Hiruk Pikuk Soal Jilbab di SMKN 2 Padang, Meningkatkan Mutu Pendidikan di Saat Pandemi Jauh Lebih Urgen


Rabu, 27 Januari 2021 - 12:39:00 WIB
Hiruk Pikuk Soal Jilbab di SMKN 2 Padang, Meningkatkan Mutu Pendidikan di Saat Pandemi Jauh Lebih Urgen Asfar Tanjung

Oleh: H Asfar Tanjung PhD
(Anggota BAN SM Sumbar/Pemerhati dan Praktisi Pendidikan)

Hiruk pikuk soal pemakaian jilbab bagi siswi non muslim di SMKN 2 Padang, yang kini menjadi berita viral di berbagai media, baik itu di media online, media cetak maupun media elektronik, seperti televisi lokal dan nasional, tampaknya menjadi pusat perhatian bagi banyak orang. Hal itu terjadi setelah salah seorang dari orang tua siswi di sekolah tersebut telah merekam dan menyebarkan video pertemuannya dengan pihak sekolah, yang akhirnya jadi berita viral.

Baca Juga : Pesona Tersembunyi di Desa Terindah Pariangan

Mencuatnya masalah pemamakaian jilbab yang merupakan pakaian muslimah, yang seolah olah dipaksakan di sekolah itu terhadap siswi non muslim itu, telah dibantah oleh mantan Walikota Padang Fauzi Bahar yang telah mengeluarkan peraturan pemakaian jilbab hanya bagi siswa muslim sejak 15 tahun lalu, semasa beliau menjadi Walikota Padang, sedangkan pemakai jillbab bagi siswi non muslim anjuran saja, tidak ada paksaan, dan pakaian muslim itu identik dengan karifan budaya lokal di Sumatera Barat alam Minangkabau.

Akibat dari informasi yang mencuat secara online yang menjadi viral itu, membuat beberapa tokoh pemuka masyarakat, termasuk juga tokoh pendidikan di tanah air ini angkat bicara. Melalui dialog di media televisi, bahkan sampai Mendikbud Nadiem Makarim juga terpancing angkat bicara yang tersiar secara online. Inilah yang menjadi hiruk pikuknya berita tentang seputaran pemakaian jilbab tersebut.

Baca Juga : Kemenangan Mahyeldi-Audy Joinaldy adalah Kemenangan Masyarakat Sumatera Barat

Banyak pendapat, hal itu mungkin karena miskomunikasi, saja dan tak perlu dibesar-besarkan, karena itu bukan hal yang terlalu urgens, sebab itu masalah interen sekolah dan bisa diselesaikan secara baik, tidak harus terekspose keluar.  
Di sisi lain, memakai pakaian yang menutup tubuh atau aurat bagi siswi di sekolah itu, adalah bisa dipakai sebagai alat pelindung diri, agar tidak terimbas gigitan nyamuk atau serangga waktu belajar dalam kelas, dan disamping itu bisa saja untuk melindungi diri pribadi siswi itu sendiri dari aksi kejahatan seksual, yang menggoda banyak orang, atau bisa saja seperti alat perlindungan diri seperti tenaga medis melayani psien di saat pandemik Covid-19, yang pakai pakaian pembungkus diri agar tidak terkena virus corona kalau ada pasiennya yang terpapar virus corona.

Sebenarnya bagi wanita alat pelindung diri ini penting sekali, terlepas muslim atau non muslim, karena aksi kekerasan terhadap perempuan sering terjadi, yang berakibat sampai pada kekerasan seksual. Menurut sumber yang dikutip dari CNN Indonesia, kasus kekerasan seksual termasuk pemerkosaan meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menemukan setiap hari setidak tidaknya ada dugaan 8 orang perempuan yang diperkosa di Indonesia.

Baca Juga : Perekonomian Sumbar di Tengah Pandemi Covid-19 

Komnas Perempuan mencatat ada 17.088 kasus kekerasan seksual yang terjadi selama tahun 2016–2018, di antara kasus kekerasan seksual tersebut terdapat 8.797 kasus perkosaan, atau 52 prosen, dibagi tiga tahun dan dibagi pertahun 360 hari, berarti diduga ada rata rata 8 orang perempuan mengakami perkosaan.

