Nobody Wants To Be Stupid


Sabtu, 30 Januari 2021 - 11:17:10 WIB
Nobody Wants To Be Stupid Syafri Maltos, S.Pd, M.pd 

HARIANHALUAN.COM - Seorang guru menyampaikan dalam rapat. “Kelas saya adalah kelas istimewa”. Mencoba mengangkat posisi , dan semua orang sudah mengira kata istimewa adalah konotasinya positif. Yang terbayang adalah anak-anaknya kreatif, rajin, bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan, mandiri belajar. Lalu mereka taat peraturan bahkan sangat religius. Pendengar sudah mengangguk-angguk tanda kagum. Terkesima dengan penyampaian Sang Guru. 

 

Baca Juga : Blak-blakan di Lisensi Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT)

Oleh : Syafri Maltos, S.Pd, M.pd 
Kepala MTs Al-ittihadiyah Pekanbaru

 

Baca Juga : Media IT dalam Pengenalan Kalimat Thayyibah pada Masa Emas Anak

Suasana berubah, ketika Sang Guru melanjutkan setelah kata istimewa dengan senyum sinis dan nada bicara meremehkan bahkan sedikit memandang rendah. 

“Ya, istimewa dalam kebodohannya”. Saya sebagai salah satu peserta dalam pertemuan tersebut langsung menunduk. Tak satupun ekspresi saya menandakan saya setuju dengan kalimat nya yang terakhir. Barangkali ada yang menganggap ini sesuatu yang lucu dan sangat komunikatif di sebuah awal pembicaraan dalam sebuah pertemuan. Bagi saya tidak, bahkan saya sangat tersinggung. Batin saya menolak. Tak jarang jika sering-sering saya ingat ini, lalu saya membayangkan wajah murid saya satu persatu maka lava panas dari mata saya segera mengalir. Lebay ya?
Nobody Wants To be Stupid. Bahkan No One Is Born to be stupid. Apakah ada Bapak atau Ibu para orangtua yang setuju dengan saya? Ah..tak masalah bagi saya dan tak terlalu menjadi pikiran saya jika semua orangtua tak setuju dengan saya. Atau saya akan tersanjung lalu mendongak sombong karena banyak yang setuju dengan saya? Tidak. Tak akan pernah. 

Baca Juga : Misteri Rumah Gadang di Bendang, Bunyi Tongkat Menghentak sampai Piring Pecah

Selalu terngiang di telinga saya kata-kata indah dari Allah di surat Attin ayat 4. “Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”. Bahkan ketika hendak menciptakan manusia pertama Allah dengan titahNya menyampaikan ke para malaikat bahwa aka nada makhluk lain selain mereka yaitu manusia. Walau sempat ada pertanyaan sebagai feedback dari malaikat bahwa “Apakah akan diciptakan makhluk yang akan merusak dan menumpahkan darah?”. Kata Allah “Aku lebih tau dan kalian Tidak tahu”.(QS. Albaqoroh:30) 

Dan bahkan di ayat lain Allah katakana “Sungguh kami telah memuliakan bani Adam” (QS;Al isro’:70). Semua informasinya positif tentang manusia. Atau boleh kita ajukan pertanyaan : Apakah manusia yang begitu indah bahasa penciptaanya masih memiliki ruang hina di mata manusia? Seperti dikatakan bodoh? Atau pertanyaan yang paling menohok. Apakah anda lebih hebat dari pencipta anda sendiri sehingga dengan leluasanya anda mengatakan bahwa ciptaannya yang maha sempurna itu layak dikatakan bodoh?

Baca Juga : Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

Tapi kan kenyataanya seperti itu? Ada anak yang lambat dalam belajar, ada juga yang cepat. He..iya ya, namun tahukah engkau wahai Guru hebat. Boleh jadi mereka lambat di satu pelajaran tapi cepat di pelajaran yang lain. Inilah yang disebut dengan Kecerdasan Majemuk. Setiap orang punya kecerdasan nya masing-masing. Maka berhentilah dari sekarang mengatakan anak bodoh. Karena tak satupun anak yang mau dikatakan bodoh bahkan jika dia boleh meminta dia tak akan mau terlahir dalam keadaan bodoh. Kitalah sebagai guru yang akan mengarahkan potensi apa yang mereka miliki sehingga mereka temukan kecerdasannya. (*)

Editor : Heldi Satria
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]