Turun 6%, Harga Emas Drop di Bawah US$ 1.700


Jumat, 05 Maret 2021 - 08:43:32 WIB
Turun 6%, Harga Emas Drop di Bawah US$ 1.700 Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Nasib emas tahun ini sungguh miris. Baru dua bulan berjalan, harga emas langsung merosot hampir 11%. Padahal, tahun lalu harga emas berhasil meroket lebih dari 20%. 

Dikutip dari CNBC Indonesia, pada perdagangan pagi hari ini Jumat (5/3/2021), harga emas di pasar spot drop 0,3% dibanding posisi penutupan kemarin. Kini untuk 1 troy ons emas harganya dibanderol di US$ 1.692/troy ons.

Baca Juga : Bank Nagari Dukung Pemkab Solsel Sukseskan Program Nasional P2DD

Untuk pertama kalinya sejak Juni tahun lalu, harga emas berada di bawah level psikologis US$ 1.700/troy ons. Semalam harga logam kuning tersebut terkoreksi hampir 1%. Dalam sepekan terakhir harga emas ambles 6,2%. 

Lagi-lagi pemicu harga emas tertekan adalah kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan juga penguatan greenback. Imbal hasil nominal obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tajam dan kembali menyentuh level 1,57%. Sementara itu indeks dolar kini berada di level tertingginya dalam tiga bulan terakhir. 

Baca Juga : Harga Pangan di Pasar Lubuk Buaya Naik, Berikut Daftar Lengkapnya

Kenaikan imbal hasil obligasi membuat opportunity cost memegang logam mulia emas menjadi lebih tinggi sehingga kurang dilirik. Maklum emas merupakan aset yang tak memberikan imbal hasil apapun, berbeda dengan saham yang membagikan dividen dan obligasi yang memberikan kupon.

Pasar tampaknya mulai melihat adanya potensi kenaikan inflasi sehingga meminta kompensasi lewat kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS. Kendati secara nominal imbal hasilnya naik, tetapi secara riil yield-nya masih sangat rendah. 

Baca Juga : Pembudidaya Keluhkan Penyakit Ikan, Dinas Pertanian Pangan dan Kelautan Kota Pariaman Beri Tanggapan

Dengan yield nominal sebesar 1,57% dan inflasi di AS terakhir berada di 1,5% maka imbal hasil riil yang diperoleh dari berinvestasi di instrumen pendapatan tetap yang diterbitkan oleh Pemerintah AS bertenor panjang tersebut hanya 0,07%. Sangat rendah tentunya. 

Dalam acara  Wall Street Journal Jobs Summit yang diselenggarakan kemarin, bos The Fed Jerome Powell mengaminkan bahwa memang ada kemungkinan inflasi mengalami kenaikan. 

Baca Juga : Duh, Jelang Ramadan Harga Daging Sapi Bikin Menjerit

Namun kenaikan tersebut hanya bersifat temporer bukan persisten. Powell menilai bahwa  

Powell tampaknya tak terlalu mengkhawatirkan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang yang terjadi belakangan ini. "Saya akan prihatin dengan kekacauan di pasar keuangan atau pengetatan yang tidak diinginkan. Ini bukan tentang satu harga tertentu," kata Powell. 

Bos bank sentral negeri adikuasa tersebut tidak memberikan sinyal lebih lanjut tentang kebijakan moneter yang mendetail. Namun banyak pihak yang menilai sebenarnya The Fed bisa menggunakan operation twist untuk membuat suku bunga jangka panjang menjadi lebih rendah. 

Sebagai informasi operation twist adalah ketika The Fed mulai membeli obligasi bertenor panjang sehingga bisa membuat yield curve melandai. Bagaimanapun juga kebijakan makro di AS masih akan tetap akomodatif. 

Suku bunga rendah dan likuiditas berlimpah membuat kondisi ini sebenarnya cocok untuk emas. Namun risk appetite dan gejolak yang terjadi di pasar juga turut menekan harga emas. Beberapa analis merekomendasikan ketika harga emas drop, maka ini adalah saat yang tepat untuk membeli.  (*)

Editor : Rahma Nurjana | Sumber : CNBC Indonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]