Jangan Dibuang! Peneliti Sebut Smartphone Bekas Masih Sisakan Data Sensitif


Ahad, 07 Maret 2021 - 13:18:23 WIB
Jangan Dibuang! Peneliti Sebut Smartphone Bekas Masih Sisakan Data Sensitif Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Salah satu pilihan untuk memiliki smartphone adalah membeli gadget bekas. Hal ini dikarenakan smartphone bekas harganya relatif lebih murah, dengan spesifikasi lebih tinggi.

Hal ini pun diamini oleh Kaspersky, namun di balik murahnya harga smartphone bekas, ada sebuah celah. Menurut penelitian dari perusahaan keamanan siber tersebut, sebagian smartphone bekas ini belum dihapus seutuhnya ketika dijual.

Baca Juga : Masih Bingung Cara Keluar dari Grup WhatsApp Tanpa Diketahui? Simak Yuk

Informasi pemilik sebelumnya pun berisiko diakses oleh pihak ketiga.

Para peneliti menganalisis lebih dari 185 perangkat media penyimpanan seperti kartu memori dan hard drive dan menemukan, 90 persen data tersisa di perangkat tersebut.

Baca Juga : Ini Cara Sembunyikan Status WhatsApp agar Tidak Bisa Dilihat Orang yang Tidak Diinginkan

Dari 90 persen isian data, 16 persen memberikan akses secara langsung ke informasi pengguna lama. Sementara, 74 persen lainnya diekstraksi menggunakan ukiran file, sebuah metode untuk memulihkan file dari ruang yang tidak beralamat pada media penyimpanan.

Data yang ditemukan di smartphone bekas pun beragam, mulai dari entri kalender berisi catatan rapat, foto dan video pribadi, dokumen pajak, informasi perbankan, kredensial login, hingga informasi medis. Singkatnya, semua data ini akan berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.

Baca Juga : GoPlay Fokus Kembangkan Live Stream Platform Tahun Ini

Malware Dari Smartphone Bekas

Riset juga menemukan, 17 persen smartphone bekas memasang pemindai virus. Artinya, pengguna yang membeli smartphone bekas mungkin berpotensi mewarisi malware pemilik sebelumnya.

Baca Juga : Begini Cara Mudah Agar WhatsApp Anda Tidak Bisa Dibajak

Head of GReAT Eropa, Marco Preuss, mengatakan, pada dasarnya pengguna harus selalu menyimpan data di perangkat pribadi dalam kondisi terenkripsi. Hal ini untuk berjaga-jaga jika perangkat hilang atau seseorang mendapatkan akses yang tidak sah.

"Ketika data pribadi jatuh ke tangan yang salah, hal itu tidak hanya membahayakan diri sendiri tetapi juga teman, keluarga, bahkan perusahaan," kata Marco, dikutip dari keterangan Kaspersky, yang dimuat Tekno Liputan6.com.

Tak Cukup Format Ulang

Lebih lanjut, Head of GReAT Jerman, Christian Funk, menyebut, kesalahpahaman yang umum adalah, pengguna hanya menghapus data atau melakukan format ulang penyimpanan yang dianggap membersihkan data.

Padahal, jika ada seorang tech savvy, mereka bisa memulihkan data ini. "Itulah mengapa, penting sekali melakukan pembersihan total," kata Christian. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : merdeka.com/Liputan6
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]