Sudah Divaksin 2 Dosis Tapi Masih Kena Covid, Ini Alasannya


Senin, 15 Maret 2021 - 09:43:42 WIB
Sudah Divaksin 2 Dosis Tapi Masih Kena Covid, Ini Alasannya Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Wagub Nusa Tenggara Barat (NTB) Sitti Rohmi Djalilah yang positif Corona COVID-19. Kabar ini menjadi heboh karena ia terpapar meski sudah mendapatkan 2 dosis vaksin COVID-19.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Lalu Hamzi Fikri membenarkan kabar Sitti Rohmi Djalilah positif Covid-19. "Benar, Bu Wagub positif Covid-19," kata Hamzi seperti ditulis CNBC Indonesia yang mengutip dari Antara, Minggu (14/3/2021).

Baca Juga : Melalui Si Jadoel, Inovasi untuk Tingkatkan Pemahaman Peserta JKN – KIS di Masa Pandemi

Lalu kenapa sudah divaksin masih juga kena?

Kekebalan tubuh tidak bisa langsung terbentuk setelah divaksin COVID-19 sehingga kepatuhan terhadap protokol kesehatan harus selalu diaplikasikan seluruh warga baik yang belum divaksinasi maupun yang telah menerima suntikan dosis vaksin pertama dan kedua.

"Kita perlu pahami meskipun kita sudah divaksinasi COVID kita masih memiliki risiko untuk terpapar dan tertular virus COVID-19," kata Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Ketua KNPI Padang: Pemuda harus Lebih Aware dengan Jaminan Kesehatan dan Dukung Program Mulia JKN – KIS

Meski demikian, dengan vaksinasi, diharapkan tubuh lebih kuat terhadap paparan virus COVID-19. Sehingga apabila tetap tertular, sakitnya ringan dan tidak mengalami gejala berat.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) juga menyebut, dibutuhkan waktu berminggu-minggu bagi tubuh untuk membangun antibodi setelah divaksinasi.

"Itu berarti ada kemungkinan seseorang terinfeksi virus yang menyebabkan COVID-19 sebelum atau setelah vaksinasi dan jatuh sakit," jelas CDC di laman resminya. Hal ini juga terjadi karena vaksin tidak memiliki cukup waktu untuk memberikan perlindungan.

Pakar lain menyebut, rata-rata orang membutuhkan 10 hingga 14 hari untuk membangun sejumlah antibodi pelindung, tetapi setiap orang berbeda. Hal ini disampaikan Nicole Iovine, pakar penyakit menular dan kepala epidemiologi rumah sakit di University of Florida Health.

"Setiap hari, kemungkinan Anda terinfeksi sedikit berkurang," katanya. "Setiap orang dapat membuat respons kekebalan lebih cepat atau lebih lambat dari rata-rata," paparnya dikutip dari USA Today. (*)
 

Editor : Rahma Nurjana | Sumber : CNBC Indonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]