Media IT dalam Pengenalan Kalimat Thayyibah pada Masa Emas Anak


Sabtu, 13 Maret 2021 - 22:43:28 WIB
Media IT dalam Pengenalan Kalimat Thayyibah pada Masa Emas Anak Zulvia Trinova, Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

Pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0-4 tahun mencapai 50%. Pada usia 8 tahun mencapai 80% dan pada saat mencapai 18 tahun perkembangan telah mencapai 100% (Benyamin S. Bloom, ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat).

Oleh: Zulvia Trinova, Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Padang

Baca Juga : Cara Mudah Mempelajari Polis Asuransi 

Anak usia dini memiliki potensi luar biasa di masa emasnya (the golden ages). Di masa ini, anak membutuhkan rangsangan yang tepat dalam menumbuhkembangkan diri yang mempengaruhi perkembangan mereka di masa selanjutnya. Anak dapat memahami sesuatu, jika mereka melakukannya secara bermakna (meaningful learning) dan dapat menemukannya dengan cara bermain sambil belajar, sesuai dengan prinsip belajar di PAUD.

Seluruh aktivitas anak dilaksanakan dengan cara bermain, yang nantinya perlahan diarahkan menjadi belajar seraya bermain. Dengan demikian, pembelajaran yang menyenangkan akan mengoptimalkan masa emas dalam diri anak.

Baca Juga : Selamat Hari Puisi Nasional, Ini Ternyata Sejarahnya

Pada era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital dan virtual, teknologi informasi dan komunikasi saat ini, pendidik tentu tidak mengharapkan anak didik akan kehilangan nilai-nilai dalam karakter mereka.

Untuk itu, pendidik tetap melakukan penguatan melalui pembelajaran dalam mengembangkan potensi anak sejak dini dengan berbagai metode dan media dalam mengenalkan berbagai konsep pada anak sejak dini. Anak dalam proses belajarnya dapat berinteraksi dengan lingkungan sehingga mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Anak mampu melakukan berbagai aktivitas sendiri dan guru dapat menuntun mereka dengan menyediakan materi, media, dan metode yang tepat. Pengembangan potensi anak, di antaranya pengembangan dari aspek beragama. Guru dapat melakukannya melalui penanaman nilai-nilai agama dan moral dengan menanamkan karakter positif yang melekat pada diri seorang anak.

Pada aspek nilai agama dan moral, dikenalkan kepada anak sifat jujur, syukur nikmat, bersih, santun kepada orangtua dan guru, sabar, disiplin, latihan ibadah shalat berjamaah. Satu di antaranya, kemampuan anak dalam mengucapkan kalimat thayyibah. Kalimat Thayyibah mempunyai arti sebagau kata-kata yang baik, ucapan yang mengandung arti kebaikan, kalimat yang indah atau ungkapan zikir kepada Sang Khalik.

Ucapan kalimat Thayyibah yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah nabi, meliputi tahmid (Alhamdulillah, segala puji atas kepunyaan Allah), tasbih (subhanallah, Maha Suci Allah), takbir (Allahuakbar, Allah Maha Besar), tahlil (laa ilaaha illallah, tiada Tuhan selain Allah), basmalah (bismillahirrahmanirrahiim, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), istighfar (astaghfirullah, aku memohon ampun kepada Allah), dan hawqalah (laa hawla wa laa quwwata illa billah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah).

Beberapa kalimat thayyibah di atas, Basmalah diucapkan setiap ketika mengawali segala perbuatan. Jika lidah sudah terbiasa, perbuatan ini sudah menjadi refleks, maka akan lebih mudah untuk menjaga diri dari perbuatan buruk karena senantiasa diingatkan bahwa ada Allah yang melihat setiap perbuatan yang dilakukan. Kalimat ini sekaligus mengingatkan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah.

Kalimat thayyibah ini juga memberikan peringatan kepada siapa pun untuk melakukan perbuatan tetap berada dalam ketentuan Allah. Selanjutnya, Hamdalah adalah ungkapan rasa syukur atas kurnia dan rahmat Allah SWT. Sesungguhnya, pancaran perasaan syukur adalah energi kehidupan yang sangat besar bagi manusia.

Orang yang bersyukur kepada Allah pasti akan selalu berterimakasih kepada sesama manusia. Dengan mengucap Alhamdulillah setiap selesai melakukan satu pekerjaan, maka akan menguatkan keyakinan bahwa tak akan pernah terjadi sesuatupun tanpa campur tangan Allah. Jika sesuatu itu baik, dirasakan sebagai pertolongan Allah.

Jika sesuatu itu kurang baik, tetap disyukuri dengan berkeyakinan bahwa itupun sudah lebih baik dari pada tidak sama sekali. Manakala seseorang telah terbiasa mengucap syukur untuk hal-hal yang kecil, maka ketika Allah menganugerahkan nikmat yang sedikit lebih besar, maka kenikmatan yang diperoleh dirasakan akan berlipat ganda.

