Taubatan Nasuha


Rabu, 14 April 2021 - 16:00:36 WIB
Taubatan Nasuha Afri Yendra, S.H., M.H

HARIANHALUAN.COM - "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. At-Tahrim ayat 8).


Oleh Afri Yendra
Widyaiswara PPSM Kemendagri Regional Bukittinggi

Baca Juga : PKDI Resmi Dideklarasikan di Pondok Pesantren Ihya Qalbun Salim

Manusia tak luput dari kesalahan dan kekhilafan, perbedaannya hanya pada besar kecil, banyak sedikitnya kesalahan itu. Namun Allah SWT sang maha Pengampun, ampunannya jauh lebih besar dari kesalahan kita, maka sebaik baik kita manusia adalah senantiasa memohonkan ampunan segala dosa dosa kita. Allah senang melihat hambaNya yang bertobat dengan sungguh-sungguh, menghiba dihadapan sajadah, menyampaikan rasa penyesalannya, berjanji tidak akan mengulanginya dan ditutpi dengan amal amal ibadah. Jika ada hubungan dengan manusia maka ia harus meminta maaf kepada Orang yang dizholiminya.
Taubat adalah kembalinya seseorang dari perilaku dosa ke perilaku yang baik yang dianjurkan Allah. Taubat Nasuha adalah taubat yang dilakukan dengan Betul-betul di atas dosa-dosa besar yang pernah dilakukan di masa lalu. Taubat Nasuha ini adalah jalan terbaik yang ditunjuk-kan oleh Allah SWT sebagai cara agar hamba-Nya berusaha untuk memperbaiki diri atas dosa, maksiat, dan kesalahan yang telah mereka lakukan pada masa yang lalu.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam Taubatan Nasuha adalah Me-Muhasabah Diri/Mengevaluasi, mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan memohon ampun kepada Allah. 
1.    Muhasabah Diri
Muhasabah diri atau menghisab diri atau juga mengevaluasi diri, artinya manusia melakukan proses  merenungkan atas kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa yang pernah diperbuat. Sebesar atau sekecil apa pun dosa yang diperbuat, akan memengaruhi hati manusia pada akhirnya akan memengaruhi perilakunya, kemudian perilaku yang menentukan bahagia  atau sengsaranya kita,––semua ada pada perilaku perenungan dan penghayatan dirinya, apa yang salah dan selama ini bernilai dosa di hadapan Allah. Tanpa melakukan proses perenungan dan penghayatan akan kesalahan diri, maka manusia nantinya tidak akan menemukan apa saja kekeliruan dia selama ini. Untuk itu dibutuhkan proses evaluasi diri yang baik dan mendalam.
Muhasabah diri mesti dengan penuh kejujuran untuk menguak misteri yang menutupi dan membelenggu jiwa atau hati kita. Apabila proses ini terlaksana maka ia akan menemukan jalan tol utama kebahagiaan melalui Hidayah Allah Swt. yang gerbangnya disebut dengan Insaf.

2.    Mengakui Kesalahan
Mengakui kesalahan adalah awal langkah untuk meminta ampunan kepada Allah Swt.. Mengakui kesalahan artinya adalah kita mengakui atas apa hasil muhasabah/evaluasi diri kita atau apa yang disampaikan orang lain kepada kita, atas perbuatan yang buruk. Tanpa mengakui kesalahan, manusia dalam memohon ampun tidak akan benar-benar melakukannya dengan serendah-rendahnya atau dengan posisi yang benar-benar berserah diri kepada Allah Swt.. Untuk itu, pengakuan kesalahan adalah langkah awal untuk melakukan Taubatan Nasuha.

