Hak yang Sama Bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus untuk Belajar Daring


Selasa, 13 April 2021 - 08:45:40 WIB
Hak yang Sama Bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus untuk Belajar Daring murid SLB belajar membatik

HARIANHALUAN.COM - Sentuhan hangat dan panggilan sayang memaksa Tami agar segera bangun dari tidurnya. Sang ibu, saban pagi, memberikan perhatian lebih kepadanya agar semangat belajar tetap membara, meski dilakukan secara daring.

Tami, siswi kelas 8 Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) di Jakarta, memang tidak paham benar, mengapa pandemi Covid-19 membuatnya belajar dari rumah. Yang jelas, kegiatan seperti ini membuatnya sangat jenuh.

Baca Juga : Tahun 2021, Kuota KIP Kuliah Perguruan Tinggi Agama Tanggungjawab Kemenag

"Dia kalau dibangunkan itu suka susah, alasannya dia maunya berangkat ke sekolah," cerita Ibu Tami pekan lalu.

Ibu dari Tami bercerita, keengganan sang anak belajar secara daring menimbulkan perasaan dilematis. Sang ibu ingin agar Tami bisa kembali bercengkerama dengan teman-teman di sekolah.

Baca Juga : Peringati Dies Natalis ke- 1, Upertis Gelar Kegiatan Kesenian hingga E-sport

Barangkali, kata ibu Tami, jika beraktivitas di sekolah semangat sang anak belajar tentang kemandirian dan merangsang intelektualitas terus meningkat.

"Jadi, kendala terbesar saya bagaimana anak saya bisa semangat lagi belajar," ungkapnya.

Namun satu sisi, belajar secara daring disyukuri oleh ibu Tami. Sebagai orang tua dari anak tunagrahita, ia merasa sama sekali tidak mengetahui bagaimana proses pendidikan yang diterima sang anak selama di sekolah.

Dengan kebijakan belajar dari rumah, sebagai dampak pandemi Covid-19, ia merasakan betapa beratnya para pendidik dari murid luar biasa. Ia pun baru mengetahui pelajaran seperti apa yang diterima Tami selama di kelas.

"Sekarang lebih tahu pelajaran untuk anak-anak tunagrahita seperti apa, jadi peran orang tua di sini sangat penting dan tugasnya sama seperti guru," jelasnya dikutip dari merdeka.com.

Rasa jenuh juga dirasakan Nisa, siswi tunanetra kelas 7 SLBN di Jakarta itu ingin segera kembali ke sekolah. Menjalani hidup normal seperti dulu, tanpa dihantui khawatir terinfeksi virus Corona.

"Mau ke sekolah lagi," begitu ucapan lantang Nisa saat bercerita kepada merdeka.com melalui sambungan telepon.

Sang ibu berkata hal sama seperti Nisa, ingin agar kondisi cepat kembali pulih. Sebab, ia sedikit khawatir dengan latar belakang pendidikan tertinggi hanya Sekolah Dasar (SD), mempengaruhi pola pendidikan terhadap sang anak.

Ia pun berharap, daya belajar Nisa terus terjaga meski harus tertatih-tatih. Saat ini, Nisa masih belum lancar untuk membaca huruf braille.

"Saya hanya lulusan SD, jadi dampingi Nisa juga kurang telaten," kata Ibu Nisa.

Tantangan belajar dari rumah bukan saja tentang rasa jenuh, konektivitas internet menjadi masalah laten. Ibu Nisa membayar tagihan WiFi per bulan Rp 100 ribu untuk dua gawai. Fasilitas WiFi tersedia di rumah susun tempat Nisa dan keluarga tinggal.

Walhasil, lemotnya jaringan internet membuat kehadiran Nisa di kelas beberapa kali tidak tepat waktu. Kualitas rendah jaringan internet juga berlaku pada subsidi kuota internet dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Untuk meringankan beban selama belajar di rumah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan subsidi kuota internet kepada para pelajar. Nisa pun menjadi bagian yang mendapat subsidi itu.

"Tapi susah sekali dipakai, selalu muter-muter (loading) saja," ujarnya.

Kendala selama belajar dari rumah sejatinya tidak hanya dialami Tami dan Nisa. Murid berkebutuhan khusus yang tinggal di Jakarta pun masih belum sepenuhnya memiliki ponsel pintar.

Sihman, guru SLBN 8 Jakarta bercerita, bahwa setiap Senin ia harus berkunjung ke rumah 2 muridnya yang tidak memiliki ponsel pintar, untuk menopang pembelajaran. Jarak rumah antar dua murid tersebut diakui Sihman cukup jauh.

Guru yang tengah menempuh gelar magister itu mengampu 10 murid. Sebanyak 4 murid memiliki fasilitas penunjang belajar online, 4 murid lainnya harus bergantian gawai, sedangkan 2 lainnya tidak memiliki akses gawai.

"Makanya setiap Senin saya home visit untuk pembelajaran selama satu minggu," ujar Sihman.

Dari total 116 murid SLBN tempat Sihman mengajar, masih ada sekitar 20 persen belum memiliki fasilitas ponsel pintar. Untuk itu, kebijakan home visit seperti dilakukan Sihman, sebagai upaya agar para murid tetap mendapat hak pendidikan di tengah himpitan akses.

Sihman menganggap, pandemi merupakan titik balik komunikasi antar guru dan orang tua terhadap perkembangan anak. Sebab, selama belajar daring peran orang tua sebagai pendamping anak sangat besar.

"Kendala belajar daring pasti ada tetapi kita tetap tidak boleh patah semangat dan sampai sekarang alhamdulillah orang tua tetap bersemangat untuk mendampingi putra-putrinya di pembelajaran daring ini," kata Sihman.

Meski 85 sekolah di Jakarta sedang melakukan uji coba pembelajaran tatap muka. Sihman menyatakan pihak sekolah belum mempertimbangkan langkah tersebut dalam waktu dekat.

"Karena anak-anak berkebutuhan khusus itu tentu tidak sama yah dengan anak-anak bersekolah di sekolah reguler tapi seandainya kita diminta untuk tatap muka insya allah kita tetap siap," tandasnya.

Satu syarat dari uji coba pembelajaran tatap muka yaitu para guru telah mendapat suntikan vaksin Covid-19. Namun, muncul pertanyaan bagaimana dengan para murid SLB dengan memiliki kebutuhan khusus.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan hingga saat ini belum ada keputusan vaksinasi terhadap anak-anak. Namun ia menegaskan, tidak ada perlakuan berbeda penyuntikan vaksin terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

"Semua kelompok, tentu pada waktunya kalau vaksin pada anak sudah bisa digunakan. Kita menunggu rekomendasi WHO tentang vaksinasi pada anak dan vaksin apa saja yang bisa digunakan," ujar Nadia.

"Tidak ada pembeda (vaksinasi anak-anak berkebutuhan khusus)," kata Nadia.

Dengan pendapat dokter Nadia tidak ada perbedaan kategori anak-anak terhadap vaksin, para murid SLBN tetap memiliki kesempatan kembali bertatap muka dengan para kawan dan guru di kelas.

Upaya pencegahan penularan Covid-19 di lingkup SLB merupakan tanggung jawab guru, orang tua, dan para pemangku kebijakan. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : merdeka.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]