(H Hariroh, ‎2012). Kalimat Thayyibah ini dapat diperkenalkan oleh guru kepada anak sesuai dengan tujuan dari masing-masing makna kalimat Thayyibah tersebut. Guru dapat menjadi teladan bagi anak-anak dari setiap tindakannya di sekolah melalui proses belajar yang dilaksanakan dengan tetap menerapkan prinsip bermain sambil belajar yang menyenangkan bagi anak.

Guru dapat menggunakan media elektronik atau media berbasis IT dalam pembelajaran, misalnya penggunaan software dalam bentuk e-book, game, animation, dan penggunaan hardware, seperti: laptop, projector, dan komputer dalam mengenalkan kalimat Thayyibah. Banyak alternatif media yang dapat digunakan guru, seperti yang telah diuraikan di atas, di antaranya multimedia dengan menggunakan aplikasi yang memuat gambar, video yang menarik bagi anak.

Pembelajaran yang disajikan secara menarik tersebut diharapkan dapat membuat anak dengan mudah mengimplementasikan kalimat Thayyibah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian yang telah dilakukan, diketahui ada beberapa tahapan dalam proses pengembangan produk media berbasis IT dengan aplikasi lectora inspire, yang dibuat dan dapat dikembangkan secara offline yang memudahkan guru karena tidak memerlukan biaya dalam pengembangan media tersebut.

Media pembelajaran dengan menggunakan aplikasi lectora inspire ini memiliki fitur yang cukup lengkap, seperti dapat menampilkan gambar, animasi, video, serta sangat mendukung untuk proses pembelajaran, termasuk di PAUD. Dalam mengembangkan media ini dibutuhkan kreativitas guru untuk mendesain tampilan media agar terlihat menarik bagi anak, sehingga dapat melatih anak dalam membiasakan pengucapan kalimat Thayyibah sehari-hari.

Proses pengembangan produk media berbasis IT ini, dimulai dengan tahap definisi (define) dalam pengenalan kalimat thayyibah dengan media Lectora Inspire pada Pendidikan Anak Usia Dini dilakukan melalui tahap analisis awal, analisis peserta didik, analisis tugas, analisis konsep, dan analisis tujuan. Pada analisis tujuan, anak dapat mengulang kembali pengertian dari kalimat Thayyibah, anak dapat meyakinkan diri bahwa kalimat Thayyibah dapat menenteramkan hati, anak dapat menyebutkan berbagai kalimat Thayyibah yang dapat mendatangkan pahala di saat membacanya.

Kemudian, anak dapat meyakinkan diri dan teman-temannya bahwa kalimat Thayyibah dapat mengajak orang lain kepada kebajikan dan dapat mencegah dari perbuatan kemunkaran. Dengan sudah dikenalnya beberapa kalimat thayyibah, maka anak semakin mudah dan ringan mulutnya dalam mengucapkan, sehingga membuat mereka terbiasa dalam setiap tindak tanduk sehari-hari hingga kelak dewasa dan di hari tua mereka nantinya.

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Julianti, K., Syukri, M., & Astuti, I; Hasnawati H. (2019) yang menyatakan bahwa pembiasaan dalam mengucapkan kalimat thayyibah dimulai sejak dini dapat memberikan hasil yang lebih baik, sehingga untuk menjembatani itu, diperlukan upaya yang serius dari guru agar anak mampu dan terampil dalam mengucap kalimat thayyibah dengan benar dan tepat.

Selanjutnya, pada tahap rancangan (design) pengenalan kalimat thayyibah dengan media Lectora Inspire pada Pendidikan Anak Usia Dini dilakukan dengan pemilihan materi kalimat thayyibah sesuai media dengan menentukan format yang menarik bagi anak usia dini sehingga menjadi prototype dengan memperhatikan desain tampilan, pembuka media, menu utama, menu materi, tampilan video, dan referensi yang dikutip dalam pembuatan media lectora inspire tersebut.

Rancangan media pembelajaran (prototype) yang disusun terdiri dari tampilan pembuka media, tampilan menu utama, sajian materi, sajian video, dan tampilan referensi. Dalam merancang media, ditentukan warna, ukuran font, mencari berbagai gambar kalimat thayyibah, dan berbagai video dan animasi yang menyenangkan bagi anak.

Seperti yang diungkapkan Chuang, T. Y., & Chen, W. F. (2007, March), For children, they are just enjoying the fun. However, the questionwhich computer-based video game works best for the students identified as having high-prior knowledge. Hal ini dimaknai bahwa anak-anak hanya menikmati kesenangan dan game pada video berbasis komputer bekerja paling baik untuk anak yang diidentifikasi memiliki pengetahuan tinggi sebelumnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka perancangan (prototype) media yang menyenangkan bagi anak semakin bermakna. Hal ini disebabkan karena media yang dibuat berisi video, animasi, gambar yang berwarna-warna yang membuat mereka sangat menikmati dan enjoy sehingga materi pengenalan kalimat thayyibah ini dapat meresap dalam pikian dan hati mereka untuk diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari.

