Warga Harus Keluar dari Mamuju, Hoaks atau Fakta? Simak Penjelasan BMKG dan BNPB


Ahad, 17 Januari 2021 - 14:35:17 WIB
Warga Harus Keluar dari Mamuju, Hoaks atau Fakta? Simak Penjelasan BMKG dan BNPB Doni Monardo

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan kabar yang mengatakan masyarakat harus keluar dari Mamuju, Sulawesi Barat, sebagai hoaks. Isu yang mengharuskan masyarakat untuk keluar dari Mamuju ini muncul didahului hoaks lainnya, yakni bakal ada gempa susulan yang lebih jauh besar dari peristiwa sebelumnya.

"Jangan mudah percaya dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan," kata Doni dalam keterangan pers yang diterima Republika pada Ahad (17/1).

Baca Juga : Wah! 1,1 Juta Dosis Vaksin AstraZeneca Sampai di Tanah Air

Doni meminta agar masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan hoaks yang beredar terkait peristiwa gempabumi Sulawesi Barat (Sulbar) 6,2 magnitudo. Hoaks tersebut dianggap meresahkan masyarakat.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, informasi mengenai imbauan pemerintah untuk mengosongkan wilayah Mamuju adalah tidak benar. Ia memastikan pemerintah tidak pernah meminta masyarakat untuk keluar dari Mamuju. 
Ia mengatakan, informasi yang dikeluarkan BMKG hanya imbauan masyarakat menjauhi bangunan yang sudah roboh. 

Baca Juga : Tarif Tenaga Listrik Pelanggan Nonsubsidi Periode April–Juni 2021 masih Tetap

"Tidak pernah BMKG menyatakan hal seperti itu. Yang kami imbau adalah jauhilah bangunan-bangunan yang sudah runtuh," ujar Dwikorita.

Dwikorita mengatakan, masyarakat memang perlu mewaspadai gempa susulan. Namun, ia mengatakan, kekuatannya tidak akan sampai magnitudo 8,2 magnitudo. 

Baca Juga : Tak Hanya Rekam Pelanggar Lalu Lintas, Ini Fungsi Lain dari ETLE

"Kurang lebih sebesar kemarin (Magnitudo 6,2), itu yang paling besar, tetapi akan lebih banyak yang lebih rendah dari kemarin," kata Dwikorita. 

Sebelumnya beredar pesan singkat bahwa bencana di Sulawesi Barat (Sulbar) berpotensi melebihi gempa bumi dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018. Karena itu, perlu ada instruksi agar masyarakat keluar dari Mamuju. 

Baca Juga : Menpan RB Larang ASN dan Keluarganya ke Luar Daerah Selama 10-14 Maret

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat terjadi 32 kali gempa susulan di wilayah Majene-Mamuju pascagempa kuat Jumat (15/1) dinihari. Aktivitas tersebut sangat rendah sehingga patut diwaspadai masih ada medan tegangan tersimpan yang dapat memicu gempa kuat.

"Jika mencermati aktivitas gempa Majene saat ini, tampak produktivitas gempa susulannya sangat rendah. Padahal stasiun seismik BMKG sudah cukup baik sebarannya di daerah tersebut. Sehingga gempa-gempa kecil pun akan dapat terekam dengan baik. Namun hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa gempa Majene ini memang miskin gempa susulan (lack of aftershocks)," kata Koordinator bidang Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Sabtu (16/1).(*)

Editor : Nova Anggraini | Sumber : republika
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]