Jadi Kontroversi, Peneliti Vaksin Nusantara Buka-bukaan


Kamis, 15 April 2021 - 10:55:18 WIB
Jadi Kontroversi, Peneliti Vaksin Nusantara Buka-bukaan Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Hari Rabu kemarin, sejumlah anggota DPR mendatangi RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Mereka mengikuti proses screening untuk ikut penelitian fase II dari Vaksin Nusantara.
"Tadi itu hanya kita screening layak ikut penelitian atau tidak. 

Kemudian kalau layak ikut penelitian berdasarkan screening diambil darahnya untuk diproses nanti setelah 7 hari, hari ke-8 kita suntikkan," kata Peneliti utama vaksin Nusantara, Jonny dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (14/4/2021).

Baca Juga : Ketua KASN Imbau Seluruh PNS Patuhi Larangan Mudik

Dia menjelaskan yang mengikuti screening ada kurang lebih 30 orang. Bagi yang lolos akan diambil darahnya.

Darah tersebut akan diambil sel darah putihnya. dan diinkubasi untuk dijadikan sel dendiritik lali diperkanlakn dengan protein. Jonny menjelaskan protein tersebut bukan dari virus melainkan mirip dengan permukaan virus.

Baca Juga : Cegah Penyebaran Covid-19, Menkominfo Ajak Masyarakat Lebaran Digital Tahun Ini

Menurutnya saat seseorang terkena Covid-19, maka tubuh akan bereaksi untuk mempersiapkan mengenali virusnya. Setelah mengetahui ada benda asing yang masuk maka akan dimusnahkan.

Jika pertahanan baik maka akan menang dari virusnya. Sel-sel tersebut akan memiliki memori terhadap virus Covid-19.

"Sehingga kalau dia datang lagi 'oh udah kena ini mah saya hajar'. Ini kita memotong Orang itu enggak kena, kenal dulu si sel-sel tubuh itu. Jadi enggak perlu harus terinfeksi dulu dong untuk jadi kebal gitu loh," jelasnya.

Untuk fase II ini akan melibatkan 180 subyek, dan jika sesuai jadwal dan hasilnya bagus maka akan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Fase III diperkirakan sudah bisa dimulai awal Juni dengan 1600 subyek.

Saat ditanya mengenai permasalahan yang masih membelit dengan BPOM, Jonny meminta untuk tidak ditanyakan pada dirinya. Menurutnya sebagai peneliti tidak akan sembarangan meneliti. Dalam penelitian ini, dia mengaku diawasi oleh lembaga independen dan bukan berasal dari RSPAD.

"Dalam hal ini namanya clinical research organizer. CRO saat ini yang memonitoring penelitian kita agar n memenuhi standard internasional sesuai dengan kaidah etik dan penelitian secara internasional itu prodia," jelasnya.

Dia juga mengatakan kalau diaudit akan siap. Menurutnya penelitian ini tidak ada yang maneh dan tidak perlu untuk diperdebatkan.

"Sebetulnya enggak ada yang aneh dari penelitian ini kalau menurut saya. Dan enggak ada yang perlu diperdebatkan. Yang penting adalah dasar teori jelas, kalau tidak masuk akal enggak mungkin masuk listing WHO itu aja patokan kita," jelasnya.

Vaksin Nusantara menjadi kontroversi karena BPOM tak mengizinkan pelaksanaan uji klinis tahap II karena belum memenuhi aturan yang ada. Namun penelitian masih dilanjutkan. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : CNBC Indonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]