Ingin Corona Tak Ada Lagi di Indonesia? Ini Saran dari Dokter Muhammadiyah


Selasa, 26 Januari 2021 - 17:28:32 WIB
Ingin Corona Tak Ada Lagi di Indonesia? Ini Saran dari Dokter Muhammadiyah Direktur Pelayanan Medik RS PKU Muhammadiyah, dr. Nurcholid Umam Kurniawan

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Direktur Pelayanan Medik RS PKU Muhammadiyah, dr. Nurcholid Umam Kurniawan mengatakan, jika menginginkan virus corona atau Covid-19 tidak ada lagi di negeri ini maka 80 persen masyarakat Indonesia harus divaksin.

Dilansir dari laman Muhammadiyah, Selasa (26/1/2021), Nurcholid meyakini kalau vaksinasi dilakukan hingga 80 persen dari seluruh masyarakat di Indonesia maka tidak sampai 2 tahun Covid-19 di Indonesia tidak akan ada lagi.

Baca Juga : Termasuk Kepulauan Mentawai, Luhut Ungkap Potensi Gempa Megathrust di Pantai Barat Sumatera dan Selatan Jawa

Dia menyambut baik kebijakan pemerintah dalam mendistribusikan vaksin ke seluruh Indonesia. Hanya dengan vaksinasi yang efektif sebagai herd immunty atau kekebalan bagi masyarakat agar terhindar dari Covid-19.

Dia mencermati bahwa vaksinasi saat ini baru sekitar 2,5 juta orang yang menjangkau tenaga kesehatan. Cakupan rendah artinya untuk membentuk herd immunity atau kekebalan masyarakat.

Baca Juga : Pengacara Sayangkan Pemecatan, Marzuki Alie akan Laporkan 5 Kader Partai Demokrat ke Bareskrim

"Harusnya yang divaksin bisa mencapai 80 persen warga masyarakat di Indonesia sehinga sistem kekebalan masyarakat semakin baik. Kalau Indonesia mau vaksinasi hingga 80 persen maka tidak sampai 2 tahun Covid-19 di Indonesia tidak akan ada lagi," kata dia.

Dia meyayangkan banyaknya masyarakat menolak vaksin dan divaksinasi. Bahkan menurutnya sudah sangat luar biasa penolakannya dengan isu-isu yang beredar di media sosial. Padahal, jika masyarakat makin enggan divaksin maka Covid-19 tidak akan bisa hilang di Indonesia.

Baca Juga : Tetap Waspada! Begini Cara Melindungi Diri dari Corona B117, Mutasi dari Virus Corona

Dokter yang sehari-harinya berkerja di RS PKU Muhammadiyah Bantul ini mengajak semua warga Muhammadiyah dan masyarakat untuk tetap optimal dalam pencegahan Covid-19.

Menurutnya, benteng terdepan pencegahan dan pemberantasan Covid-19 adalah para individu dan keluarga. Sedang medis dan tenaga kesehatan adalah pertahanan terakhir. Untuk itu, ia menyarankan agar pencegahan dioptimalkan melalui basis keluarga.

Baca Juga : Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13 Dibuka Hari Ini, Kuotanya Masih 600.000 Orang

“Basisnya keluarga, misalnya lewat Dasawisma progam pencegahan Covid-19 diampu oleh dukuh/desa dengan shelter sendiri. Nantinya Dasawisma melaporkan warganya terkonfirmasi positif perlu diisolasi mandiri di shelter yang disedikan dukuh/desa,” urainya.

Sehingga keberadaan shelter isolasi mandiri ini tidak merepotkan pihak rumah sakit atau Gugus Tunas Pencegahan Covid di kabupaten/kota dan provinsi.

“Kita ketahui bahwa banyak shelter di tingkat kabupaten/kota dan provinsi sudah penuh dan tidak mampu lagi menerima pasien positif tanpa gejala. Nah, seharunya rumah sakit hanya merawat pasien yang memang kondisinya sudah parah,” kata dia. (*)

Reporter : Sam | Editor : Heldi Satria
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]