Hacker Sebar Data Pasien RS Amerika Serikat di Dark Web


Ahad, 07 Maret 2021 - 16:33:10 WIB
Hacker Sebar Data Pasien RS Amerika Serikat di Dark Web Kemampuan yang Harus Dimiliki Jika Ingin Jadi Hacker

HARIANHALUAN.COM - Sekumpulan peretas berhasil membobol dua jaringan rumah sakit (RS) di Amerika Serikat. Hacker tersebut berhasil menyebarkan data-data pasien yang berhasil dibobol tersebut, ke situs Dark Web.

Mengutip laman The Verge via Tekno Liputan6.com, adapun data pasien yang disebar termasuk nama, tanggal ulang tahun, dan hasil kolonoskopi.

Baca Juga : Brutal! Aksi Penembakan Membabibuta Tewaskan Delapan Orang di Indianapolis AS

Puluhan ribu file yang di-posting hacker berasal dari pasien di Leon Medical Center, Miami dan Rumah Sakit Umum Nocona, Texas.

Dikutip dari merdeka.com, catatan pasien yang di-posting dalam peretasan ini juga menyertakan surat kepada perusahaan asuransi. Namun tampaknya tidak ada ransomware yang mengunci sistem RS Nocona. Demikian menurut seorang pengacara untuk organisasi tersebut kepada NBC News.

Baca Juga : Pentagon Konfirmasi Kemunculan UFO, dari Bulat hingga Lonjong

Serangan siber di rumah sakit dan organisasi perawatan kesehatan kian meningkat. Serangan ini naik dua kali lipat pada paruh kedua 2020 dibandingkan dengan paruh pertama.

Dua serangan besar menargetkan fasilitas perawatan kesehatan AS pada musim gugur. Namun, hacker jahat umumnya tidak mem-posting informasi pasien secara publik.

Baca Juga : Gawat! RS India Kewalahan Hadapi Ledakan COVID-19, Seranjang Ditempati 2 Pasien

Biasanya, pelaku juga mengunci sistem komputer sampai korban membayar tebusan dan akan menyebarkan data jika tebusan tidak dibayarkan.

Bahaya Bagi Pasien dan RS

Baca Juga : Gara-gara Ritual 'Balimau', Lebih 1.000 Orang Kena Corona

Serangan semacam itu sangat berbahaya bagi pasien jika serangan ransomware membuat dokter dan perawat tak dapat mengakses file.

Mereka mungkin tidak dapat melihat catatan kesehatan pasien, yang mencakup informasi tentang hal-hal seperti alergi obat atau penggunaan mesin MRI dan CT scan.

Bahayanya lagi akan lebih banyak pasien meninggal dunia karena pihak RS harus mencurahkan waktu lebih untuk memperbaiki sistem ketimbang berfokus sepenuhnya pada pengobatan.

Sebagian besar organisasi perawatan kesehatan tidak siap menghadapi serangan siber dan memiliki lebih sedikit sumber daya untuk menyelesaikan masalah itu setelah hampir setahun memerangi Covid-19.

"Mereka kesulitan finansial karena pandemi," kata Caleb Barlow, CEO perusahaan konsultan keamanan siber CynergisTek, mengatakan kepada The Verge. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : merdeka.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]