Prosesi Ramadan Menuju Ketaqwaan


Selasa, 13 April 2021 - 21:39:31 WIB
Prosesi Ramadan Menuju Ketaqwaan Afri Yendra

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (qs. Albaqarah 183)

Baca Juga : Tim Sapa Ramadan Akhiri Perjalanan ke-19 Kabupaten/Kota, Bagi-bagi THR pada Anak Yatim

Oleh Afri Yendra - PPSDM Kemendagri Reg Bukittinggi

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan yang amat mulia, saking mulianya bulan ini maka Allah SWT panggil orang yang mulia pula yaitu orang yang beriman. Kenapa Allah tidak panggil manusia atau Muslim untuk berpuasa?  Tentu banyak argumen dapat dilontarkan untuk menjawabnya salahsatunya adalah “ agenda besar dengan tujuan besar tentu hanya dihadiri oleh orang orang tertentu saja.

Baca Juga : Hujan di Penghujung Ramadhan

Seperti kalau ada acara biasa-biasa saja, maka semua orang bisa hadir, tetapi kalau agenda khusus berupa “Temu Ahli keilmuan untuk mendapat satu penemuan”  tentu yang diundang orang orang yang ahli saja. Begitupula kiranya Ramadhan, bulan yang teramat mulia bagi Allah sampai pahala Allah yang menentukan seperti dinukilkan dalam hadits Rasulullah dalam Hadits Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Masya Allah, Ramadhan langsung Allah yang membalas karena “Puasa adalah Untuk-Ku” berarti ini bulan MilikNya. Seandainya sesuatu hidangan akan kita persembahkan untuk Presiden saja maka pasti akan dibuat oleh Tim yang telah teruji. Apalagi Allah katakan ini untuk-Ku, untuk Allah sang Khaliq, Allahu Akbar. Ramadan adalah bulan Proses yang penuh prosesi ibadah, dengan bahan bakunya atau inputnya adalah Iman yang akan menghasilkan atau output/produk ketaqwaan. 

Mutu sebuah produk (ketaqwaan) ditentukan oleh kebaikan sebuah  input (iman) dan kesempurnaan proses (amalan ramadhan). Ada dua  hal utama yang menentukan pencapaian puncak tertinggi dihadapan Allah yaitu Taqwa,  pertama adalah “Orang beriman” yang Allah panggil berpuasa, kedua, Kemuliaan  bulan Ramadhan dengan berbagai amalan didalamnya, yang bulan ini menghantarkan orang beriman sampai kepuncak kesempurnaan disisi Allah adalah Taqwa.

A. Orang Beriman. 
Sebagaimana disebutkan diatas orang beriman telah dilabel oleh Allah SWT sebagai manusia pilihan untuk memasuki agenda besar di Bulan Ramadhan, ia sudah melalui penyaringan yang amat ketat oleh Allah. Berawal ia dari manusia biasa maka Allah angkat dengan karuniaNya dan manusia itu  ikhlas mengikuti sunnah-sunnahNya maka ia Allah nobatkan ia sebagai seorang Muslim, ketika sebagai seorang muslim ia teruji dengan segala ujiannya maka baru Allah angkat menjadi orang beriman, baru ini boleh mengikuti Bulan Suci Ramadhan.

Diantara karakter dan sifat manusia yang dijadikan sebagai orang beriman,  adalah Kesatu adalah Rasa takutnya terhadap Allah SWT.  Seperti yang dijelaskan dalam Q.S Al-Anfal : 2 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang bila disebut nama Allah Subhanahu Wata’ala gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” 

Kenapa Rasa takut kepada Allah sebagai tolok ukur utama seorang yang beriman untuk menjalankan amalan puasa ramadhan? Karena  Puasa adalah menahan godaan hawanafsu dalam segala macam komplesitasnya. Ramadhan yang memiki bermacam macam ibadah didalamnya dibutuhkan rasa takut, rasa diawasi oleh Allah saja, kalau tidak maka ibadah puasa akan batal.

Kedua adalah Seseorang yang telah memiliki keimanan yang kuat akan lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah sholat, baik wajib atau sunnah meski banyak gangguan. Allah Ta’ala berfirman,  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya (Q.S. al-Mukminum 23:2), didalam bulan Ramdhan dikhususkan Ibadah sholat Khusus Ramdhan dimalam hari dengan rakaat yang banyak yang bernama sholat Tarwih, maka orang yang khusuk ia akan mampu menikmati ibadahnya.

Ketiga Menjauhkan Diri dari Kegiatan yang Sia-sia. Orang beriman tidak akan melakukan hal yang sia-sia atau tidak bermanfaat. Dirinya justru akan sibuk melakukan urasan ibadah yang akan menambah keimanannya. Allah Ta’ala pun berfirman: وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ‎
Artinya: dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia (Q.S. Al-Mukminun 23: 3)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ‎
Artinya: “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalam bulan suci Ramadhan, orang beriman telah meninggalkan pekerjaan yang tidak bernilai ibadah yang akan mempu mebgurangi nilai ibadan malah bisa menghapuskan nilai ramadhan dalam dirinya.  

