Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab


Ahad, 21 Februari 2021 - 13:33:23 WIB
Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab Dewi Ayu Lestari SS, M.Hum (Staf Pengajar Universitas Sumatera Utara)

Oleh: Dewi Ayu Lestari (Dosen Universitas Sumatera Utara)

Masyarakat adat di Indonesia memiliki tradisi unik dalam menyambut momen-momen tertentu, salah satunya saat memasuki bulan Rajab.

Baca Juga : Blak-blakan di Lisensi Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT)

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan istimewa bagi umat Islam. Bulan ini dipercaya bisa mendatangkan kebaikan. Bulan Rajab disebut sebagai bulan haram, yakni bulan yang dimuliakan.

Ada lima bulan haram menurut umat Islam, yaitu Ramadhan, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada tanggal 27 Rajab, seluruh umat Islam di dunia merayakan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yaitu peristiwa perjalanan Rasulullah dari Masjidi Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) dilanjutkan ke Sidratul Muntaha.

Baca Juga : Media IT dalam Pengenalan Kalimat Thayyibah pada Masa Emas Anak

Sebagai wujud dari pertemuan budaya dengan agama Islam, banyak tradisi yang hingga kini masih bertahan di tengah kehidupan modern seperti sekarang ini. Tradisi ini adalah tradisi warisan leluhur, dan merupakan suatu tradisi yang turun-temurun dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat etnik di Indonesia sebagai suatu bentuk perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang telah mereka dapatkan, serta sebagai wujud penghormatan untuk para leluhur, dan sekaligus meminta berkah, keselamatan, dan kesejahteraan kepada Allah SWT.
Berikut tradisi bulan Rajab yang masih dilestarikan dan diselenggarakan setiap tahun di beberapa daerah di Indonesia.

Tradisi ‘Khanduri Apam’ di Aceh

Baca Juga : Misteri Rumah Gadang di Bendang, Bunyi Tongkat Menghentak sampai Piring Pecah

Dalam tradisi masyarakat Aceh serabi Rajab disebut dengan Khanduri Apam, hingga bulan rajab mereka sebut dengan bulan Apam. 

Menurut tradisi masyarakat di sana kenduri apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya. 

Baca Juga : Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

Keadaan yang menghibakan/menyedihkan hati itu; ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah tradisi toet Apam (memasak Apam) yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh.

Tradisi Mandoa Sambareh di Padang Pariaman

Di daerah Padang Pariaman, bulan Rajab sering dinamakan dengan bulan Sambareh. Sejatinya sambareh adalah makanan yang terbuat dari tepung beras atau biasa dikenal juga dengan sebutan serabi. 

Bagi masyarakat Padang Pariaman, sambareh bukan hanya berfungsi sebagai cemilan semata, namun makanan satu ini adalah bahagian dari pelaksanaan tradisi Mandoa Sambareh yang dilaksanakan pada bulan Rajab. 

Menurut sejarah, Syekh Burhanudin-lah yang membawa ajaran seperti ini dari Aceh, awalnya Isra’ Mi’raj di bulan Rajab, sehingga Bulan Rajab disebut oleh masyarakat Padang Pariaman dengan sebutan bulan Sambareh.

Keberadaannya juga dimulai semenjak adanya islamisasi di Minangkabau yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin. Ditinjau dari waktu pelaksanaan tradisinya, makanan sambareh ini hampir mirip dengan khanduri apam yang dilaksanakan di bulan Rajab di Aceh dalam rangka memperingati Isra’ Mikraj Nabi Muhammad Saw. 

Kemiripan bentuk acara dan makanan yang dibuat dapat dikatakan bahwa budaya membuat makanan ini mengikuti tradisi Aceh. Hal ini dengan proses islamisasi yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin di Minangkabau yang berasal dari gurunya Abdurrauf di Aceh. 

Tandikek merupakan salah satu daerah yang terdapat di Padang Pariaman, yang sampai saat ini masih melaksanakan tradisi ini. Bagi sebagian masyarakat setempat, bulan Rajab atau bulan Sambareh juga memiliki nama lain, yaitu “Bulan Kanak-kanak”, karena tujuan mereka untuk melaksanakan tradisi ini adalah mendoakan arwah yang telah pergi, misalnya orang tua atau anak-anak.

Tradisi Kenduri Kue Apam Suku Melayu Siak di Riau

Kenduri kue apam merupakan teradisi di kalangan masyarakat Melayu Siak pada masa lampau. Tradisi kenduri kue apam ini dibuat dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di akhir bulan Rajab, sekaligus untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. 

