Apa Arti dan Tujuan Hidup Kita?


Sabtu, 17 April 2021 - 09:42:36 WIB
Apa Arti dan Tujuan Hidup Kita? Afri Yendra

“Wahai orang sibuk dengan dunia,
Sungguh ia telah tertipu oleh panjang angan-angan,
Atau selalu berada dalam kelalaian sehingga ajal mendekatinya,
Kematian itu datang tanpa pemberitahuan
Balasan amal perbuatan menanti di-alam kubur
Bersabarlah dalam menghadapi kesusahan dunia
Sebab tiada kematian kecuali jika ajalnya
(penyair dari Nashaihul ibad)

Oleh: Afri Yendra - Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi.

Baca Juga : Tim Sapa Ramadan Akhiri Perjalanan ke-19 Kabupaten/Kota, Bagi-bagi THR pada Anak Yatim

Dunia adalah Tipuan belaka (Matta’ul Ghurur), ia sangat menipu sehingga kita lupa tujuan hidup sebenarnya adalah beribadah kepada Allah (liya’budun) untuk mencapai kehidupan abadi di Akhirat. Sesungguhnya dunia bukan tempat tinggal tetapi tempat kita meninggal.

Namun karena tipuannya yang memperdaya maka sungguh banyak manusia yang masuk perangkapnya, menyibukkan diri untuk dunia yang akan ditinggalkannya,  tetapi terlalu sedikit bekal yang akan dibawanya untuk kehidupan dimana kita tinggal abadi

Baca Juga : Hujan di Penghujung Ramadhan

Langkah utama adalah menentukan tujuan hidup, adalah langkah yang tepat agar kita tidak masuk perangkap tipuan dunia ini, barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup maka semua urusan akan selesai dengan nyaman. 

Lalu apakah sesungguhnya tujuan hidup manusia? "Apa arti dan tujuan hidup?" Ini, mungkin, pertanyaan paling penting yang pernah diajukan. Sepanjang zaman, para filsuf menganggapnya sebagai pertanyaan paling mendasar. Ilmuwan, sejarawan, filsuf, penulis, psikolog, dan orang awam semuanya bergulat dengan pertanyaan di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Sehingga kedalaman ia mengetahui tujuan hidupnya maka semakin tinggi ia memperoleh kebahagiaan hidup.

Bagi seorang muslim,  Allah telah memberikan jawaban tentang tujuan hidup kita dalam Alquran dengan sangat jelas “Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)

Dalam perspektif lain disebutkan bahwa tujuan hidup manusia adalah adalah menggapai ridha Allah SWT. Maka, salah satu cara agar kita bisa menggapainya ialah dengan beribadah kepada-Nya.

Jelaslah sudah bahwa manusia diciptakan Allah untuk suatu tujuan yang besar dan misi yang penting yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala semata. Pengertian ibadah sangatlah luas dan tidak hanya terbatas pada ritual-ritual khusus semata. Semua aktivitas manusia yang dilakukan dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan sejalan dengan ridha Allah maka ia termasuk ibadah.

Dalam islam konsep ibadah sangat lengkap yaitu ibadah mahdhah dan ibadah muamalah atau ibadah ghairu mahdhah. Ibadah Mahdhah secara istilah adalah ibadah yang secara umum tidak dapat diwakilkan, seperti ibadah badaniyah.Apa itu ibadah badaniyah? Ibadah badaniyah adalah ibadah murni yang berupa gerakan fisik, tanpa dicampuri komponen lainnya. Untuk hal ini, contohnya yaitu salat dan puasa.

Beda dengan ibadah Mahdhah, ibadah Ghairu Mahdhah secara umum dapat diwakilkan oleh oang lain, yang meliputi ibadah maliyah mahdhah dan ibadah maliyah ghairu mahdhah. Ibadah maliyah mahdhah adalah ibadah yang menyangkut urusan harta, seperti sedekah dan zakat. Sedangkan ibadah maliyah ghairu mahdhah adalah ibadah yang terdapat kaitanya dengan harta, namun juga terkandung gerakan fisik di dalamnya. Dalam hal ini, seperti haji dan umrah.

Ibadah lainnya yang kerap dengan ibadah Mu’amalah meliputi segala aspek Humanis dan sosial kemasyarakatan seperti tolong menolong, hubungan silaturrahmi, adab adab bertetangga dan lainnya.  Pada prinsipnya ibadah adalah tujuan hidup manusia sebagai tujuan untuk akhirat tanpa meninggalkan tujuan dunia.

Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar  bersabda,

(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah, hina (tidak bernilai di hadapannya)“

Orang yang cinta kepada akhirat akan memperoleh rezki yang telah Allah tetapkan baginya di dunia tanpa bersusah payah, berbeda dengan orang yang terlalu berambisi mengejar dunia, dia akan memperolehnya dengan susah payah lahir dan batin. Karena kekayaan itu bukan dukur dengan berapa jumlah hartabenda yang kita miliki namun Kekayaan yang hakiki adalah kekakayaan dalam hati/jiwa. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (dalam) jiwa“

Salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)“.
Dengan demikian tatkala kita memahami tujuan hidup kita adalah ibadah, maka konsekwensinya adalah semua urusan diserahkan untuk Allah sebagai bekal kehidupan abadi di akhirat, dengan janji Allah mereka akan Allah cukupkan kebutuhan dunia, “sesungguhnya janji Allah itu pasti”.
(kutipan dari berbagai sumber)
 

Editor : Rahma Nurjana
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]