Keempat adalah Senang dengan  ayat Al-quran,  Bukan hanya itu, keimanan dalam hati mereka juga semakin bertambah ketika mendengar ayat-ayat Allah SWT. Allah Ta’ala pun berfirman: وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا‎
Artinya: “dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya)” (QS. Al-Anfal: 2)

Salah satu keutamaan Ramadhan adalah diturunkannya Alquran, maka peserta ramadhan haruslah orang-orang menggunakan waktu untuk membacaya, memahami sisinya dan serta mengamalkannya. Kalau tidak maka tidak sempurnalah Ramadhan dalam dirinya.

Kelima  adalah Sabar,  seberat dan sesullit apapun ujian yang diberikan, maka dirinya akan selalu bersabar menghadapinya. Allah SWT berfirman dengan artinya yang berbunyi: “Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah : 177)

Ramadhan dengan kesabaran adalah seperti dua sisi mata uang, uang akan bernilai kalau kedua sisi yaitu Puasa dan Sabar. Bacaan godaan dan rintangan dalam ramadhan maka sabar adalah Kekuatan untuk melawannya. Itulah lima diantara alasan kenapa Allah hanya khususkan ramadhan untuk yang beriman saja disampaing banyak alasan dan argumen lainnya.

B. Ramadhan
Ramadhan bulan yang mulia, yang Allah panggil manusia beriman saja untuk mengikuti rangkaian aktivitasnya dengan tujuan yang amat besar yaitu Taqwa. Bagaiman proses ramadhan bisa menghantarkan orang beriman menjadi Taqwa. Ini ditentukan seberapa sempurna Ramadhan dilaksanakan dengan SOP (Standar Operasional Prosedur). SOP Ramadhan berisikan Waktu, Aktivitas, dan pola pelaksanaannya.

Selama 30 (tiga puluh) hari ramadhan memproses sesuai dengan kaidah (SOP) yang benar insha Allah akan menghasilkan mutu ketaqwaan seseoarang. Persoalan yang muncul adalah Kaidah atau SOP Ramadhan tidak terlaksana sebagaimana Mestinya. Sekilas, nampak sederhana kita menuju ketaqwaan itu kalau kita laksanakan dengan petunjuk yang sesuai ditetapkan oleh Allah SWT, dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan diamalkan oleh para ulama-ulama kita.

Proses Ramadhan akan berjalan seperti Rel Pabrik sebuah produk, ia punya sistem, SOP yang harud ditaati oleh semua unsur yang terlibat. Ukuran (SOP) sederhananya adalah Waktu dan Aktivitas. Selama 24 Jam 30 hari Ramadhan memproses seorang mukmin menjadi Muttaqin. Banyak Prosesi Ramadhan dikemukan oleh para ulama/Ustadz kita, diantara adalah  Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal yang kita cobakan sesuai dengan waktunya sebagai berikut :

