Janda Kelompok Berisiko Tinggi jadi Korban 'Love Scam'


Ahad, 07 Maret 2021 - 07:31:27 WIB
Janda Kelompok Berisiko Tinggi jadi Korban 'Love Scam' Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Ketua Pusat Kajian Law, Gender, and Society UGM, Sri Wiyanti Edyyono mengatakan, penipuan berkedok asmara atau cinta yang dikenal dengan love scam semakin marak terjadi dalam beberapa waktu terakhir. 

"Perkembangan teknologi dan internet menjadikan jangkauan love scam kian meluas. Love scam ini bukan fenomena baru dan banyak terjadi, tetapi yang lapor jarang,” ujarnya dalam Webinar Series: Love Scam, diselenggarakan Pusat Studi Wanita (PSW) UGM, Sabtu (6/3/2021).

Baca Juga : Masih Bingung Cara Keluar dari Grup WhatsApp Tanpa Diketahui? Simak Yuk

Menurut Wiyanti yang dilansiri dari laman UGM, pada umumnya kasus love scam tidak banyak diangkat atau dilaporkan karena sejumlah alasan. Salah satunya karena rasa malu pada korban. Selain itu, adanya ketakutan dijadikan bahan candaan di media sosial, kehawatiran disalahkan dan lainnya.

“Takut dijadikan guyonan yang menyudutkan mereka. Lalu, bukan dianggap persoalan serius saat dilaporkan ke aparat penegak hukum, kecuali mendapat sorotan publik,” jelasnya.

Baca Juga : Ini Cara Sembunyikan Status WhatsApp agar Tidak Bisa Dilihat Orang yang Tidak Diinginkan

Ia menilai pencegahan terhadap kasus love scam di tanah air masih terbilang lemah. Sementara itu, penegakan hukum juga belum konsisten, pengawasan yang tidak berkelanjutan hingga permasalahan data yang tidak lengkap.

Kondisi tersebut menjadikan tidak sedikit kasus love scam yang tidak dapat terselesaikan. Ditambah dengan permasalahan budaya yaitu persepsi yang sangat kuat terhadap seksualitas dan seterotipe menyebabkan korban love scam menjadi korban kembali.

Baca Juga : GoPlay Fokus Kembangkan Live Stream Platform Tahun Ini

Wiyanti menegaskan risiko love scam bisa dicegah dengan adanya peraturan yang kuat. Disamping itu, juga adanya intervensi dalam upaya pencegahan seperti literasi digital pada perempuan, promosi perlindungan, mekanisme pengaduan, perubahan peraturan dan lainnya.

“Ini harusnya masuk dalam bagian isu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan ada payung hukum baru karena kalau mengacu peraturan yang ada itu tidak bisa,” terangnya.

Baca Juga : Begini Cara Mudah Agar WhatsApp Anda Tidak Bisa Dibajak

Sementara Dosen FISIP UIN Walisongo Semarang, Nur Hasyim yang juga pemerhati gender menyebutkan bahwa love scam merupakan tindakan kekerasan karena mengandung unsur pemaksaan kehendak, manipulasi, serta eksploitasi. Korban love scam yang mengalami eksploitasi seksual menunjukkan gejala kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, stres, bahkan depresi.

Nur Hasim mnjelaskan  love scam dapat dialami oleh siapa saja. Namun demikian, perempuan terutama janda maupun wanita yang menjalani hidup sendiri merupakan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban love scam.

“Norma gender tradisional juga menjadikan mereka rentan menjadi korban love scam,” terangnya.(*)

Reporter : Syafril Amir | Editor : Nova Anggraini
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]