Terinspirasi Aksi Brutal Christchurch, Remaja Singapura Ini Ditangkap


Kamis, 28 Januari 2021 - 10:56:13 WIB
Terinspirasi Aksi Brutal Christchurch, Remaja Singapura Ini Ditangkap Remaja Singapura berencana menyerang Masjid Assyafaah dan Masjid Yusof Ishak

HARIANHALUAN.COM - Seorang remaja berusia 16 tahun ditangkap di Singapura. Ia diduga merencanakan serangan teroris di dua masjid Singapura, yang terinspirasi oleh pembantaian Christchurch tahun 2019.

Pihak berwajib menyebut remaja yang digambarkan sebagai 'orang Kristen Protestan dari etnis India' ini, merupakan orang pertama yang ditahan karena menyembunyikan pandangan ekstrimis sayap kanan.

Baca Juga : AS dan Rusia Makin Panas, Biden Peringatkan Putin Soal Navalny

"Dia meradikalisasi diri, dimotivasi oleh antipati yang kuat terhadap Islam dan ketertarikan pada kekerasan," kata sebuah pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Singapura, dilansir dari Republika, Kamis (28/1).

Dalam keterangan yang sama, pihak berwajib menyebut remaja ini menonton sebuah video yang menyiarkan secara langsung serangan teroris di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019. Ia juga membaca manifesto penyerang Christchurch, Brenton Tarrant.

Baca Juga : Kasus Positif dan Kematian Covid-19 di Pakistan Tembus Rekor

Tarrant merupakan warga negara Australia yang melakukan penembakan dan membunuh 51 orang. Aksinya ini juga menyebabkan 40 orang lainnya terluka.

Dia mengaku bersalah atas pembunuhan dan terorisme yang dilakukan dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan Selandia Baru seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Baca Juga : Perawat Florida Terancam Bui 5 Tahun, Usai Ancam Bunuh Kamala Harris

Remaja Singapura itu berencana menyerang Masjid Assyafaah dan Masjid Yusof Ishak menggunakan parang pada 15 Maret. Tanggal ini persis seperti pembantaian yang terjadi di Christchurch.

"Seperti Tarrant, pemuda itu bermaksud mengemudi di antara dua lokasi penyerangan. Karena itu, ia menyusun rencana untuk mendapatkan kendaraan yang digunakan selama penyerangan," tulis pemerintah dalam keterangannya.

Baca Juga : Ikuti Langkah AS, Giliran Ceko Usir 18 Diplomat Rusia

Remaja tersebut juga diduga membeli rompi taktis secara daring. Rompi ini dimaksudkan untuk dihias dengan simbol ekstremis sayap kanan. Ia juga berencana memodifikasi agar bisa dipasangi kamera yang berfungsi menyiarkan langsung serangan tersebut.

"Dia juga menonton video propaganda ISIS, dan sampai pada kesimpulan yang salah. Ia menilai ISIS mewakili Islam dan Islam meminta pengikutnya untuk membunuh kafir," kata pernyataan itu.

Sebuah laporan dari Institute for Economics and Peace yang dirilis tahun lalu menemukan fakta, serangan yang dilakukan oleh ekstremis sayap kanan di seluruh dunia telah meningkat 250 persen, dibandingkan lima tahun sebelumnya.

Terkait serangan ini, Dewan Agama Islam Singapura mengatakan pihaknya merasa prihatin dan sedih dengan dugaan plot tersebut.

"Kami mengutuk semua tindakan teror dan kekerasan. Mereka tidak memiliki tempat dalam agama apapun. Tindakan ini akan memecah belah komunitas," kata lembaga ini dalam sebuah pernyataan.

Dewan Agama Islam juga menambahkan aksi itu sebagai insiden yang terisolasi. Mereka bersyukur badan keamanan dapat mendeteksi lebih awal. Komunitas Muslim Singapura diketahui mewakili sekitar 14 persen dari populasi negara Asia Tenggara.

Di sisi lain, Dewan Gereja Nasional Singapura mengatakan pihaknya sangat sedih dengan insiden ini. Mereka tidak menyangka seorang pemuda yang menghadiri gereja telah merencanakan serangan itu. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : Republika
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]