Dulu di kalangan masyarakat Melayu Siak setiap bulan Rajab warga melakukan kenduri kue apam atau kenduri kecik namanya. Kendurinya dilakukan hanya pada rumah warga saja, yang tujuannya selain sudah menjadi tradisi turun temurun, kenduri juga mengundang tetangga sekitar untuk membacakan doa selamat bagi keluarga yang sudah meninggal, juga mendoakan tuan rumah agar sehat dalam menyambut bulan puasa. Biasanya kenduri ini dibuat bertanda bulan Ramadan akan datang.

Dijadikannya kue apam sebagai menu utama kenduri, karena pada masa itu tak ada makanan lain untuk diolah masyarakat kampung yang kebanyakan bermata pencaharian berladang padi. Sehingga hanya kue yang berbahan dasar beraslah yang disajikan, seperti kue apam itu. 

Tradisi Nganggung di Bangka Belitung

Masyarakat muslim di Kota Bangka Belitung memiliki tradisi untuk memeringati peristiwa Isra’ Mi’raj yang disebut tradisi Nganggung. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat di Kampung Bukit, Kelurahan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung.

Dalam tradisi ini masyarakat akan mempersiapkan berbagai jenis makanan dari rumah dan dibawa menuju tempat pertemuan. Susunan makanan yang disiapkan pun memiliki aturannya, seperti jenis kue ada di bagian bawah, buah-buahan atau nasi lauk pauk ada di bagian atas.

Tradisi Mapag Rajab di Jawa Barat

Mapag Rajab adalah istilah yang dipakai untuk menyambut datangnya bulan Rajab yakni bulan ketujuh dalam bulan Hijriyah. 

Kegiatan Mapag Rajab di daerah beberapa daerah di Jawa Barat seperti Kondangjajar, Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Majalengka menjadi tradisi setiap tahunnya.  Kegiatan didalamnya dikemas dengan berbagai seni dan budaya yang dikemas dengan pesan-pesan keagamaan.

Mapag rajab dijewantahkan dengan doa allahumma bariklana fi rojaba wa sa’ban wa balighna romadhon.
Mapag Rajab juga dikemas dengan tradisi Sunda yaitu karawitan yang didalamnya diisi oleh berbagai pesan-pesan keagamaan. Kalau biasanya lagu-lagu karawitan sering dibawakan oleh pesinden tetapi saat Mapag Rajab dibawakan oleh ibu-ibu dan para seniman agar pesan-pesan keagamaan masuk dapat diterima oleh masyarakat. 

Tradisi Rajaban di Cirebon

Cirebon memiliki tradisi di bulan Rajab yang dinamakan Rajaban. Tradisi Rajaban ini dilakukan oleh masyarakat Cirebon pada tanggal 27 Rajab bersamaan dengan memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj.

Kegiatan yang dilakukan pada saat Rajaban antara lain berziarah ke makam para pendakwah Islam, pengajian umum di Keraton Kasepuhan Cirebon dan diikuti dengan pembagian nasi bogana yang merupakan makanan khas Cirebon. Nasi bogana ini berisi kentang, telur ayam, tempe, tahu, parutan kelapa dan bumbu kuning yang dijadikan satu. 

Ritual Peksi Buraq 

Upacara ini digelar Keraton Yogyakarta untuk memperingati peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Ritual Peksi Burak ini dilakukan dengan membuat replika burung dengan menggunakan buah dan kulit jeruk bali. Kulit tersebut dibentuk dan diukir menyerupai badan, leher, kepala, dan sayap burung. Burung jantan diberi jengger (pial) untuk membedakannya dari burung betina. 

Masing-masing Peksi Burak akan diletakkan di atas sebuah susuh atau sarang, yang dirangkai dari daun kemuning sebagai tempat bertengger. Peksi Burak dan susuh ini diletakkan di bagian paling atas dari pohon buah, dengan disangga oleh ruas-ruas bambu. Peksi Burak ini digambarkan sebagai kendaraan yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan Isra’ dan Mi’raj.  

Tingalan Jumenengan Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat

Tradisi ini biasa dilakukan setiap hari kedua puluh lima di bulan Rajab. Acara ini dilaksanakan untuk memperingati naiknya Tahta Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tingalan Jumenengan Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat sarat dengan budaya Mataram. Mulai dari tempat jumenengan yang penuh filosofi, tarian Bedhaya Ketawang, kirab budaya, serta paesan.

