Perajin Batik Tanah Liat Dharmasraya Kembangkan Motif Berbasis Kearifan Lokal


Sabtu, 16 Januari 2021 - 14:17:30 WIB
Perajin Batik Tanah Liat Dharmasraya Kembangkan Motif Berbasis Kearifan Lokal Perajin di salah satu Sentra Kerajinan Batik Tanah Liat di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, saat melakukan proses pembatikan dengan metode tradisional khas suku Jawa, Batik Tulis, bermotifkan corak khas suku Minangkabau serta motif berlatarkan tema tentang Dharmasraya tempo dulu dan kekinian.

DHARMASRAYA, HARIANHALUAN.COM - Para perajin Batik Tanah Liat di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, mengembangkan motif-motif berbasiskan kearifan lokal masyarakat adat setempat yang menjadi strategi pembeda dalam meningkatkan daya saing dalam memasarkan produk yang dihasilkan. 

Kabid Perindustrian pada Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Kumperdag) Kabupaten Dharmasraya, Elsi Oktavia, di Dharmasraya, Sabtu (16/01/2021), mengatakan hingga saat ini sedikitnya sudah dikembangkan sebanyak 20 motif khas suku Minangkabau serta motif berlatarkan tema tentang Dharmasraya tempo dulu dan kekinian. 

Baca Juga : Perluas Layanan Perbankan Seamless dan Terdigitalisasi, PermataBank Resmikan Model Branch Lippo Cikarang

"Diantara motif tersebut seperti Randang Pakih, Candi Padang Roco, Candi Pulau Sawa, Jembatan Kawat Sungai Dareh serta beragam motif unggulan lainnya yang lazim dipakai pada produk kerajinan songket khas suku Minangkabau, " Ungkapnya. 

Menurutnya, batik tanah liat tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk akulturasi budaya dua suku besar nusantara, yakni Suku Jawa dan Minangkabau, karena bertemunya dua nilai budaya dalam satu karya seni berbentuk kain yang bisa dijadikan simbol kerukunan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. 

Baca Juga : Tips Sederhana Atur Keuangan Agar Bisa Pangkas Utang

Hal itu, lanjutnya, bisa dibuktikan dari teknik pembatikan dengan metode batik tulis khas suku Jawa yang dibawa oleh warga transmigrasi asal pulau tersebut yang dipadukan dengan pengerjaannya dengan menorehkan motif-motif khas suku Minangkabau pada objek kain hingga melahirkan sebuah karya seni yang indah dan bisa dikreasikan dalam berbagai bentuk dan desain pada produk pakaian atau fashionable. 

"Saat ini karya-karya itu telah dilahirkan oleh komunitas perajin pada dua sentra Kerajinan Batik Tanah Liat yang berada di Jorong Padang Sari Nagari Tebing Tinggi dan Jorong Sikai Nagari Sitiung dengan populasi perajin berjumlah 35 orang, " Ulasnya. 

Baca Juga : Hati-hati Pengguna Snack Video! OJK Sebut Ilegal

Untuk mendukung upaya para perajin dalam meningkatkan varian dan kapasitas produksi mereka, pada 2021 pihaknya bersama pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sudah menganggarkan pengadaan mesin printing beserta alat pendukung produksi lainnya. 

"Jika terealisasi maka para perajin bisa melakukan percepatan produksi melalui penambahan varian batik printing disamping tetap mempertahankan pola tradisional batik tulis, " terangnya. 

Baca Juga : BIB Tuah Sakato Hasilkan Pemasukan 400 Juta Pertahun

Disinggung tentang omzet penjualan produk batik tanah liat hasil produksi perajin asal di daerah itu, salah seorang perajin, Nurhalimah, mengungkapkan untuk satu Sentra Produksi saat ini sudah mampu meraih total angka penjualan hingga posisi Rp 20 juta per bulan. 

Omzet tersebut, jelasnya, diperoleh melalui penjualan produk dengan harga bervariasi sesuai jenis bahan dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya, yakni berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Untuk lama pengerjaannya, ia menyebutkan setiap satu lembar kain berukuran panjang dua meter dan lebar 1,15 meter dengan motif yang tidak terlalu sulit dibutuhkan waktu produksi tiga hari untuk satu orang perajin.

"Namun proses produksi bisa saja menjadi lebih lama jika cuaca tidak mendukung, mengingat proses penjemuran kain-kain yang selesai dibatik masih memanfaatkan sinar matahari sebagai media pengeringan, " Sebutnya.

Terkait kendala utama dalam produksi mereka, ia mengatakan persoalan ketersediaan bahan baku akibat proses pengiriman yang terkadang lama serta harga beli yang dinilai cukup tinggi karena masih membeli bahan baku kain dengan partai terbatas, masih menjadi faktor penghambat dalam upaya pemenuhan permintaan dari pelanggan. 

Keterbatasan tersebut, lanjutnya, cukup berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh para perajin karena ongkos produksi yang masih tinggi serta proses pengerjaan yang cukup lama. 

"Saat ini masing-masing perajin mendapatkan upah kerja sebesar Rp 70 ribu untuk selembar kain yang dihasilkan, " Ujarnya. 

Terpisah, salah seorang kolektor batik asal daerah itu, Bobby Saputra, mengungkapkan bahwa tahapan pengawasan kualitas produksi atau quality control yang menjadi faktor penting dalam suatu produksi, harus menjadi perhatian para perajin dan para pembina sentra produksi Batik Tanah Liat di Dharmasraya. 

"Secara umum sudah layak jual dengan ragam motif dan varian kain yang digunakan, namun kombinasi warna serta upaya pengawetan warna pada saat proses pembatikan agar tidak cepat luntur adalah salah satu poin yang harus ditingkatkan agar daya saing produk di pasaran tekstil bisa meningkat," tutupnya. (*)

 

Reporter : Rully Firmansyah | Editor : Heldi Satria
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]