Makanya berdasarkan data yang dikemukakan Komnas Perempuan tersebut, kita melihat alat perlindungan diri bagi wanita itu penting, terlepas apakah dalam bentuk pakaian muslim atau tidak, tapi yang jelas pakaian muslimah itu menutup aurat dan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, dengan harapan wanita bisa terlindungi dari aksi kekerasan dan kejahatan.

Baca Juga : Mengenal Mainan Baru Kaum Kaya, Politik !

Peningkatan Mutu Lebih Penting

Terlepas dari perseoalan hiruk pikuk persoalan jilbab yang sudah viral itu, sebenarnya ada hal yang paling urgens yang harus menjadi pemikiran para tokoh dan pengelola pendidikan adalah persoalan mutu dan kualitas pendidikan saat sekarang di saat Pandemik Covid-19, karena sudah setahun pelaksanaan proses pembelajaran alias PBM (Proses Belajar Mengajar), mengalami kemandekan, alias tidak berjalan secara maksimal dan kurang lancar, yang mau tidak mau tentu akan mempengaruhi mutu dan kualitas pendidikan.

Proses PBM yang dilaksanakan dengan sistem "daring”, belajar dari rumah melalui jalur jaringan internet, di saat  pandemik yang sudah berjalan satu tahun itu atau 2 semester itu, jelas tidak sama dengan PBM tatap muka langsung, disamping guru harus menyampaikan materi dan bahan PBM memakai TI (Teknik Informatika) yang mengunakan berbagai metode dalam sistem daring, siswa juga dituntut untuk bisa mengikuti secara daring, yang memakai alat komunikasi TI, dan juga memerlukan HP, paket data internet dan itupun menjadi beban tambahan bagi orang tua murid, dan daya tangkap siswa jelas tidak sama dengan sistem tatap muka langsung di sekolah dalam PBM.

Inilah persoalan yang harusnya menjadi pemikiran utama bagi pengelola pendidikan dan tokoh masyarakat lainnya, tidak harus terfokus memikirkan dan membicarakan masalah pemakaian jilbab bagi siswi non muslim di SMKN 2 Padang, karena hal itu tidaklah terlalu rumit menyelesaikannya, disamping permohonan maaf dan itu juga ada hal yang bersfat miskomunikasi, dan itu sudah dilalui, makanya kini sudah bisa diakhiri hiruk pikuk dan polemik persoalan jilbab tersebut.
    
Menurut Direktur Eksekutif Centre Of Eductions Regulationand Development Analysis (Cerdas) Indra Carismiadji yang dikutip dari Beritasatu.com, menjelaskan bahwa di masa Pandemik ini mutu pendidikan di Indonesia menurun, karena ekosistem pendidikan Indonesia belum mencapai kondisi ideal. Hal itu terlihat sekarang di masa pandemi, anak-anak kita harus belajar dari rumah secara mendadak, tanpa ada persiapan yang matang, mungkin termasuk bahan materi yang disampaikan guru.

Belajar dari rumah, jelas memerlukan sebuah persiapan metode dan model pembelajaran, mulai dari guru mempersiapkan materi ajar yang memakai belajar jarak jauh, secara online, mungkin membuat vedeo setiap materi yang diajarkan, mencek kehadiran siswa secara online.

Semua itu perlu kiat dan strategi, dan siswa yang belajar dari rumah secara jarak jauh juga memerlukan kiat dan strategi juga dalam menerima pembelajaran, dan salah satunnya yang disiapkan handphone sebagai alat untuk komukasi menerima materi PBM, dan itu mengharuskan memiliki paket data jaringan, kalau tidak ada, jelas tidak bisa mengikuti PBM, otomatis semuanya memerlukan dana, kalau tidak PBM secara jarak jauh tidak bisa terlaksana.

Inilah bentuk persoalan yang semestinya jadi bahan kajian yang harus dibicarakan, dan dicarikan solusinya, agar mutu dan kualitas pendidikan bisa berjalan baik sesuai dengan yang diharapkan dalam Undang Undang Sisdiknas no 20 tahun 2003, Bab IV pasal 5 ayat 1 yang jelas dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama memperoleh pendidikann yang bermutu. 

Jadi pendidikan yang bermutu itu adalah tuntutan dalam undang undang yang sudah tercatat di lembaran negara. Makanya mari kita secara bersama disaat Pandemik ini, memikirkan pendidikan yang bermutu itu, jangan terus memikirkan persoalan yang yang tidak perlu dipersoalkan.

