Blak-blakan di Lisensi Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT)


Sabtu, 20 Maret 2021 - 14:22:40 WIB
Blak-blakan di Lisensi Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Syafri Maltos, M.Pd

HARIANHALUAN.COM - Semua tanpa rekayasa. Begitulah. Kami tak menyangka bahwa kejadiannya akan seperti ini. Padahal di awal waktu koordinasi para asesor sudah menyampaikan bahwa untuk uji petik siswa silakan disiapkan satu siswa kelas rendah dan satu siswa kelas tinggi. Kami pun sudah menyiapkan dan menyampaikan ke wali kelas agar menyiapkan satu anak di kelas 7 A dan satu di 9 A. juga sudah disampaikan ke siswanya, kira-kira apa yang nanti akan ditanyakan oleh asesor.

 

Baca Juga : Cara Mudah Mempelajari Polis AsuransiĀ 

Oleh: Syafri Maltos, M.Pd

Kepala MTs Al Ittihadiyah Pekanbaru

Baca Juga : Selamat Hari Puisi Nasional, Ini Ternyata Sejarahnya

Tapi semua diluar rencana. Kami tak bisa protes, karena ini wewenang asesor. Pada saat uji petik saya sebagai pimpinan di minta mendampingi asesor di kelas zoom meeting. Ketika pembelajaran akan di tutup oleh ustazah yang mengajar di kelas tersebut. Tiba-tiba Asesor minta izin mewawancara salah seorang siswa. Saya terpaksa meng-iyakan.

“Silakan ustaz”. Ustazah yang mengajar pun tak bisa berkata apa-apa. Karena yang disiapkan siswa yang  lain yang di tanya pun lain. Allahu Akbar. Kami hanya bisa menyaksikan apa yang terjadi. Dapatlah giliran pada salah seorang siswa.

“ Assalaamu’alaikum”

“Wa’alaikumussalaam Pak!”

“Boleh ya Bapak tanya –tanya?’

“Boleh Pak, silakan!”

“Namanya siapa?”. Siswa pun menyebutkan namanya.

“Sudah hapal berapa juz?”

“Alhamdulillah sudah 2 Juz Pak.”

“Oo..MasyaAllah, Juz berapa aja?”

“Juz 29 dan juz 30”

“Wah, hebat ya, masih kelas 8 sudah hapal 2 Juz”

“rencana nya tamat MTs hapal berapa Juz?”

“InsyaAllah 3 Pak.”

“Aamiin”

“Coba bacakan surat Alqori’ah di Juz 29 ya”

Saya yakin Asesor sengaja menyampaikan ini karena ingin mengetahui apakah siswa ini memang hapal atau tidak.

“Al qori’ah Juz 30 Pak, bukan juz 29”

“Oo iya, salah ya, Juz 30 ya, silakan dibacakan, pakai Alqur’an ya.”

Lalu siswa pun membaca surat Alqori’ah dengan Tahsin, tajwid dan fasohahnya yang benar. Setelah selesai Asesor melanjutkan pertanyaanya.

“Juz 29 menghapalnya dari depan atau dari belakang?”

“Dari depan Pak”

“O ya, surat pertama juz 29 surat apa?”

“Surat Al Mulk Pak”

“Kedua?”

“Al Qolam Pak”

Asesor pun menanyakan urutan surat di Juz 29, ketika sampai surat Nuh, Asesor meminta siswa membacakan hapalan nya di surat Nuh ayat 1-5.

“Silakan di bacakan surat Nuh ayat 1-5”

Dengan tahsin dan Irama yang khas siswa pun membuat asesor berdecak kagum sampai pada pertanyaan yang membuat saya dan guru yang mengajar terharu dan berkaca-kaca.

“MaasyaAllah ustaz, antum mengajarnya bagaimana ? kok bisa sampai seperti ini? Luar biasa!”

Dengan pernyataan kagum sekaligus bahagia asesor menyampaikan itu. Kami pun tak kuasa menahan sebak di dada. Tak terasa air mata haru menyelimuti wajah. Allahu akbar. Padahal awalnya kami khawatir. Karena siswa yang di tanya tak sesuai dengan yang disiapkan dari awal. Asesor pun beralih ke kelas yang lain.

Beliau masuk kelas secara acak. Tak satupun kelas yang kami siapkan khusus untuk kedatangan asesor hari ini. Tanpa rekayasa. Semua mengalir apa adanya. Guru yang mengajar pun begitu, tak satupun yang membuat-buat pembelajaran seolah sedang ada penilaian.

Sekarang giliran kelas rendah di kelas 7. Maklum lah. Kelas 7 belum sekalipun menginjakkan kaki di sekolah. Merasakan duduk di bangku sekolah. Mereka  dari awal terdaftar sebagai siswa MTs Al Ittihadiyah sampai sekarang mengikuti kegiatan daring dari rumah. Asesor pun menunjuk salah seorang siswa.

“Assalaamualaikum”

“Wa’alaikumussalam”

Setelah menanyakan nama lalu menanyakan asal sekolah.

“Dulu dari SDIT juga kah?”

“Tidak Bu, dari sekolah Negeri”

“Oo ya, ananda sudah sholat dhuha?”

“Sudah Bu,”

Kali ini adalah giliran Asesor ke 2 di kelas yang berbeda.

“Oo, dulu di SD sudah terbiasa sholat dhuha?”

“Belum Bu, karena saya dari sekolah Negeri, jadi ga pernah. Selama di MTs Alhamdulillah tiap hari”

Kembali kami tertegun, menahan sebak. Bulir air mata menetes dari pelupuk. Ya Rabb, sungguh besar karunia-Mu. Engkaulah yang menggerakkan hati hamba-hamba-Mu untuk ta’at pada-Mu. Tiada daya dan upaya kami melainkan dari-Mu. Semua guru yang mendengar ini menundukkan kepala. Kami tak melakukan persiapan apa-apa. Bahkan siswapun tak mengetahui bahwa hari itu adalah lisensi JSIT. Karena pembelajaran berjalan seperti biasa.

Yaa Rabb. Berikan kami kekuatan untuk selalu bisa mengarahkan diri ini, anak-anak kami dan anak didik kami untuk ta’at pada-Mu. Inilah bekal yang bisa kami lakukan yaa Allah. Kami tak punya materi, kami bahkan tak punya kuasa untuk merubah apapun. Yang kami punya adalah semangat dan sedikit bekal ilmu untuk mendidik generasi Islam menjadi generasi rahmatan Lil’alamiin…Aamiin Yaa Rabbal’alamiin. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : Syafri Maltos, M.Pd
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]