Saksi Benarkan Ada Pemberian Jam Tangan Rp331 Juta dari Deden ke Edhy Prabowo


Rabu, 03 Maret 2021 - 21:21:31 WIB
Saksi Benarkan Ada Pemberian Jam Tangan Rp331 Juta dari Deden ke Edhy Prabowo Foto: Edhy Prabowo (Ari Saputra/detikcom)

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Saksi bernama Neti Herawati membenarkan adanya pemberian jam tangan seharga Rp 331 juta untuk mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Neti mengatakan jam tangan itu diserahkan oleh Direktur PT PLI Deden Deni, yang saat ini sudah meninggal dunia.

Hal itu disampaikan Neti saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, dikutip dari detik.com, Rabu (3/3/2020).

Baca Juga : Pesan Penting Kapolri, Tidak Ada Ampun Bagi Polisi yang Terlibat Narkoba!

Neti adalah istri dari Siswadhi Pranoto Loe, pemilik PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) dan PT Aero Citra Kargo (ACK).

"Almarhum (Deden) bilang ada permintaan pembelian jam tangan, diminta carikan jam Rolex dan Jacob&Co, almarhum minta bantuan saya, dan minta bantuan carikan jam tangan tersebut. Saya bilang saya nggak bisa. Almarhum minta lalu minta Kasman kontak customer yang ada di Hongkong untuk beli jam Rolex, akhirnya kita nggak ketemu," jelas Neti saat jaksa KPK bertanya tentang pembelian jam tangan merek Rolex dan Jacob&Co kepada Neti.

Baca Juga : Kemajuan Industri 4.0 Dorong Indonesia Menuju Sepuluh Besar Kekuatan Ekonomi Global

"Yang jam Jacob&Co dibelikan customer kami di Hongkong, lalu jam tangan tersebut dibawa ke Jakarta dengan cara dipakai oleh orang airlines, karena kalau dikirim dengan kurir lainnya lama," sambung Neti.

"Sedangkan abang-abang (Sespri Edhy Prabowo) itu udah push terus, minta jam terus. Lalu dipakai orang airlines dibawa pulang ke Jakarta, dan terima di Jakarta, yang terima Pak Deden," tambahnya.

Baca Juga : Airlangga Hartarto: Praktik Korupsi Hambat Laju Pertumbuhan Ekonomi 

Neti mengatakan pembelian jam tangan itu ditalangi menggunakan uang PT PLI kemudian diganti oleh uang Amiril Mukminin. Menurut Neti, jam itu diperuntukan untuk Edhy Prabowo.

"Kalau nggak salah dibayarkan dulu PT PLI ke customer di Hongkong, waktu sudah diterima totalnya, Kasman infokan ke almarhum, dan almarhum infokan ke Nini atas jam tersebut dipotong tagihan Amiril. Jam, berdasarkan informasi, dia (Deden) terima informasi dari abang-abang, itu jam itu untuk pak menteri," kata Neti.

Baca Juga : RUU Kejaksaan, DPR dan Pemerintah Sepakat Penguatan Korps Adhyaksa

Selain itu, Kasman yang juga bersaksi mengatakan jam tangan itu dibeli seharga Rp 331 juta.

"Benar. Jadi waktu bulan November Pak Deden itu ada minta saya email pembelian jam tangan Jacob&Co ke salah satu customer kita di Hongkong setelah itu saya email, dan sore ada jawaban bahwa stok yang hitam habis, adanya putih," ujar Kasman.

"(Nilai) Rp 331 jutaan," ungkapnya.

Dalam sidang ini yang duduk sebagai terdakwa adalah Suharjito. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo yang saat itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Suharjito disebut jaksa memberi suap ke Edhy sebesar Rp 2,1 miliar terkait kasus ekspor benur.

Jaksa menyebut uang suap diberikan ke Edhy melalui staf khusus menteri KKP Safri dan Andrau Misanta Pribadi, lalu Sekretaris Pribadi Edhy bernama Amiril Mukminin, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Prabowo Iis Rosita Dewi, dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) sekaligus Pendiri PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Siswadhi Pranoto Loe.

Suap diberikan agar Edhy mempercepat perizinan budi daya benih lobster ke PT DPP. Suharjito didakwa jaksa KPK melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana. (*)

Editor : Milna Miana | Sumber : Detik.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]