Pada tahap pengembangan (develop) pengenalan kalimat thayyibah dengan media Lectora Inspire pada Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan melalui tahap validasi oleh validator ahli media, ahli materi, dan ahli bahasa. Media ini mendapat kriteria sangat valid, penilaian ahli materi, serta penilaian ahli bahasa dengan kriteria sangat valid.

Kriteria sangat valid berarti media telah diukur secara tepat oleh pada ahli sehingga media ini dapat diterapkan di PAUD dalam mengenalkan kalimat thayyibah pada anak. Pengujian dilanjutkan kepada pendidik dan berada pada kriteria sangat praktis untuk diterapkan pada anak usia dini. Selanjutnya diujikan pada anak dalam ujicoba secara terbatas dan berada pada kriteria sangat praktis.

Kriteria sangat praktis berarti media lectora inspire mudah digunakan oleh para guru dan juga memudahkan anak dalam mengenal dan memahami kalimat thayyibah dalam materi aspek nilai agama dan moral di PAUD. Pada tahap penyebaran (disseminate) pengenalan kalimat thayyibah dengan media Lectora Inspire pada Pendidikan Anak Usia Dini dilakukan melalui ujicoba lapangan utama dengan rata-rata hasil ujicoba lebih luas pada anak TK dengan kriteria sangat praktis.

Artinya, bahwa media ini dalam ujicoba lebih luas memudahkan anak dalam mengenal kalimat thayyibah dalam materi aspek nilai agama dan moral di PAUD dan dipraktekkan dalam aktivitas sehari-hari dengan menggunakan media lectora inspire. Setelah media dikembangkan, maka dapat dikemas, disebar, dan diadopsi sehingga produk dapat dimanfaatkan secara luas oleh berbagai PAUD dimana saja berada.

Hal ini seiring dengan penelitian Wibawa (2017) dengan penelitian berjudul “The design and Implementation of an Educational Multimedia Interactive Operation System Using lectora Inspire” menghasilkan bahwa the media Lectora inspire gets good results and media can be said to be effective as a learning tool to supporting study students yang bermakna bahwa media lectora inspire ini dapat dikatakan media yang efektif sebagai sarana pembelajaran untuk menunjang pembelajaran peserta didik.

Masa emas (the golden ages) yang dimiliki anak perlu dimaksimalkan dalam pengembangannya ke depan, termasuk dalam mengenalkan berbagai konsep secara terintegrasi, yaitu dalam pengenalan kalimat thayyibah sejak dini, sehingga mereka lebih ringan mengucapkannya dalam berbagai kondisi keseharian yang dilalui. Media yang dikembangkan ini akan memberikan sumbangan praktis terutama bagi guru dalam proses pembelajaran, karena media lectora inspire ini memberikan kemudahan guru dalam pembelajaran di kelas sehingga berdampak pada efektivitas pembelajaran dan dapat meningkatkan pengenalan kalimat thayyibah bagi anak usia dini.

Dengan demikian, media yang dikembangkan sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru dalam menyampaikan materi pengenalan kalimat thayyibah sejak pendidikan anak usia dini. Penerapan media berupa penggunaan media lectora inspire yang interaktif memerlukan kesiapan anak untuk mengikuti pembelajaran secara mandiri sehingga anak akan memperoleh pemahaman dan mampu membiasakan secara maksimal bila menerapkan media juga secara maksimal.

Dengan menggunakan media lectora inspire, anak diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya dengan bernyanyi sebagai usaha mengingat dan membiasakan pengucapan kalimat thayyibah sehari-hari. Konsep pengembangan media Lectora Inspire juga dibatasi pada materi pengenalan kalimat thayyibah pada anak usia dini saja.

Aspek nilai agama dan moral memiliki banyak hal yang dapat dikenalkan kepada anak usia dini, namun dalam penelitian ini hanya pengenalan kalimat thayyibah saja, dan materi lain dapat dilanjutkan peneliti berikutnya.

Artikel ini ditulis berdasarkan Disertasi yang dipertahankan di Universitas Negeri Padang (UNP) pada Hari Kamis, Tanggal 25 Februari 2021 dengan Promotor I Prof. Dr. A. Muri Yusuf, M.Pd., dan Promotor II Prof. Dr. Jamaris Jamna, M.Pd. dan Pembahas I Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M.Pd., Pembahas II Prof. Dr. Gusril, M.Pd., dan Penguji Luar UNP Prof. Dr. Anita Yus, M.Pd. (**)

Editor : Milna Miana | Sumber : Relis
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]