Sempat Ngutang Buat Beli Susu, Begini Kisah Kelam Sandiaga Uno


Senin, 05 April 2021 - 07:40:15 WIB
Sempat Ngutang Buat Beli Susu, Begini Kisah Kelam Sandiaga Uno Menparekraf RI, Sandiaga Salahuddin Uno (Foto: Instagram/@sandiuno)

HARIANHALUAN.COM - Sandiaga Salahudin Uno lahir pada 28 Juni 1969 di Rumbai, Pekanbaru. Ia merupakan anak dari Razif Halik Uno dan Mein R. Uno. Ayahnya awalnya bekerja sebagai karyawan di perusahaan Caltex di Riau. Setelah tidak bekerja lagi, ayahnya memboyong keluarganya ke Jakarta pada tahun 1970-an.

Sandiaga Uno yang kini menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) itu memulai pendidikannya di SD PKSD, SMP N Jakarta kemudian pindah ke SMA Katolik. Ia merupakan sosok yang cerdas, hal ini terbukti ketika ia kuliah di Wichita State University di Kansas, Amerika serikat, berhasil lulus dengan predikat Summa Cum Laude.

Baca Juga : Tim Indonesia Siap Pertahankan Gelar Juara di  ICAEW Virtual Business Challenge 2021

Selepas lulus dari Wichita State University, ia kemudian bekerja di Bank Summa milik William Soeryajaya. Karena kinerjanya yang cukup bagus di perusahaan, setahun kemudian ia menerima beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di George Washington University, Amerika Serikat. Ia menamatkan kuliahnya dengan meraih IPK sempurna 4.00 .

Suasana Washington jauh lebih nyaman dibanding Wichita karena lebih banyak pemukim Indonesia tinggal di sana. Di sini, Sandi mulai aktif dalam perkumpulan mahasiswa Indonesia di Amerika (PERMIAS).

Baca Juga : Maju Sebagai Calon Ketua Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid Fokus Pembenahan

Dalam perjalanan waktu, tiba-tiba Bank Summa mengalami kesulitan likuiditas yang berujung pada kasus kredit macet. William Soerjadjaja turun tangan mengambil alih kepemilikan Bank Summa hingga kemudian menjaminkan kepemilikan sahamnya di aset paling berharga keluarga Soerjadjaja, Astra.

Tetapi semua usaha yang dilakukan oleh William Soerjadjaja, yang pada akhirnya kehilangan kepemilikan di Astra, tidak bisa menyelamatkan Bank Summa. Dampaknya, beasiswa S-2 Sandi pun berhenti di tengah jalan.

"Di tengah kondisi buruk, saya nyaris tidak punya tabungan sebab semua uang sudah diinvestasikan. Sementara Atheera baru saja lahir. Ia memutuskan pulang bersama keluarga kecilnya ke Jakarta," katanya dikutip dari okezone.com.

Di Indonesia, statusnya ketika itu sebagai pengangguran. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mencari pekerjaan baru, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Lamaran pekerjaanya bahkan di tolak oleh 25 perusahaan. Hal inilah yang kemudian menjadi titik balik dari seorang Sandiaga Uno, ia kemudian merubah mindsetnya dari karyawan menjadi seorang pengusaha.

Pengalaman yang diterimanya kemudian ia coba pergunakan dengan mencoba membuat perusahaan bernama PT Recapital Advisors pada tahun 1997 yang bergerak di bidang jasa konsultan keuangan. Perusahaan tersebut ia dirikan bersama dengan teman SMA-nya yang bernama Rosan Perkasa Roeslani.

"Kantor pertama kami adalah sebuah ruangan bekas salon dengan cat warna pink. Tidak nyaman dengan kantor itu, kamu selalu bertemu dengan klien di luar kantor dengan beragam alasan yang mereka kemukakan pada klien," ucapnya.

"Saking tipisnya isi kantongnya, pernah satu kali Saya hendak meminjam uang untuk beli susu anak pada Rosan. Tapi ternyata Rosan juga sedang tidak punya uang dan juga berniat hendak meminjam pada dirinya," katanya seraya tersenyum.

Klien pertama mereka adalah Jawa Pos Grup. Pengalaman berkesan menangani Jawa Pos Grup adalah ketika ia harus menunggu Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Grup) selama berjam-jam di lobi.

Namun ketika Dahlan keluar ruangan, ternyata dia tidak punya cukup waktu untuk mendengar penawarannya secara lengkap. Maka jadilah Sandi menyampaikan penawarannya secara singkat selama tidak lebih dari tiga menit. Penawaran singkatnya tersebut disetujui oleh Dahlan.

Setelah itu mereka mendapat klien dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Sandi mereka tidak menerima bayaran dalam bentuk uang dari GKBI tetapi mendapatkan ruangan kantor di wisma GKBI yang lebih memadai.

"Saya mempunyai prinsip menjadi seorang pengusaha jangan menjadi orang yang ingin cepat kaya. Rahasia untuk menjadi pengusaha sukses adalah, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas," ungkapnya.

Setahun kemudian tepatnya pada tahun 1998, ia bersama Edwin Soeryadjaya kemudian mendirikan perusahaan Investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya.

Pada tahun 2009, nama Sandiaga Uno masuk dalam daftar orang terkaya ke-29 di Indonesia versi majalah Forbes. Peringkatnya turun menjadi ke-37 pada tahun 2011, dengan total kekayaan yang dimilikinya sebesar USD660 juta. Diketahui total kekayaan Sandiaga Uno sekitar Rp3,8 triliun berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LKHPN) pada September 2016. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : okezone.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]