Baca Juga : Ramadan Brand Berbagi 2021, Berbagi untuk 1.000 Kebaikan 

3.    Memperbaiki Kesalahan
Setiap orang yang bertaubat maka kualitas tobatnya terlihat dari kadar ia memperbaiki kesalahannya melalui amal amalan yang berbeda dengan kesalahan masa lampaunya. Seumpama dia kerap mendatangi para Dukun untuk suatu jabatan, maka upaya memperbaikinya adalah pasrah secara total dari kehendak Allah dan meyakini segala sesuatu telah Allah gariskan. Tidak hanya itu ia akan menambah-nambah amalan salehnya untuk menu-tupi kesalahannya pada masa lampau.
 Kalau selama ini kehidupan didasarkan duniawi saja tetapi dia perbaiki dengan pola ada akhirat tempat hidup kita selama-lamanya. Kemudian dia akan menjadi pejuang agama Allah. Dia bantu gerakan-gerakan agama (yang mungkin selama ini dia salah melabel––miss labeling––dalam bidang apa pun, dia jadi tokoh penggerak dalam hal agama. Inilah realita taubatan nasuha sesungguhnya.

4.    Istigfar
Rasulullah saw. bersabda: 
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطّائِيْنَ التَّوَّابِيْنِ
“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. at-Tirmidzi no. 2499)
Istigfar adalah pokok utama sebuah taubatan nasuha.
Istigfar adalah merupakan permohonan ampunan dari manusia selaku hamba yang memiliki sifat ketergantungan kepada Allah. Istigfar ditujukan kepada Allah semata tidak kepada yang lain, secara langsung tanpa perantara.
Istigfar, kalimat yang sangat pendek tetapi memiliki makna yang sangat dahsyat, sangat dalam, dan sangat indah dalam hidup kita. Kita mengucapkan kalimat thayyibah “Astaghfirullah al-`Azhim” ketika kita berbuat kesalahan dan dosa.
“Astaghfirullah al-`azhim”. Ungkapan kalimat tersebut sebagai perwujudan sikap menyesal atas kesalahan atau dosa yang dilakukan. Dengan kata lain ucapan kalimat thayyibah Astaghfirullah al-`Azhim merupakan bentuk taubat seseorang. Karena Astaghfirullah al-`Azhim artinya “aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung”.
Untuk mengatasi belenggu hati kita dari kesyirikan maka harus banyak banyak istigfar,  karena Nabi Muhammad saw. yang ma’shum dan dijamin masuk surga saja setiap sehari malam membaca istigfar 70 kali. Bahkan ada yang menyebutkan 100 kali, sebagaimana sabdanya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia, bertobat (beristigfar)lah kepada Allah karena aku selalu bertaobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Apalagi kita manusia yang kerap bergelimang dosa, bagaimana mungkin tidak memohon ampun (beristigfar) dalam sehari minimal 100 (seratus) kali.
Cara Istigfar
Agar dalam mengucapkan kalimat tayyibah istigfar  dapat memberikan manfaat, yakni terampuni kesalahan dan dosa kita dan melepaskan hati kita dari belenggu kesyirikan, maka perlu perhatikan tata caranya berikut:
1.    Mengerti dam memahami makna kalimat thayyibah (Astaghfirullah al-`Azhim).
2.    Meyakini hikmah mengucapkan kalimat thayyibah (Astaghfirullah al-`Azhim).
3.    Membiasakan diri mengucapkan kalimat thayyibah (Astaghfirullah al-`Azhim).
4.    Ketika melakukan kesalahan atau dosa, segera mengucapkan kalimat thayyibah (Astaghfirullah al-`Azhim). Termasuk ketika melihat orang lain berbuat kesalahan atau dosa.
5.    Di dalam mengucapkan kalimat thayyibah (Astaghfirullah al-`Azhim) dilakukan secara ikhlas dan terus menerus.

Semoga Allah Swt. senantiasa menuntun kita agar senantiasa bertobat sehingga terlepas hati kita dari belenggu kesyirikan.

(Diambil dari beberapa sumber antara lain buku “Rekonstruksi Hati” karangan Afri Yendra.)

Editor : Heldi Satria
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]