukittinggi, Padang juga termasuk baru. Kalau kita lihat di Jakarta memang heboh, sweeping setiap sebentar, tapi di Sumatera Barat bisa dihitung kok (pergerakannya)," tambah Sri Setiawati. (*)

Reporter : Milna Miana | Editor : Milna Miana
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]