Awas! Indonesia Berada di Posisi ke-19 Negara dengan Kasus COVID-19 Terbanyak


Kamis, 28 Januari 2021 - 07:52:32 WIB
Awas! Indonesia Berada di Posisi ke-19 Negara dengan Kasus COVID-19 Terbanyak Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Virus corona telah menulari lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia, menurut data dari Johns Hopkins University.

Amerika Serikat masih menjadi negara yang mengalami dampak terparah, dengan mencatat lebih dari 25 juta kasus dan 420.000 kematian akibat virus corona.

Baca Juga : Awas! Ribuan Vaksin Palsu Corona Jaringan China Afsel Beredar

Presiden Joe Biden, yang sebelumnya berjanji untuk "bertarung sengit" dengan pandemi, menargetkan jumlah vaksinasi paling tidak sebanyak 100 juta di 100 hari pertama pemerintahannya.

India dan Brasil menempati posisi kedua dan ketiga negara dengan jumlah kasus terbanyak setelah Amerika Serikat, dengan jumlah penularan masing-masing sebanyak 10,6 juta dan 8,8 juta.

Baca Juga : Pertama di Dunia! Australia Berhasil Bikin Disinfektan Bunuh Covid-19 dalam 90 Detik

Saat ini Indonesia sudah berada di posisi ke-19 dari 20 negara dengan total kasus COVID-19 terbanyak.

Kementerian Kesehatan RI mengofirmasi jumlah kasus COVID-19 lebih dari 1 juta Selasa kemarin dan mengatakan semakin banyak rumah sakit yang sudah tidak memiliki kapasitas untuk merawat pasien.

Baca Juga : Perhatian! Saudi akan Wajibkan Jemaah Haji Vaksinasi Covid-19

Indonesia menjadi negara yang mencatat angka penularan tertinggi dibandingkan negara-negara tetangga lainnya di Asia Tenggara berdasarkan data John Hopkins University.
 
Jakarta masih menjadi kota dengan kasus terbanyak, dengan lebih dari 250.000 kasus positif COVID-19 dan lebih dari 4.000 kasus kematian.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak agar semua pihak "bekerja keras" untuk menangani masalah ini.

Baca Juga : Berkat Vaksin, Akankah COVID-19 Berakhir di Penghujung 2021?

"Angka satu juta ini memberikan satu indikasi bahwa seluruh rakyat Indonesia harus bersama dengan pemerintah bekerja bersama untuk atasi pandemi ini dengan lebih keras lagi," kata Menkes Budi.

Pencapaian ini terjadi dua minggu setelah Indonesia meluncurkan program vaksinasi yang menggunakan vaksin CoronaVac yang dikembangkan perusahaan China, Sinovac, 

Banyak negara terus mencatat pencapaian angka tertinggi terkait pandemi, termasuk Inggris yang telah mencatat angka kematian hingga lebih dari 100.000 orang.
 
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan kembali pentingnya distribusi vaksin COVID-19 yang merata.

Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan negara berkembang hanya bisa "melihat dan menunggu", saat negara-negara kaya mulai melangsungkan program vaksinasi.

"Nasionalisme vaksin mungkin dapat memenuhi tujuan politik jangka pendek, namun setiap negara mendukung keadilan akses vaksin," ujar Dr Ghebreyesus dilansir dari Republika.com.

Dirjen WHO tersebut juga mengkritik semakin banyaknya perpecahan antara negara miskin dan kaya terkait pengadaan vaksin.

Afrika mengalami kesulitan mengamankan vaksin bagi 1,3 juta warganya, sementara aliansi vaksin internasional Gavi mengatakan dosis yang berlebihan telah digunakan negara maju untuk memvaksinasi ratusan juta warganya.

Bulan ini, Uni Afrika mencoba mengamankan 270 juta suntik vaksin, yang terdiri dari 600 juta dosis dari skema distribusi vaksin COVAX yang ditangani oleh WHO dan Gavi.

Dosis ini diperkirakan akan tersedia tahun ini, namun belum ada yang diterima, sementara beberapa negara Eropa, Asia, dan Amerika telah memulai program vaksinasi mereka.

Minggu lalu, pimpinan WHO memperingatkan jika dunia mengalami "kegagalan moral" soal hal keadilan distribusi vaksin.
 
Seorang anggota keluarga dari pasien COVID-19 di China menuntut untuk menemui tim pakar Organisasi Kesehatan Dunia dan meminta untuk memeriksa asal virus tersebut.

Ayah Zhang Ha meninggal akibat COVID-19 pada Februari 2020 lalu.

Zhang mengajak anggota keluarganya yang tertular virus corona untuk menuntut akuntabilitas dari pihak berwajib.

Ia merasa khawatir WHO mungkin digunakan untuk menutupi kesalahan langkah China di awal munculnya wabah.

WHO mengatakan kunjungan tersebut adalah misi ilmiah untuk menyelidiki asal dari virus, bukan bentuk usaha untuk menyalahkan siapapun.

Tim WHO diketahui akan memulai pekerjaan lapangan mereka akhir minggu ini.

Anthony Fauci, petugas penyakit penular di Amerika Serikat, mengatakan di Forum Ekonomi Dunia jika asal dari virus masih tidak diketahui dan diibaratkan sebuah "kotak hitam besar yang mengerikan".

Keiji Fukuda, ahli kesehatan publik di University of Hong Kong dan mantan pejabat WHO mengatakan penyelidik membutuhkan akses untuk melakukan tugas mereka.

"Ini semua tergantung pada akses apa yang dimiliki tim," ujarnya.

"Apakah mereka akan dapat mengajukan pertanyaan yang ingin ditanyakan?" (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : Republika
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]