Batu Batikam Lambang Perdamaian


Ahad, 29 Januari 2012 - 00:58:00 WIB
Batu Batikam Lambang Perdamaian

Batu Batikam, sebuah momen batu yang terpajang kokoh di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar, saat ini cukup ramai dikunjungi oleh para pelancong.

Batu Batikam termasuk salah satu lokasi cagar budaya , berada dalam pengawasan Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sum­bar, Riau dan Jambi yang ber­kantor di Pagaruyung .

Baca Juga : Pasukuan Sikumbang Payung Panji E. Dt. Sampono Intan Jalani Prosesi Lilin Ambalau

Secara lahiriah, benda cagar budaya ini merupakan sebuah bungkahan batuan (andesit ), berbentuk hampir segi tiga berukuran 55 x 20 x 45 sentimeter.

Para pengunjung sebagian besar dari kalangan siswa sekolah, baik dari kabupaten/kota di Sumbar maupun anak-anak sekolah dari pro­vinsi tetangga seperti Riau, dan Jambi.

Baca Juga : Pengajian dan Menyantuni Anak Yatim, Awali Tahun Baru di Padang Galanggang

Setelah direhabilitasi Kantor SPSP, Batu Batikam dipajang dengan kokoh di atas pasangan semen batu dalam sebuah lokasi Medan nan Bapaneh, Dusun Tuo. Sebagai pemandu bisu dari situs ini, juga telah terpajang sebuah penjelasan ringkas, bahwa Batu Batikam ini merupakan sebuah situs budaya dari wilayah Luhak Nan Tuo. Lokasi tempat dipa­jangnya Batu Batikan ini menurut situs budaya Luhak nan Tuo adalah sebuah Medan nan Bapaneh, yakni tempat ber­mufakatnya para pimpinan peme­rintahan pada waktu silam di wilayah ini.

Situs budaya ini berdiri sejak 1.800 masehi. Lokasi Medan nan Bapaneh berben­tuk empat persegi panjang seluas 20 meter persegi, sekelilingnya memiliki kursi bersandaran yang terbuat dari bahan batu.

Baca Juga : Vaksin Covid-19, Wiku: Daerah Sudah Siap Mendistribusikan

Batu Batikam yang berlo­bang tembus itu, terjadi akibat ditikam oleh Datuk Parpatiah nan Sabatang, sebagai tanda berakhirnya perse­lisihannya dengan Datuk Ketu­mang­gungan mengenai soal Adat.

Komplek Batu Batikam menurut tambo adat menye­butkan, bahwa di sinilah nagaripertama terbentuk sesudah Pariangan sebagai Nagari Tuo, diba­ngun oleh Cati Bilang Pandai dengan anaknya Datuak Parpatiaah Nan Saba­tang, berikut dengan empat Koto lainnya yaitu Balai Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo dan Kampai Piliang. Kelima Koto ini hingga seka­rang disebut sebagai Lima Kaum.

Baca Juga : 280 KK di Nagari Simpang Terima BLT Dana Desa Tahap II

Sebagai pusat peme­rintahan adat Budi Caniago dengan junjungan adatnya Datuak Bandaro Kuniang yang bangunan rumah gadangnya masih bisa dilihat di Kampai Limo Kaum saat ini.

Batu Batikam ini berlo­bang akibat ditikam oleh Datuak Parpatiah nan Saba­tang sebagai pertanda Sum­pah Satiah (setia) pengukuhan perdamaian, sebagai meng­akhiri perselisihan paham dalam hal pemakaian sitim peme­rintahan adat Koto Pi­liang yang dicetuskan oleh Datauak Katu­mang­gungan dengan sistim pemerintahan Budi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang.

Juga dituturkan, Datuak Katu­manggungan juga meni­kam sebuah batu dengan kerisnya, ditempatkan di Sungai Tarab VIII Batu (Bo­ngo Satangkai-Bulakan Sungai Kayu Batarok) sebagai pusat pemerintahan Koto Piliang dengan pucuk adatnya Datuak Bandaro Putiah.

Sejek itu tidak lagi ada pertikaian antara koto dan nagari, kedua sistem pemerintahan adat ini boleh saja dipakai pada setiap wilayah nagari di Luhak Tanah Datar.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]