Astaga! China Retas 30 Ribu Akun AS


Ahad, 07 Maret 2021 - 08:10:33 WIB
Astaga! China Retas 30 Ribu Akun AS Ilustrasi

WASHINGTON, HARIANHALUAN.COM - China telah meretas sedikitnya 30 ribu organisasi Amerika Serikat (AS) termasuk pemerintah lokal dalam beberapa hari terakhir. Menurut seorang spesialis keamanan komputer, peretasan itu merupakan kampanye spionase dunia maya oleh China yang 'sangat agresif'. 

“Setidaknya 30 ribu organisasi di seluruh Amerika Serikat termasuk sejumlah besar bisnis kecil, kota kecil, kota besar, dan pemerintah lokal, selama beberapa hari terakhir telah diretas oleh unit spionase dunia maya China yang luar biasa agresif yang berfokus pada pencurian email dari organisasi korban," ujar spesialis keamanan komputer Brian Krebs, dilansir Aljazirah, Ahad (7/3).

Baca Juga : Alhamdulillah, Singapura Bakal Izinkan Perawat Muslim Pakai Hijab

Krebs melaporkan, peretas telah menguasai ribuan sistem komputer di seluruh dunia. Mereka menggunakan perangkat lunak yang dilindungi oleh kata sandi yang dimasukkan ke dalam sistem.

Dilansir republika.co.id, kampanye itu telah mengeksploitasi kekurangan dalam perangkat lunak Microsoft Exchange, mencuri email, dan menginfeksi komputer dengan alat yang memungkinkan para hacker mengambil kendali dari jarak jauh. Juru bicara Gedung Putih Jennifer Psaki mengatakan, peretasan tersebut adalah ancaman aktif. 

Baca Juga : Balas Serangan China, AS-Filipina Bakal Latihan Militer Gabungan

"Ini ancaman aktif. Setiap orang yang menjalankan server ini perlu bertindak sekarang. Kami prihatin dengan banyaknya jumlah korban," ujar Psaki.

Sebelumnya, Microsoft mengatakan, sekelompok peretas yang disponsori oleh China sedang mengeksploitasi kelemahan keamanan dari layanan Microsoft Exchange untuk mencuri data dari pengguna bisnis.Microsoft mengatakan, kelompok peretas yang bernama "Hafnium" itu adalah aktor yang sangat terampil dan canggih.

Baca Juga : Ingin Capai Usia 99 Tahun Seperti Pangeran Philip? Intip Pola Makannya

 Eksekutif Microsoft Tom Burt mengatakan, perusahaan telah merilis pembaruan untuk memperbaiki kelemahan keamanan, yang berlaku untuk versi perangkat lunak lokal daripada versi berbasis cloud. Microsoft mendesak pelanggan untuk menerapkan pembaruan tersebut.

“Kami tahu, banyak aktor negara-bangsa dan kelompok kriminal akan bergerak cepat untuk memanfaatkan sistem yang belum ditambal,” ujar Burt. 

Baca Juga : Harry Hadir Sendiri, Ternyata Ini Alasan Meghan Markle Tak Hadiri Pemakaman Pangeran Philip

Microsoft mengatakan, kelompok itu berbasis di China, tetapi beroperasi melalui server pribadi virtual yang disewa di Amerika Serikat, dan telah memberi pengarahan kepada pemerintah AS. Hafnium telah menargetkan perusahaan yang berbasis di AS di masa lalu, termasuk peneliti penyakit menular, firma hukum, universitas, kontraktor pertahanan, sejumlah lembaga think-tank, dan sejumlah LSM.

Awal serangan peretasan ini ditemukan oleh peneliti dunia maya terkemuka asal Taiwan, Cheng Da Tsai. Pada Januari, Cheng mengatakan bahwa dia melaporkan ada kecacatan dalam program Microsoft. Ketika itu, dia mengatakan bahwa dia sedang menyelidiki apakah informasi itu bocor.(*)

Editor : Nova Anggraini | Sumber : republika
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]