Nyadran

Menyambut bulan suci Ramadhan, di beberapa daerah di Jawa Tengah terdapat tradisi nyadran sebagai bentuk penyambutan bulan suci Ramadhan. Tradisi ini, biasanya dilakukan di setiap hari kesepuluh di bulan Rajab atau ketika datang bulan Sya’ban. Nyadran dilakukan dengan berziarah kubur dan para peziarah biasanya membawa bunga telasih. 

Setelah selesai berdoa, masyarakat kemudian akan menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah digelari tikar dan daun pisang. Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, perkedel, tempe dan tahu bacem.

Tradisi ‘Rejepan’ Dukuh Wonosari

Setiap bulan Rajab, hampir semua desa di lereng-lereng gunung Wonosari menggelar ritual ‘Rejepan’.Tradisi tersebut merupakan tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang dengan maksud dan tujuan mendoakan leluhur atau pepunden yang diyakini telah mampu membawa perubahan di daerah tersebut dan juga sebuah penghormatan kepada leluhur.

Adat ini masih dipertahankan dengan acara kenduri satu dusun. Setiap warga yang datang wajib membawa kemenyan untuk dibakar di makam yang dianggap keramat. Warga juga wajib membawa ingkung (ayam masak), lanyahan (sayur mayur, tempe, krupuk), ketan salak (wajik merah, ketan putih), dan pisang rojo untuk dinikmati bersama. Dalam Rejepan ini juga diisi dengan acara pembacaan tahlil dan diakhiri dengan do'a.

Tradisi “Rajaban Astana Kuntul Nglayang” di Desa Protomulyo, Kendal

Astana Kuntul Nglayang artinya adalah burung kuntul atau burung bangau yang terbang, Astana artinya besar atau agung, yang dimaksud adalah makam tertua yang berada di atas bukit yang membentang di selatan alun-alun Kaliwungu. Disebut rajaban Astana Kuntul Nglayang karena lokasi makam Pangeran Juminah berada di daerah perbukitan, bila dilihat dari udara seperti burung Kuntul yang terbang.

Upacara tradisi “Rajaban Astana Kuntul Nglayang” dikemas dalam bentuk selametan oleh masyarakat desa Protomulyo, Kabupaten Kendal, yang terjadi sekali dalam semusim atau setahun di bulan rajab dan dilaksanakan pada hari Jum’at kliwon. 

Tempat pelaksanaan upacara tradisi Rajaban ini adalah di Pendhopo bagian bawah makam Pangeran Djuminah. Karena upacara tradisi Rajaban ini dilaksanakan juga sebagai penghormatan kepada para leluhur dan Pangeran Djuminah atas perjuangan beliau menyebarkan ajaran Islam.

Malam Baro'atan (Beratan)

Tradisi malam Beratan dikenal di Kecamatan Kalinyamatan dan Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Tradisi ini bisa dibilang unik, karena warga setempat akan membuat lampion dan berbagai kreasi mobil-mobilan yang terbuat dari kerangka bambu berlapis kertas minyak transparan. Kemudian anak-anak kecil dan muda-mudi akan pawai keliling kampung untuk memeriahkan malam Beratan. 

Tradisi Ambengan di Desa Wadasmalang, Karang Sambung, Kebumen

Ambengan berasal dari kata ambeng yang artinya hidangan makanan (nasi) yang ditempatkan dalam wadah, wadahnya dapat berupa panci atau besek.  Jadi ambengan ialah tradisi masyarakat setempat untuk membuat hidangan makanan dalam ukuran besar untuk acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Awal mula pembuatan ambeng pada zaman dahulu tidak lain hanya untuk memuliakan ataupun menjamu Kyai juga para tamu dalam peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Namun, tradisi tersebut ternyata masih dipelihara sampai saat ini.

Ambeng tersebut dibuat oleh semua masyarakat dengan isi berupa makanan lengkap dengan lauk pauk yang bisa berupa daging ayam hingga kambing guling. Pembuatan ambeng tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.
 
