Benarkah Emas Bakal Makin Redup di Tengah Bitcoin Dkk yang Makin Berkilau?


Ahad, 11 April 2021 - 14:07:58 WIB
Benarkah Emas Bakal Makin Redup di Tengah Bitcoin Dkk yang Makin Berkilau? Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Salah satu komoditas yang sifatnya aset aman (safe haven) yakni emas sepertinya tak lagi seindah tahun lalu, di mana harga emas tak bertahan lama berada di level US$ 1.750/troy ons. Hanya dalam sehari emas berhasil melampaui level psikologis tersebut tetapi setelahnya kembali merosot.

Namun jika emas tak lagi berkilau seperti tahun lalu, adakah instrumen investasi lainnya yang mungkin bisa lebih berkilau dari emas? Jawabannya mungkin ada, namun bukan sebagai aset safe haven, melainkan aset berisiko tetapi potensi 'cuan' masih tinggi. Instrumen tersebut ialah mata uang kripto.

Baca Juga : Harga Emas Catat Minggu Terbaik dalam 6 Bulan

Meski masih banyak yang kontra dengan investasi di mata uang kritpo, tetapi tidak bisa dipungkiri harganya yang meroket menarik minat pelaku pasar.

Apalagi sejak terjadi pandemi penyakit virus corona (Covid-19) satu tahun silam yang membuat perekonomian global mengalami resesi, kinerja perusahaan-perusahaan tentunya dipertanyakan, yang berdampak pada harga sahamnya. Para pelaku pasar mencari investasi alternatif, dan mata uang kripto salah satu pilihannya.

Baca Juga : Philip Morris International Berhenti Jual Rokok Marlboro di Negara Matahari Terbit

Meroketnya harga mata uang kripto tidak lepas dari pergerakan bitcoin yang meroket. Penerimaan yang semakin luas, mulai dari investor institusional, perusahaan aset manajemen, bank investasi besar, hingga perusahaan-perusahaan raksasa seperti Tesla hingga Visa, menjadi pemicu meroketnya harga bitcoin.

Bahkan bank investasi raksasa kini menyediakan layanan bitcoin bagi para nasabahnya. Morgan Stanley menjadi bank besar pertama di AS yang memberikan layanan bitcoin ke nasabahnya. Meski tidak semua nasabah, bahkan yang kaya, bisa mendapatkan layanan tersebut.

Langkah Morgan Stanley tersebut kini diikuti rivalnya, Goldman Sachs. Mary Rich, head of digital assets Goldman Sachs kepada CNBC International mengatakan pada kuartal II-2021 Goldman Sachs menawarkan investasi bitcoin dalam "spectrum penuh", yakni bisa berupa investasi fisik, produk derivatif, ataupun sarana investasi tradisional.

Di akhir kuartal I-2021, bitcoin berada di level US$ 58.950,02/BTC, sementara di akhir 2018 US$ 3.810,7/BTC. Artinya selama 2 tahun dan 3 bulan, harga bitcoin meroket 1.446%.

Bahkan pada hari ini, harga bitcoin pun melesat 1,32% ke level US$ 60.555,97 atau kembali mencetak rekor dan menembus di atas $ 60.000 untuk kedua kalinya dalam 10 hari belakangan.

Kenaikan tajam Bitcoin tersebut membuat mata uang kripto lainnya juga terkerek naik. Ethereum, mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua setelah bitcoin, pada perode yang sama terbang hingga 1.334%.

Bahkan dogecoin, mata uang kripto yang pada awalnya diciptakan hanya sebagai lelucon meroket lebih tinggi ketimbang bitcoin pada saat itu.

Dogecoin dibuat oleh programme Jackson Palmer dan Billy Markus pada tahun 2013. Palmer pada tahun 2015 angkat kaki dari dogecoin dan saat itu mengatakan tujuannya hanya untuk lelucon dan tidak mau menghasilkan uang dari produk ciptaannya itu.

Namun nyatanya, sejak akhir 2018 hingga akhir kuartal I-2021, dogecoin justru meroket 2.190%.

Mata uang kripto (cryptocurrency), seperti Bitcoin, Ethereum, Dogecoin, dan cryptocurrency lainnya memang sedang jadi primadona di kalangan investor, terutama investor individu, karena menawarkan 'cuan' yang tebal dibandingkan dengan instrumen yang lainnya, termasuk emas.

Alhasil, karena sebagian besar investor beralih ke mata uang kripto tersebut, emas tak lagi berkilau seperti tahun lalu atau tahun sebelum-sebelumnya disaat krisis melanda.

Emas sebagai aset safe haven biasanya diburu ketika selera terhadap risiko pelaku pasar memburuk. Namun saat ekonomi bangkit, risk appetite pulih, emas cenderung dilepas oleh pemegangnya.


Emas Tak Lagi Berkilau?
Inilah yang membuat banyak orang mencari alternatif aset lain untuk lindung nilai (hedging). Salah satunya dengan membeli Bitcoin. Aset digital ini semakin populer di kalangan investor institusi.

Berdasarkan data dari bank investasi Wall Street, JPMorgan mencatat adanya outflow dari emas senilai US$ 20 miliar dan inflow ke Bitcoin mencapai US$ 7 miliar.

Hal ini menunjukkan bahwa mulai banyak investor yang agresif memburu risiko guna memperoleh cuan lebih tebal walaupun seringkali malah cenderung spekulatif.

Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global menjadi penyebab utama tren pergerakan emas cenderung biasa-biasa saja. Kenaikan yield mencerminkan kenaikan opportunity cost memegang emas sebagai aset yang tak memberikan imbal hasil apapun. Hal inilah yang menyebabkan mengapa emas cenderung ditinggalkan oleh investor.

Selain itu prospek perekonomian yang lebih cerah juga turut menahan harga emas dari apresiasi lanjutan. Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini menjadi 6%.

Di lain sisi, The Fed dalam risalah rapatnya masih akan tetap membeli obligasi pemerintah guna membantu menggeliatkan kembali perekonomian yang masih lesu. Suku bunga akan dibiarkan rendah untuk waktu yang cukup lama.

Inflasi akan meningkat memang. Namun The Fed mengatakan hal tersebut hanya akan bersifat temporer. The Fed akan terus berupaya membawa inflasi ke target 2% dan mengupayakan penciptaan lapangan kerja maksimal untuk perekonomian.

Dengan kebijakan The Fed tersebut sebenarnya ada peluang membuat dolar AS melemah. Saat dolar AS mengalami pelemahan terhadap mata uang lain, greenback juga cenderung melemah terhadap bullion. Namun dalam kondisi saat ini emas sebenarnya kekurangan katalis yang kuat untuk membantunya melesat.

Sementara itu, survei yang dilakukan oleh Kitco terhadap 16 analis Wall Street dan 807 investor di Main Street menunjukkan bahwa keduanya memiliki perbedaan pendapat.

Mayoritas analis Wall Street (50%) cenderung bearish terhadap emas pekan ini. Sementara itu mayoritas investor di Main Street (47%) cenderung bullish.

Namun, Well's Fargo pun memperkirakan harga emas bisa tembus US$ 2.200 per troy ons tahun ini. Sangat bullish memang mengingat rekor harga emas tahun lalu masih di level US$ 2.000. Pernyataan ini diungkapkan oleh Kepala Strategi Aset Riil bank tersebut John LaForge.

Salah satu pemantiknya adalah suplai emas yang cenderung defisien. Hal ini bisa memicu terjadinya reli harga emas.(*)

Editor : Nova Anggraini | Sumber : CNBCindonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]