Sebab mutu lebih penting dari persoalan yang menjadi hiruk pikuk tentang berita persoalan jilbab yang bisa diselesaikan secara bijak dan profesional dan bisa ditutup serta dihentikan saja, sebab kalau hal itu berlarut dibicarakan dan dihangatkan terus jelas akan berimbas pada penurunan kualitas dan mutu pendidikan, karena pemikiran sudah terkuras membicarakan dan memikirkan hal yang jadi polemik tersebut, padahal di depan mata kita, besar harapan dan perjuangan yang akan dihadapi, untuk menciptakan SDM yang bermutu, untuk generasi penerus bangsa ini.

Strategi dan model model PBM yang mantap dan jitu, perlu dicarikan solusinya untuk menjawab, proses PBM yang kurang berjalan secara maksimal itu, masalah jaringan komuniksi di daerah pinggiran dan tertinggal kini juga jadi persoalan, disamping dana membeli alat komunikasi seperti handphone, laptop dan paket data jaringan juga menjadi persoalan beban berat yang kini dihadapi para orang tua siswa, karena pengaruh ekonomi yang tidak berjalan normal dan banyak lagi persoalan yang dihadapi di saat Pandemik saat ini.

Untuk itu sebaiknya ditutup dan diakhiri saja secara bijaksana hiruk pikuk persoalan jilbab itu, pihak pengelola pendidikan dan pihak pemerintah baik di pusat, maupun daerah ikut peduli dan bersama-sama memikirkan kelangsungan jalannya proses pendidikan yang banyak menemukan kendala dan permasalahan di saat Pandemik ini.

Mudah-mudahan pendidikan yang bermutu di saat Pandemik sesuai tuntutan undang-undang Sisdiknas tersebut bisa tercapai dengan baik dan hasilnya bisa terukur sesuai juga dengan tuntutan dari Instrumen Akreditasi Sekolah Madrasah yang menjadi standar penilaian kelayakan sekolah secara nasional. Sekian.(*)
    
    

Editor : Nova Anggraini
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 04 Maret 2021 - 21:28:32 WIB

    Pesona Tersembunyi di Desa Terindah Pariangan

    Pesona Tersembunyi di Desa Terindah Pariangan Nagari Tuo Pariangan atau yang sering disebut sebagai Desa Terindah terletak di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Desa seluas 17.92 km 2 secara goegrafis ini terletak di bawah lereng Gunung Marapi den.
  • Selasa, 16 Februari 2021 - 20:23:20 WIB

    Kemenangan Mahyeldi-Audy Joinaldy adalah Kemenangan Masyarakat Sumatera Barat

    Kemenangan Mahyeldi-Audy Joinaldy adalah Kemenangan Masyarakat Sumatera Barat Masyarakat Sumatera Barat pantas bersyukur atas telah dilewatinya semua proses Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Barat 2020. Baik proses pemilihan maupun proses hukum di Mahkamah Konstitusi..
  • Sabtu, 13 Februari 2021 - 12:16:03 WIB

    Perekonomian Sumbar di Tengah Pandemi Covid-19 

    Perekonomian Sumbar di Tengah Pandemi Covid-19  Pandemi Covid-19 yang melanda dunia melumpuhkan berbagai sektor kehidupan manusia. Pandemi tidak hanya terkait sektor kesehatan saja, tetapi perekonomian juga 'babak belur' karena hal tersebut. Oleh karena itu, pemerintah pro.
  • Sabtu, 30 Januari 2021 - 22:23:01 WIB

    Mengenal Mainan Baru Kaum Kaya, Politik !

    Mengenal Mainan Baru Kaum Kaya, Politik ! PADA suatu masa, seseorang bisa dikatakan kaya jika ia memiliki mainan serupa Cadillac atau Rolls Royce. Kemudian level mainan para kaum the have ini berubah menjadi sebuah private jet seperti Gulfstream ataupun Bombardier..
  • Jumat, 29 Januari 2021 - 19:54:50 WIB

    Menikmati Pantai Padang dari Sudut Lain dengan Paramotor

    Menikmati Pantai Padang dari Sudut Lain dengan Paramotor Ingin merasakan sensasi yang berbeda menikmati indahnya pantai Padang, tak ada salahnya menguji adrenalin dari ketinggian 400 meter dari permukaan laut menggunakan paramotor. Paramotor sejenis dengan paralayang, tapi yang men.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]