  • Bangun tidur dan segera berwudhu, tujuannya agar terlepas dari ikatan setan.  Lakukan shalat tahajud walaupun hanya dua rakaat. Lalu menutup dengan shalat witir jika belum melakukan shalat witir ketika shalat tarawih.Setelah shalat, berdoa sesuai dengan hajat yang diinginkan karena sepertiga malam terakhir (waktu sahur) adalah waktu terkabulnya doa.
  • Lakukan persiapan untuk makan sahur lalu menyantapnya. Ingatlah, dalam makan sahur terdapat keberkahan.  Waktu makan sahur berakhir ketika azan Shubuh berkumandang (masuknya fajar Shubuh). Sambil menunggu Shubuh, perbanyak istighfar dan  membaca Al-Qur’an.
  • Bagi yang berada dalam keadaan junub, maka segera mandi wajib. Namun masih dibolehkan masuk waktu Shubuh dalam keadaan junub dan tetap berpuasa. Termasuk juga masih boleh masuk waktu Shubuh belum mandi suci dari haid.
  • Wajib bagi yang berpuasa menahan diri dari makan dan minum serta pembatal puasa lainnya mulai dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelamnya matahari.
  • Ketika mendengar azan Shubuh lakukanlah lima amalan berikut: Mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muazin. Bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendengar azan: Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad atau membaca shalawat ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat tasyahud. Minta pada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah:  llahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah. Lalu membaca: Asyhadu Alla Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarika Lah Wa Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuluh, Radhitu Billahi Robbaa Wa Bi Muhammadin Rosulaa Wa Bil Islami Diinaa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. Memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. (Lihat Jalaa’ Al-Afham, hlm. 329-331)
  • Melaksanakan shalat Sunnah Fajar sebanyak dua raka’at. 
  • Melaksanakan sholat Shubuh berjamaah di masjid bagi laki-laki dan berusaha mendapatkan takbir pertama bersama imam di masjid. Sedangkan shalat terbaik bagi wanita adalah di rumah, bahkan di dalam kamarnya.
  • Setelah melaksanakan shalat sunnah, menyibukkan diri dengan berdoa dan membaca Al-Qur’an. Ingat bahwa doa antara azan dan iqamah adalah doa yang terkabul.
  • Setelah shalat Shubuh berdiam di masjid untuk berdzikir seperti membaca dzikir pagi-petang, membaca Al-Qur’an dengan tujuan mengkhatamkannya dalam sebulan, atau mendengarkan majelis ilmu hingga matahari meninggi (kira-kira 15 menit setelah matahari terbit). "Ketika matahari meninggi tadi, lalu melaksanakan shalat isyraq dua raka’at yang dijanjikan pahalanya haji dan umrah yang sempurna," kata Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal dikutip laman Rumasyo, Jumat (9/4/2021).
  • Sejak fajar menjalankan rukun dan tidak melakukan pembatal-pembatal puasa.
  • Laksanakan Zikir Pagi.
  • Saat puasa, meninggalkan hal-hal yang diharamkan yaitu berdusta, ghibah, namimah (adu domba), memandang wanita yang tidak halal, dan mendengarkan musik.
  • Melakukan shalat Dhuha minimal dua raka’at.  Memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan.  Memperbanyak membaca Al-Quran, bahkan berusaha mengkhatamkannya di bulan Ramadhan.
  • Tetap beraktivitas dan bekerja seperti biasa. Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan dengan tangan sendiri.
  • Menjelang Zhuhur menyempatkan untuk tidur siang walau sesaat. Tidur seperti ini disebut qoilulah.
  • Ketika azan Zhuhur, melakukan lima amalan ketika mendengar azan sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
  • Melakukan shalat rawatib Zhuhur dan shalat Zhuhur berjamaah (bagi laki-laki) dan bagi wanita lebih baik shalat di rumah. Shalat rawatib berusaha dirutinkan 12 raka’at dalam sehari.
  • Menyiapkan makan berbuka puasa. Suami berusaha membantu pekerjaan istri di rumah.
  • Melaksanakan shalat sunnah qabliyah Ashar dua atau empat rakaat.
  • Mempersiapkan makanan buka puasa untuk orang-orang yang akan berbuka di masjid-masjid terdekat. Atau bisa menjadi panitia pengurusan buka puasa di masjid.
  • Bermajelis menjelang berbuka.  Sibukkan diri dengan doa ketika menunggu berbuka.
  • Memenuhi adab-adab berbuka dan adab-adab makan saat berbuka: Menyegerakan berbuka puasa Berbuka dengan ruthab, tamer atau seteguk air. Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar bertambah berkah Berdoa ketika berbuka “‘Dzahabazh Zhoma-U Wabtallatil ‘Uruuqu Wa Tsabatal Ajru Insya Allah (Artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)”
  • Memanfaatkan waktu berbuka puasa untuk berdoa, Memberi makan pada yang berbuka puasa. Mendoakan orang yang beri makan berbuka Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘BISMILLAH’ Berdoa sesudah makan dengan minimal membaca ‘ALHAMDULILLAH’
  • Menjawab azan yang masih berkumandang, lalu berdoa setelahnya.  Menunaikan Sholat Maghrib berjamaah di masjid bagi laki-laki, kemudian  mengerjakan shalat sunnah rawatib ba’diyah Maghrib.
  • Membaca dzikir petang.
  • Makan hidangan berbuka puasa, bersama dengan keluarga dengan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.
  • Mempersiapkan shalat Isya dan Tarawih dengan berwudhu, memakai wewangian (bagi pria), dan berjalan ke masjid
  • Menjawab muadzin, melaksanakan shalat Isya berjamaah di masjid, dan melakukan shalat sunnah rawatib ba’diyah Isya.
  • Melaksanakan shalat tarawih berjama’ah dengan sempurna di masjid, dan inilah salah satu keistimewaan Ramadhan. Banyak hadits yang menerangkan keutamaannya, di antaranya, “Siapa yang melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) atas dasar iman dan mengharapkan pahala dari Allah niscaya dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)
  • Tidak pergi hingga imam selesai agar dituliskan pahala shalat semalam suntuk, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seseorang shalat Tarawih bersama imam hingga imam selesai, maka dianggap (dicatat) melakukan shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud)
  • Membaca doa setelah shalat Witir. Melakukan tadarus Al-Qur’an dengan jumlah yang terukur.
  • Jika tidak ada keperluan mendesak di malam hari, tidur lebih awal agar bisa bangun di sepertiga malam terakhir. Tidak begadang kecuali jika ada kepentingan mendesak.

Inilah proses Ramadan dengan SOP yang baik yang akan menghasilkan Ketaqwaan. Semoga. (bersambung : Taqwa)

Editor : Agoes Embun
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]