Ambeng-ambeng tersebut kemudian dimasukkan ke dalam keranjang bambu dengan ukuran terkecil 50 cm, dan yang terbesar sampai 2 meter. Setelah itu ambeng-ambeng tersebut dipanggul dari rumah untuk dibawa ke masjid tempat peringatan Isra’Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Sesampainya di masjid, ambeng-ambeng ditinggal di halaman masjid sedang warga mengikuti pengajian bersama. Sesudah selesai pengajian, ambeng-ambeng tersebut kemudian dibagikan kepada seluruh tamu undangan yang hadir tanpa terkecuali.
Tradisi ini dilakukan warga sebagai bentuk syukur atas berkah yang diberikan Allah di bulan Rajab. Pelaksanaan Ambengan digelar pada hari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. 

Tradisi Tawu Beji Menyambut Rajab di Purworejo

Tradisi unik Tawu Beji yang dilaksanakan oleh warga Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen merupakan ritual bersih desa yang sudah berumur ratusan tahun dan dilaksanakan secara turun temurun. Tawu Beji sendiri memiliki arti menguras sendang yang bernama Sendang Beji.

Dalam ritual Tawu Beji tersebut, warga juga sekaligus melakukan gogoh iwak atau menangkap ikan yang ada di sendang dengan menggunakan tangan kosong. Sebelum pelaksanaan Tawu Beji, warga juga melakukan kegiatan lain seperti bersih-bersih lingkungan termasuk makam desa.

Seluruh rangkaian ritual tersebut dilaksanakan selama tiga hari. Puncak acara yakni Tawu Beji dan kenduri bersama dilaksanakan pada hari terakhir dan bertepatan dengan hari Selasa Kliwon.

Me'eraji, Tradisi Menyambut Isra Mikraj di Gorontalo

Masyarakat muslim di Provinsi Gorontalo punya tradisi Me'eraji untuk menyambut Isra’ Mi’raj. Tradisi itu biasa digelar setiap 27 Rajab. Kegiatan itu sudah menjadi tradisi yang wariskan turun-temurun. Tradisi itu juga mengisyaratkan kepada masyarakat Gorontalo, bahwa bulan Ramadhan semakin dekat. 

Me'eraji adalah proses membaca naskah aksara Arab yang ditulis dengan bahasa Gorontalo. Naskah Me’eraji juga merupakan salah satu kesusastraan yang sering digunakan dalam melakukan syiar Islam. Oleh karena itu, pembacaan Me’eraji dilakukan rutin sekali setahun yang dilaksanakan di masjid ataupun pada rumah-rumah warga.

Naskah Me’eraji tersebut menceritakan empat hal, seperti perilaku nabi, perjalanan nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan perjalanan ke Sidratul Muntaha, menceritakan wafatnya nabi serta wungguli (cerita rakyat) rangkuman dari naskah Me’eraji.

Sebelum memulai Me'eraji, kemenyan, bara api, meja kecil beserta kain putih sebagai alas, dan segelas air putih yang harus disiapkan. Setelah itu barulah naskah Isra’ Mi’raj akan dibaca oleh "Leebi" atau Imam, yang diawali dengan doa bersama. Perayaan Me’eraji juga dilakukan untuk mendoakan negeri (du’a lo lipu).

Tradisi Songkabala Masyarakat Bugis-Makassar

Songkabala adalah tradisi yang dilakukan untuk menolak segala bala, bencana, ataupun malapetaka yang akan menimpa masyarakat. Songkabala dilakukan bukan hanya pada saat akan terjadi bencana tetapi juga pada bulan-bulan Islam yang telah disepakati masyarakat secara bersama-sama untuk dilakukan seperti pada bulan Muharram, bulan Sya’ban, dan bulan Rajab. 

Jika pada bulan Muharram dan bulan Sya’ban ritual Songkabala dilengkapi dengan sesajen atau makanan seperti Jepe’ Syura (bubur Syura), Ka’do Massingkulu’, Lapapa-Lappa, dan sebagainya, namun pada bulan Rajab dilakukan ritual yang menurut masyarakat setempat disebut Miraja’. Pelaksanaan Songkabala dalam hal ini hanya dilakukan dengan mengirimkan doa-doa keselamatan yang biasanya dilakukan di Masjid pada waktu terbenamnya matahari atau setelah shalat Maghrib dilaksanakan. 

Dengan demikian, tradisi di bulan Rajab oleh berbagai suku di Indonesia ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang patut untuk tetap terus dijaga dan dilestarikan, karena di dalam tradisi ini tercermin semangat kebersamaan, keikhlasan, saling menghargai dan saling berbagi dalam kebaikan. Disamping itu juga, tradisi ini akan membuat suatu acara/peringatan dapat menjadi lebih semarak.(*)
 

Editor : Nova Anggraini
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]