Tidak Lagi Tertinggal, Solsel Bersiap Menuju Daerah Maju


Jumat, 05 Maret 2021 - 20:18:03 WIB
Tidak Lagi Tertinggal, Solsel Bersiap Menuju Daerah Maju Firdaus Firman, Kabag Humas dan Protokol Pemkab Solsel.

Dalam berbagai kesempatan seringkali disebut bahwasannya Kabupaten Solok Selatan tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Solok Selatan disebut-sebut memiliki berbagai kekurangan dibandingkan dengan daerah lain, termasuk dengan daerah-daerah yang baru dimekarkan bersamanya, yakni Pasaman Barat dan Dharmasraya.

Oleh: Firdaus Firman, Kabag Humas dan Protokol Pemkab Solsel

Baca Juga : Etika Politik Koalisi PKS dan PAN dalam Menentukan Wakil Walikota Padang

Penulis mencoba menganalisis "dugaan" tersebut dengan beberapa data statistik dalam berbagai sektor yang ada. Karena ketika kita berbicara tertinggal atau tidak tertinggal, tentu lebih tepatnya jika kita berbicara dengan data, bukan seperti berbicara di lapau atau warung layaknya orang yang bersilat lidah dan penuh subyektifitas.

Perbandingan yang kita pakai, adalah antar kabupaten yang ada di Sumatera Barat (12 kabupaten). Pertama kita coba lihat posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik (BPS) setiap tahunnya.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Kenapa kita mulai dengan IPM?. IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara.

IPM dibentuk oleh 3 (tiga) dimensi dasar penilaian, yakni umur panjang dan hidup sehat, Pengetahuan, serta Standar hidup layak. Tahun 2020, IPM Solsel 69,04. Dibandingkan dengan kabupaten lain di Sumbar, Solsel lebih baik IPM nya dibandingkan Sijunjung (67,74), Pasaman Barat (68,49), Pasaman (66,64), dan Mentawai (61,09). Solsel hanya terpaut sedikit lebih rendah daripada kabupaten induknya Solok (69,08).

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Dari 12 kabupaten di Sumbar, Solsel berada pada peringkat 8. Peringkat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika Solok Selatan baru berdiri sebagai kabupaten sendiri. Pada awal berdiri, Solok Selatan selalu berada pada posisi ke-11 dari 12 kabupaten yang ada. Dengan arti kata, secara kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, kita dinilai sebagai "juara" ke dua dari bawah, dan sangat rendah dibandingkan yang lain.

Tahun 2019 dan 2018 silam, IPM Solsel 68,94, juga relatif sama berada pada peŕingkat 8 dari 12 kabupaten lain di Sumbar.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

Perlu kita ketahui, kecuali Dharmasraya dan Pasaman Barat, kabupaten lain di Sumbar adalah kabupaten yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Sebut saja Padang Pariaman dengan usia kabupatennya 187 tahun, Pesisir Selatan 72 tahun, Sijunjung 71 tahun, Solok 107 tahun, 50 Kota 179 tahun, dan lainnya.

Tentu ini sebuah data yang menceritakan kepada kita bahwasanya sebagai kabupaten yang baru berumur 17 tahun, IPM kita tidak terlalu mengecewakan. Namun memang perlu ditingkatkan pada tahun tahun mendatang. Secara penilaian pada aspek kesehatan, pendidikan, dan standar perekonomian masyarakat, penulis melihat kita berada pada level menengah, dan bukan berada pada level yang terlalu bawah.

Dan ini adalah data yang disusun institusi negara (Biro Pusat Statistik) untuk mengkaji dan menganalisis berbagai data guna kepentingan pengambilan kebijakan publik. Bukan asumsi atau cerita semata, tapi hasil survey dan kajian langsung ke lapangan setiap tahunnya. Jika dilihat persentase kemiskinan tahun 2020, sebanyak 7,15 % masyarakat Solok Selatan masih berada pada garis kemiskinan. Namun angka ini juga masih lebih baik dibanding beberapa kabupaten lain.

Seperti halnya angka kemiskinan di Kab. Solok 7,81%, Pesisir Selatan 7,61%, Pasaman 7,16%, dan Mentawai dengan 14,35%. Ditilik dari laju pertumbuhan ekonomi pun, Solok Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Tahun 2019, Solsel mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 4,89%, dan angka ini lebih baik dibanding Pessel 4,81%, Sijunjung 4,83%, Padang Pariaman 2,51%, Mentawai 4,76%, Agam 4,81%, Pasaman 4,84%, serta Pasaman Barat 4,49%.

Dari data dan fakta diatas, maka penulis berkesimpulan Solok Selatan tidak bisa lagi disebut sebagai daerah yang terbelakang, tapi lebih tepat disebut sebagai daerah berkembang yang lepas dari ketertinggalannya.

Solok Selatan dengan potensi investasi panas bumi, perkebunan, pariwisata, dan sektor lainnya, diyakini akan terus berkembang dan melaju kencang untuk mampu sejajar dengan kabupaten lain di Sumbar.

Lalu kenapa masih banyak diantara kita masih berasumsi/beranggapan/merasakan Solok Selatan sebagai daerah terbelakang?. Kita bahas di opini selanjutnya. (**)

Reporter : Jefli | Editor : Milna Miana
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]