Giliran Vaksin J&J Ditinjau karena Kasus Pembekuan Darah


Ahad, 11 April 2021 - 08:25:18 WIB
Giliran Vaksin J&J Ditinjau karena Kasus Pembekuan Darah Vaksin Johnson & Johnson

HARIANHALUAN.COM - Vaksin asal perusahaan Belgia, Johnson & Johnson (J&J) ditinjau ulang oleh regulator obat Eropa. Hal ini lantaran ada empat orang Amerika Serikat (AS) yang mengalami pembekuan darah usai disuntik vaksin tersebut.

Komite keamanan European Medicines Agency, juga telah melihat bagaimana vaksin Covid-19 AstraZeneca dikaitkan dengan kasus pembekuan darah yang sangat jarang terjadi dan mengatakan sekarang sedang meninjau laporan sindrom kebocoran kapiler pada orang yang diberi vaksin AstraZeneca.

Baca Juga : "Pantun Cerewet" Doni Monardo untuk Sadarkan Masyarakat

Dilansir dari Reuters, Johnson & Johnson (J&J), mengatakan pihaknya mengetahui laporan langka pembekuan darah pada orang yang diberi vaksin Covid-19, dan bekerja dengan regulator untuk mengecek data dan juga memberikan informasi yang relevan.

"Saat ini, tidak ada hubungan sebab-akibat yang jelas antara kejadian langka ini dan vaksin Janssen Covid-19," kata perusahaan itu dikutip dari Republika.

Baca Juga : Akhirnya, Penggunaan Vaksin Covid-19 untuk Anak-anak Disetujui

Badan Obat Eropa (EMA), mengatakan, dari empat kasus pembekuan serius dan trombosit rendah, tiga di antaranya terjadi di Amerika Serikat selama peluncuran vaksin J & J dari unit Janssen. Itu selain satu orang yang meninggal karena gangguan pembekuan yang dilaporkan dalam uji klinis J&J.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah mengetahui beberapa laporan individu yang mengalami pembekuan darah serius. Terkadang dikaitkan dengan rendahnya tingkat trombosit darah, setelah mereka menerima vaksin J&J, dan mencatat bahwa kondisi ini dapat memiliki banyak penyebab berbeda.

Baca Juga : Setelah Satu Bulan Wafat, Penyebab Pangeran Philip Meninggal Diungkap

"Kami belum menemukan hubungan sebab akibat dengan vaksinasi dan kami melanjutkan penyelidikan dan penilaian kami terhadap kasus-kasus ini. Analisis data kami akan menginformasikan kebutuhan potensial untuk tindakan regulasi," kata badan tersebut dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

Sejauh ini, sudah hampir 5 juta orang di Amerika Serikat telah menerima vaksin J&J pada Kamis pagi, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Baca Juga : Akhirnya! Melinda Ungkap Alasannya Gugat Cerai Bill Gates

Laporan dari Badan Obat Eropa (EMA) adalah yang pertama menyebutkan pemeriksaan pembekuan darah yang terkait dengan vaksin J&J. FDA mengatakan telah mengetahui pernyataan EMA dan memberikan data yang membentuk dasar laporannya kepada lembaga tersebut. 

Pernyataan EMA mengikuti penyelidikan pembekuan darah di otak yang dilaporkan oleh beberapa orang yang diberi vaksin AstraZeneca, yang telah mendorong beberapa negara Eropa untuk mengubah rekomendasi vaksin mereka. Dalam laporannya pada Jumat, komite keamanan EMA mengatakan pembekuan darah yang tidak biasa terkait dengan trombosit darah rendah harus terdaftar sebagai efek samping yang sangat langka dari vaksin AstraZeneca.

Ia juga mulai menyelidiki laporan sindrom kebocoran kapiler, yang menyebabkan pembengkakan pembuluh darah dan penurunan tekanan darah, pada lima orang yang menerima vaksin AstraZeneca.

Panel keamanan mengatakan belum jelas apakah ini terkait dengan vaksin. AstraZeneca tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Ian Douglas, Profesor Farmakoepidemiologi di London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan, laporan itu adalah bagian dari proses normal di mana komite keselamatan EMA meninjau sinyal keamanan penting saat muncul.

"Masih terlalu dini untuk mengomentari sinyal kebocoran kapiler dengan vaksin AZ, atau pembekuan dengan vaksin Janssen, tetapi dari apa yang telah kita lihat dalam beberapa minggu terakhir, PRAC (Pharmacovigilance Risk Assessment Committee) EMA pasti akan menilai semua bukti yang mereka miliki selengkap dan secepat mungkin,” ujarnya. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : Republika
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]